Lampu sodium di lapangan parkir gedung olahraga kabupaten itu masih yang dulu—kuning, berdengung, membuat segala yang berdiri di bawahnya tampak seperti foto lama sebelum sempat menjadi tua. Galih datang lebih dulu, duduk di trotoar rendah tempat dulu, entah di kehidupan yang mana, ia pernah duduk di samping seorang lelaki tua dan mendengar cerita yang mengubah segalanya. Kini gedung olahraga itu gelap dan terkunci, dan mereka datang bukan untuk turnamen apa pun. Mereka datang karena rumah sakit melelahkan dan rumah cat hijau terlalu penuh hantu, dan tempat netral bagi dua orang yang kelelahan adalah tempat yang tidak menuntut apa-apa.
Pak Sastro datang membawa dua botol kopi dingin dari warung, menyerahkan satu, dan duduk dengan bunyi lutut yang mengeluh. Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Di kejauhan, satu sepeda motor lewat, lampunya menyapu aspal, lalu hilang.
"Ayahmu bagaimana?" tanya Pak Sastro akhirnya.
"Kuat di mulut, lemah di badan." Galih memutar-mutar botolnya. "Semalam dia bilang jangan berhenti karena dia. Padahal saya sudah menyiapkan pidato untuk berhenti, Pak. Rapi sekali. Saya latih sepanjang jalan ke rumah sakit. Lalu dia bicara lima menit, dan pidato saya jadi sampah."
Pak Sastro tertawa kecil, kering, tapi ada kehangatan di dalamnya. "Ayah yang baik memang wasit yang menyebalkan. Selalu tahu kapan kamu mau main curang."
Mereka diam lagi. Dan di bawah lampu kuning itu, untuk pertama kali sejak segalanya dimulai, keraguan diakui dengan jujur—oleh dua orang, bukan satu.
"Saya takut, Pak," kata Galih. Sederhana saja. Kata-kata itu sudah terlalu lama berdiri di ruang tunggu, dan malam ini ia membiarkannya masuk. "Bukan takut kalah di papan. Takut kalau saya menang di luar papan, ayah saya sudah nggak ada yang nonton. Takut kalau saya berhenti, saya jadi orang yang bengkok. Takut kalau saya lanjut, saya jadi orang yang tega. Semua arah salah. Di papan, posisi kayak gini namanya zugzwang—langkah apa pun memperburuk keadaan. Tapi di papan, zugzwang berarti giliranmu jalan. Di hidup saya, rasanya giliran orang lain terus."
Pak Sastro menatap lampu sodium itu lama sekali, sampai Galih mengira lelaki itu tidak akan menjawab. Lalu ia bicara, dan suaranya lebih pelan dari desis kopi yang dibuka.
"Sekarang giliran saya jujur." Ia menarik napas. "Ada malam-malam, Nak, di mana saya menyesal sudah mengajarimu. Bukan karena kamu murid yang buruk—kamu murid terbaik yang pernah saya punya. Tapi karena saya tahu ke mana jalan ini membawa orang. Dua puluh tahun, Nak. Dua puluh tahun saya kehilangan papan, kehilangan istri saya, kehilangan nama saya sendiri, dan saya habiskan di rumah belakang masjid dengan kardus berisi kertas yang tidak pernah dibaca siapa pun. Malam-malam itu saya bertanya: apa hak saya menyeret anak orang ke jalan yang sama, hanya karena saya tidak rela mati sendirian di jalan itu?"
"Pak—"
"Biar saya selesaikan." Ia mengangkat tangan, pelan. "Kemarin saya buka lagi kardus itu. Tanda terima, surat-surat, partai empat puluh tujuh langkah yang saya mainkan dua puluh tahun lalu melawan anak orang penting itu—semua masih di sana, menguning, sabar sekali. Kertas memang makhluk paling sabar di dunia. Dia menunggu dua puluh tahun tanpa mengeluh." Ia menoleh ke Galih, dan matanya, di bawah cahaya kuning, basah tanpa jatuh. "Lalu saya sadar, saya ini bukan lagi pemain yang dilindungi papan. Saya sudah jadi kardus itu. Menyimpan kebenaran sampai lapuk, dan menyebutnya kesabaran, padahal itu takut. Jadi kalau kamu tanya apa yang saya sesali—bukan mengajarimu. Yang saya sesali adalah dua puluh tahun jadi kardus."
Angin malam lewat, membawa bau aspal dan hujan yang entah turun di mana. Galih menatap lelaki tua di sampingnya—mentornya, bukti hidup dari harga kejujuran, orang yang selama ini ia jadikan alasan sekaligus peringatan—dan untuk pertama kali ia melihat bukan legenda, bukan korban, melainkan seorang pemain yang langkahnya tertunda dua puluh tahun dan masih ingin, dengan tubuh yang sudah tua, menyelesaikan partainya.
"Kamu masih mau lanjut?" tanya Pak Sastro, dan pertanyaan itu tidak retoris. Pertanyaan itu sungguhan, diucapkan orang yang tahu persis berapa harga jawabannya.
Galih tidak menjawab cepat. Ia memikirkan ayahnya di ranjang bangsal, ringan seperti karung setengah kosong. Ibunya yang membagi amplop seperti membagi nasi. Genteng yang menganga. Kaleng biskuit di atas lemari. Lalu ia menjawab, pelan, tanpa heroik, seperti orang menyebut langkah yang sudah lama ia hitung.
"Saya sudah terlalu miskin untuk takut kehilangan, Pak. Orang yang punya banyak, dia bisa takut—ada yang bisa diambil. Saya? Yang bisa diambil dari saya sudah mereka ambil semua. Yang tersisa cuma yang nggak bisa mereka ambil. Jadi ya sudah. Lanjut."
Pak Sastro mengangguk pelan. Lama. Lalu ia berkata, dan suaranya berubah—ada sesuatu yang kembali berdiri tegak di dalamnya, seperti raja yang akhirnya meninggalkan pojok papan.
"Kalau begitu dengar baik-baik. Selama ini kamu berperang pakai kertas-kertas saya. Besok saya antarkan kardus itu ke wartawati kecilmu, lengkap, dengan nama saya di dalamnya. Bukan kertas tanpa wajah lagi. Kalau mereka mau perang panjang, biar mereka tahu siapa yang sudah menunggu dua puluh tahun untuk babak keduanya."
Galih menatapnya. "Pak, kalau nama Bapak keluar—"
"Saya tahu apa yang terjadi kalau nama saya keluar, Nak. Saya yang menulis riwayatnya." Lelaki tua itu meneguk kopinya, dan untuk pertama kali dalam malam itu, ia tersenyum sungguhan. "Sudah. Jangan dilawan. Kamu tidak bisa menghentikan pemain yang akhirnya menemukan langkahnya. Kamu sendiri yang mengajari saya itu—dengan tidak pernah berhenti."
Di bawah lampu sodium kuning, dua gelas kopi habis, dan malam bergeser pelan. Tak ada yang dirayakan. Tapi sesuatu telah dimainkan di lapangan parkir kosong itu—langkah yang tidak terlihat siapa pun, di papan yang tidak ada, dan keduanya tahu: posisi sudah berubah, dan tak bisa ditarik kembali.