Ada cara membunuh yang berisik, dan ada cara membunuh yang memakai bahasa sopan, kop surat, dan tiga paragraf. Galih membaca pengumuman itu berkali-kali di layar ponsel bututnya, di teras rumah yang gentengnya masih menganga sebagian, sementara dari dalam terdengar ibunya menyiapkan bekal untuk rumah sakit.
Federasi, dengan ini, menyampaikan bahwa penetapan kuota pembinaan untuk wilayahnya ditunda. Bukan dibatalkan—ditunda. Dibekukan, istilah resminya, menunggu investigasi internal menyusul adanya laporan di media massa. Federasi berkomitmen pada transparansi. Federasi menghargai semua pihak. Federasi meminta publik bersabar. Tidak ada satu kalimat pun yang bisa diserang. Setiap kata dipoles seperti bidak gading: licin, dingin, dan tak bisa digenggam.
Galih menatap layar itu sampai huruf-hurufnya kabur, dan perlahan, dengan cara yang sama saat ia membaca posisi di papan, ia melihat bentuk sebenarnya dari langkah ini.
Ini bukan serangan. Ini lebih pintar dari serangan. Selama kuota itu diberikan kepada orang lain, ada pihak yang dirugikan yang bisa menuntut—ada raja yang bisa diserang. Tapi kuota yang dibekukan tidak memihak siapa-siapa. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah, tidak ada yang bisa digugat. Ini remis yang dipaksakan dari luar papan, oleh wasit yang tak pernah duduk di meja. Dan di baliknya, Galih bisa mencium tangan yang sama—Wardhana, pejabat bidang pembinaan, tangan yang dua puluh tahun lalu menandatangani lenyapnya nama Pak Sastro. Dulu tangan itu mencuri dengan diam. Sekarang ia mencuri dengan pengumuman resmi. Itu, pikir Galih getir, adalah satu-satunya kemajuan yang terjadi dalam dua puluh tahun.
Ia menelepon Mita dari wartel di dekat rumah sakit siang itu, sambil menunggu giliran membayar tagihan lanjutan.
"Ini taktik ulur, kan," katanya. Bukan pertanyaan.
"Taktik ulur yang sempurna." Suara Mita lelah, ada bunyi keyboard di latar belakang. "Investigasi internal itu nggak punya tenggat. Aku tanya ke redaksi yang lebih senior—bisa tiga bulan, bisa enam, bisa sampai orang lupa. Dan Galih, ada yang harus kamu sadari. Tahun ajaran program pembinaan itu dimulai dua bulan lagi. Kalau kuotanya belum cair sampai pendaftaran tutup—"
"—maka tahun ini lewat," Galih menyelesaikan. "Dan tahun depan ada angkatan baru, seleksi baru, dan kasusku jadi berita basi."
Hening sebentar di ujung sana. "Ya."
Galih bersandar ke dinding wartel yang catnya mengelupas. Di sinilah ia akhirnya mengerti, dengan kejernihan yang dingin, siapa musuhnya yang sebenarnya. Bukan Wardhana. Bukan Gunawan. Bukan mesin federasi dengan segala roda gigi sopannya. Musuhnya adalah waktu—jam yang sama yang dulu menghukumnya di langkah ketiga puluh delapan, yang turun dan turun dan tak pernah berhenti, kini dipindahkan dari atas papan ke atas hidupnya. Mereka tidak perlu mengalahkannya. Mereka hanya perlu membuat setiap hari berlalu, sopan, prosedural, sampai bendera waktunya jatuh dengan sendirinya. Di papan, itu namanya menang dengan bendera—menang bukan karena lebih baik, melainkan karena jam lawan habis. Ia pernah membenci cara menang seperti itu. Sekarang cara itu dipakai untuk membunuhnya, dan tak ada wasit yang bisa ia panggil.
"Obat ayahku," kata Galih pelan, lebih pada dirinya sendiri. "Mereka tahu aku lagi bayar rumah sakit. Mereka sengaja bikin ini lama. Mereka nunggu aku kehabisan. Uang atau waktu, mana dulu."
"Galih." Suara Mita melembut, tapi tidak mundur. "Tulisan keduaku masih jalan. Justru pengumuman ini bahan—mereka panik. Orang nggak membekukan sesuatu yang bersih."
"Tapi perlu waktu."
"Perlu waktu," Mita mengakui. "Semua butuh waktu. Pertanyaannya cuma: waktu itu bekerja untuk siapa."
Sorenya Galih membawa kabar pembekuan itu ke rumah cat hijau, dan Pak Sastro mendengarkannya tanpa ekspresi, tangannya menyiram tanaman di depan rumah dengan gerakan yang tidak berubah sedikit pun. Baru setelah Galih selesai bicara, lelaki tua itu menurunkan gayungnya.
"Dulu tidak ada pengumuman," katanya akhirnya. "Dulu nama saya hilang begitu saja, seperti bidak yang disapu dari papan sebelum partai selesai. Tidak ada surat, tidak ada alasan yang bisa saya pegang. Sekarang mereka membekukan kuotamu dengan kop surat dan tiga paragraf yang sopan." Ia tersenyum getir. "Itu bukan karena mereka berubah, Nak. Itu karena mereka takut. Dulu mencuri satu nama tidak perlu alasan. Sekarang mereka harus menulis tiga paragraf. Selisih antara diam dan tiga paragraf itu—itu hasil kerjamu. Jangan diremehkan. Tapi jangan juga dikira kemenangan. Mereka bukan menyerah. Mereka sedang memindahkan raja ke pojok, berharap kamu kehabisan langkah sebelum menemukan skaknya."
"Investigasi internal itu bohong, kan, Pak."
"Investigasi internal itu papan ketiga yang mereka buka supaya papan keduamu tidak pernah dimainkan." Pak Sastro kembali menyiram. "Tapi ingat baik-baik. Papan yang dibuka bisa juga dimasuki. Kalau mereka bilang sidang nanti, kita datang. Kalau mereka bilang bukti, kita bawa. Jangan biarkan mereka sendirian dengan papan mereka sendiri."
Malam itu, di kursi jaga rumah sakit, Galih membuka papan lipat retaknya di pangkuan—ayahnya sudah tidur, selang oksigennya mendesis pelan—dan menyusun bidak-bidaknya tanpa benar-benar bermain. Tutup botol teh kemasan itu ia letakkan di kotak gajah putih, seperti selalu, dan ia menatapnya lama. Di papan, melawan jam yang kejam, ada satu-satunya jawaban yang ia tahu: jangan bertahan. Bertahan melawan waktu berarti mati perlahan. Satu-satunya cara adalah menyerang, membuat posisi jadi begitu tajam sehingga lawan—yang jamnya panjang, yang tenang, yang sopan—dipaksa menghabiskan waktunya untuk berpikir, dipaksa merasakan bahwa diam juga punya harga.
Kalau musuhnya waktu, maka ia harus membuat waktu jadi mahal bagi mereka. Setiap hari yang mereka beli dengan pengumuman sopan itu harus mereka bayar dengan berita, dengan dokumen, dengan nama-nama yang pelan-pelan naik ke permukaan. Mereka ingin pertandingan panjang. Baik. Ia akan memberi mereka pertandingan panjang—tapi di papan yang ia pilih, dengan tempo yang ia paksakan, di bawah lampu yang terus menyala.
Ia menutup papan lipatnya, menyelipkan tutup botol itu ke saku, dan menulis satu pesan ke Mita sebelum fajar: "Kapan tulisan kedua bisa terbit? Dan apa yang masih kurang?"