Lelaki itu datang ke open kabupaten kedua bukan untuk bermain. Ia datang membawa kursi lipat sendiri, menaruhnya di sudut balai desa, dan duduk di sana sepanjang turnamen dengan koran terlipat di pangkuan yang tak pernah benar-benar ia baca. Rambutnya putih di pelipis, kemejanya disetrika rapi meski sudah tua, dan matanya—Galih memperhatikan ini sejak babak pertama—mengikuti papan Galih, hanya papan Galih, seperti orang yang sedang membaca sesuatu yang tertulis dengan tinta yang hanya bisa ia lihat.
Namanya Pak Sastro. Orang-orang tua di kabupaten masih ingat. Dua puluh tahun lalu ia juara provinsi tiga kali berturut-turut, nyaris berangkat ke nasional, lalu menghilang dari papan begitu saja tanpa alasan yang pernah ia jelaskan. Kini ia mengajar privat anak-anak orang berada, datang ke turnamen kecil sekadar menonton, dan tak pernah lagi menyentuh jam catur dalam pertandingan resmi.
Galih menang lagi di open itu, tapi lebih tipis. Lawan-lawan mulai berhati-hati, ada yang sudah pernah dengar gaya anehnya. Di partai final, ia menang lewat akhir yang berantakan, sebuah remis yang seharusnya tapi lawannya tak tahu cara mengamankannya. Saat ia menyalami lawan, Pak Sastro sudah berdiri di belakangnya.
"Boleh saya lihat tanganmu?" tanya lelaki tua itu.
Galih bingung, tapi mengulurkan tangan. Pak Sastro tak menyentuhnya, hanya memperhatikan jari-jari yang berkapal di ujungnya.
"Kamu bukan main catur," kata Pak Sastro pelan. "Kamu berjudi sama saraf orang."
"Saya menang, Pak."
"Iya. Kamu menang." Lelaki itu menarik kursi, duduk berhadapan dengan Galih di papan yang belum dirapikan. Ia menyusun ulang posisi akhir partai final tadi dari ingatannya sendiri, cepat, tanpa ragu, dan Galih menahan napas karena tak satu bidak pun salah letak. "Di sini," Pak Sastro menunjuk satu langkah di pertengahan, "kamu main begini. Kenapa?"
"Karena lawan saya bakal mikir lama. Kotak itu kelihatan bahaya buat dia."
"Betul. Dia mikir lama. Tapi coba lihat." Jari tua itu menggeser beberapa bidak, menunjukkan jawaban yang seharusnya dimainkan lawan. "Kalau dia main ini, jebakanmu mati. Bukan cuma mati. Berbalik. Kamu yang kalah, di langkah ini juga." Ia menatap Galih lurus. "Lawanmu tadi tidak menemukan langkah ini. Tapi langkah ini ada. Selalu ada. Kamu cuma belum pernah ketemu orang yang melihatnya."
Galih menelan ludah. Itu persis yang dikatakan mesin gratisan padanya bertahun lalu, hanya kali ini diucapkan oleh manusia, dengan suara, dengan mata yang menatapnya.
"Kamu menipu manusia," kata Pak Sastro, dan suaranya tidak marah, justru itu yang menyakitkan—suaranya hanya lelah. "Itu bukan dosa. Semua pemain menipu sedikit. Tapi kamu tidak mengalahkan catur. Catur tidak peduli lawanmu gugup atau tidak. Papan itu jujur, Nak. Dia tidak pernah bohong. Dan suatu hari kamu akan duduk di depan orang yang juga jujur seperti papan, dan saat itu, semua tipuanmu jadi telanjang."
"Lalu saya harus gimana? Main benar?" Galih merasa panas naik ke wajahnya, campuran malu dan marah. "Main benar itu butuh mesin, butuh database, butuh pelatih yang bergelar. Saya nggak punya semua itu, Pak. Saya cuma punya ini." Ia mengetuk pelipisnya sendiri.
Untuk pertama kali, sesuatu bergerak di wajah Pak Sastro. Bukan senyum, tapi mendekati. "Kamu kira saya dulu punya mesin?" Ia tertawa pendek, kering. "Tidak ada mesin di zaman saya. Yang ada cuma buku, papan, dan orang yang lebih tua dari kamu yang mau duduk sabar. Kebenaran papan itu bukan barang yang dibeli, Nak. Itu disiplin. Bisa dicari orang miskin sekalipun. Cuma capek. Capek sekali. Dan kebanyakan orang malas, jadi mereka pilih jadi penjudi sepertimu, karena judi lebih cepat."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada penilaian mesin mana pun, karena di dalamnya tersembunyi tawaran yang Galih belum berani sebut: bahwa lelaki tua ini, yang berhenti bermain dua puluh tahun lalu, mungkin punya sesuatu yang tak bisa dibeli dengan langganan bulanan.
"Kenapa Bapak berhenti?" Galih bertanya sebelum ia sempat menahan diri. "Kalau Bapak sehebat itu."
Wajah Pak Sastro menutup seperti pintu. Ia berdiri, melipat kursinya, dan untuk sesaat Galih kira ia akan pergi tanpa kata. Tapi di ambang pintu balai desa, dengan punggung membelakangi, lelaki tua itu berkata pelan, nyaris pada dirinya sendiri.
"Karena suatu hari saya menemukan bahwa papan boleh jujur, tapi orang-orang di sekitar papan tidak. Dan saya tidak cukup kuat menanggung itu." Ia menoleh sedikit. "Datang ke rumah saya kalau kamu mau capek. Belakang masjid, rumah cat hijau yang catnya sudah pudar. Saya tidak janji mengajarimu menang. Saya cuma janji mengajarimu malu pada langkah burukmu sendiri. Itu permulaan."
Lalu ia pergi, langkahnya pelan, koran terlipat masih di tangan, meninggalkan Galih sendiri di balai desa yang mulai kosong dengan papan yang setengah berantakan dan kepala yang penuh. Galih duduk lama di sana. Ia membenci kata-kata lelaki itu. Ia membenci bahwa kata-kata itu benar. Dan ia membenci, paling dari semua, bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada orang yang menatap permainannya bukan dengan kagum atau takut, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih langka dan lebih berbahaya: harapan.