Genteng yang ambruk sebagian itu ternyata punya kembaran, dan kembarannya adalah tubuh ayahnya sendiri. Galih memahami ini di malam ketika batuk di balik dinding triplek berhenti menjadi batuk dan menjadi sesuatu yang lain—suara pendek, patah, seperti orang yang mencoba mengangkat sesuatu yang terlalu berat lalu menyerah di tengah jalan. Lalu hening. Dan hening itu, di rumah ini, jauh lebih menakutkan daripada batuk mana pun.
Ibunya yang pertama bergerak. Galih menyusul, dan ia mendapati ayahnya setengah duduk di tepi ranjang, wajahnya abu-abu, napasnya memburu seperti ikan yang salah dilempar ke darat. Tidak ada ambulans di kabupaten ini untuk orang seperti mereka. Ada tetangga dengan pikap bak terbuka, dan ada doa ibunya yang diucapkan tanpa suara sepanjang jalan, dan ada tubuh ayahnya di pangkuan Galih yang—ia menghitung ini dengan ngeri—ringan seperti karung setengah kosong.
Rumah sakit kabupaten menerima mereka dengan neon putih dan bau obat yang tajam. Radang paru, kata dokter jaga, sudah lama, sudah parah, harus dirawat, dan ada daftar biaya yang harus diisi di loket sebelum fajar. Galih membayar dengan amplop yang disiapkan ibunya untuk hal-hal yang tak pernah cukup, dan amplop itu habis sebelum matahari terbit, seperti selalu.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan tempo yang aneh—lambat dan cepat sekaligus, seperti partai catur yang sudah kalah posisi tapi masih harus dimainkan sampai langkah terakhir. Pagi Galih ke warnet, karena Mas Topan masih membayar upah dan upah masih berarti obat. Siang ia ke rumah sakit. Malam ia bergantian jaga dengan ibunya, duduk di kursi plastik di samping ranjang, mendengarkan napas ayahnya yang kini dibantu oksigen tipis dari selang kecil.
Di jaga malam yang ketiga itulah percakapan itu terjadi—percakapan yang pelan dan langka, jenis yang di rumah mereka hampir tak pernah ada, karena orang miskin terlalu lelah untuk banyak bicara dan terlalu saling tahu untuk perlu bertanya.
"Lih," suara ayahnya serak, nyaris tak terdengar di bawah desis oksigen. "Kamu masih main?"
Galih mengira ia salah dengar. "Main apa, Yah?"
"Catur." Ayahnya membuka mata, menatap langit-langit bangsal. "Partai yang di tivi tetangga itu. Yang kamu lawan orang tua, lima puluh delapan langkah. Aku nonton, Lih. Pura-pura nonton bola, padahal nungguin bagian kamu."
Galih membeku di kursinya. Partai verifikasi itu. Partai yang ia mainkan untuk membersihkan namanya dari tuduhan curang, di depan kamera, dengan seluruh negeri menunggunya jatuh. Ia tak pernah bercerita di rumah. Ibunya tahu dari tetangga, tapi ayahnya—ayahnya yang nyaris tak pernah keluar kamar, yang dunia seluruhnya tinggal dinding triplek dan ranjang—ayahnya menonton.
"Aku nggak ngerti langkahnya," lanjut ayahnya, dan setiap kalimat harus dibelah napas. "Tapi aku ngerti mukamu. Mukamu itu muka orang yang nggak mau dicolong." Ia terbatuk, pelan, menahan sakit. "Aku bangga, Lih. Aku mau kamu tahu itu. Aku bangga."
"Yah, istirahat—"
"Dengerin dulu." Tangan kurus itu bergerak sedikit di atas selimut, dan Galih menggenggamnya, hati-hati, seperti menggenggam bidak yang terbuat dari tulang. "Kamu mikir aku nggak tahu kamu berantem sama orang-orang besar itu? Aku tahu. Orang kampung cerita. Katanya kamu berani. Katanya kamu gila." Ayahnya tersenyum, tipis, lelah. "Aku bilang sama orang kampung: anakku bukan gila. Anakku cuma nggak mau dicolong."
Napasnya memburu lagi, dan Galih menunggu, tak bergerak, sementara di kepalanya sedang terjadi penimbangan yang kejam—karena ia datang malam ini dengan niat yang sudah ia susun rapi sepanjang jalan: bahwa ia akan berhenti. Bahwa kaleng biskuit berisi bukti itu bisa disimpan selamanya di atas lemari. Bahwa Gunawan pernah berjanji semua bisa diatur, dan obat ayahnya tidak bisa menunggu kebenaran yang lambat. Ia sudah menyiapkan kalimatnya, seperti menyiapkan variasi pembukaan.
Tapi ayahnya bicara lebih dulu, dan meruntuhkan seluruh persiapannya.
"Orang miskin itu nggak punya banyak, Lih," kata ayahnya, matanya kini menatap Galih lurus, dan di mata itu ada api kecil yang Galih kenali—api yang sama yang membuat lelaki ini bertahun-tahun berangkat kerja dengan tubuh yang sudah minta berhenti. "Tanah nggak punya. Relasi nggak punya. Yang kita punya cuma dua: kata-kata kita, sama kerja kita. Kalau dua-duanya kita bengkokin, kita habis. Habis, Lih. Lebih miskin dari miskin."
"Yah, aku cuma takut. Obat Bapak—"
"Obatku tanggung jawabku. Bukan alasanmu." Suara itu mengeras, sekeras yang mampu dilakukan tubuh setipis itu, dan justru kekerasan kecil itu yang membuat Galih ingin menangis. "Aku nggak mau jadi jebakan yang kamu pakai buat nyerah. Kamu dengar? Kalau kamu mau berhenti, berhenti karena kamu memang mau berhenti, di siang hari, dengan kepala tegak. Jangan pakai aku. Aku nggak mau jadi alasan anakku menjual dirinya."
Bangsal itu sunyi. Di ranjang sebelah, seorang lelaki tua mendengkur. Lampu neon berdengung seperti lalat yang tak mau mati, sama seperti lampu warnet, dan Galih duduk di sana dengan tangan ayahnya di genggamannya, merasakan seluruh rencananya yang rapi—penyerahan yang sudah ia susun langkah demi langkah, pengorbanan yang sudah ia hitung—runtuh seperti pertahanan yang menemukan satu tusukan di titik lemahnya.
Ia menimbang semuanya malam itu, di kursi plastik, sampai fajar: perjuangan yang berbulan-bulan, bukti di kaleng biskuit, tulisan Mita, janji Reyhan, dua puluh tahun Pak Sastro—semuanya ditimbang melawan tubuh yang menipis di ranjang itu, tiga puluh sembilan kilogram mungkin kurang, tubuh yang dulu mengangkatnya ke pundak di pasar malam. Dan timbangannya tidak pernah setimbang. Tidak akan pernah. Tapi ayahnya baru saja mengajarinya, dengan sisa napas yang tinggal sedikit, bahwa timbangan itu memang bukan untuk disetimbangkan—melainkan untuk dijaga agar jangan sampai salah satu sisinya dicuri diam-diam oleh rasa takut.
"Aku nggak janji menang, Yah," kata Galih akhirnya, pelan, saat langit mulai abu-abu di jendela. "Tapi aku janji nggak berhenti karena takut."
Ayahnya sudah tertidur, atau berpura-pura tidur—Galih tak pernah tahu pasti, karena ayahnya pandai sekali berpura-pura, mungkin dari sanalah bakat itu turun. Tapi sudut bibir lelaki itu bergerak sedikit, sekali, seperti kuda yang melompat ke kotak yang tepat.
Pagi harinya, saat Galih pulang untuk berganti pakaian, ponsel bututnya bergetar di saku. Satu pesan dari Mita, pendek, tanpa salam: "Federasi baru saja mengeluarkan pengumuman. Kamu harus baca ini sekarang."