Setiap rumah menyimpan satu partai yang tidak pernah selesai, dan rumah cat hijau di belakang masjid itu menyimpannya di laci paling bawah lemari buku, di balik map-map usang dan kardus yang dua puluh tahun tidak dibuka. Galih menemukannya tanpa sengaja. Sore itu Pak Sastro menyuruhnya mencari sebuah buku akhir permainan—"yang sampulnya biru, retak di punggung"—dan buku itu ternyata ada di laci bawah, menindih sebuah amplop foto yang isinya tumpah ketika Galih mengangkatnya.
Sebagian besar foto partai. Sastro muda di depan papan, rambut masih hitam, duduk dengan bahu yang belum membungkuk. Tapi di antara foto-foto itu ada satu yang bukan catur: Sastro muda berdiri di depan rumah yang cat hijaunya masih segar, dan di sampingnya seorang perempuan dengan kebaya sederhana dan senyum yang membuat seluruh foto itu terasa seperti diambil di musim yang lebih hangat. Di belakang foto, tulisan tangan perempuan itu, tintanya sudah memudar kecokelatan: "Untuk juaraku. Rumah baru, musim baru. —Laksmi."
Pak Sastro menemukan Galih masih berlutut di depan laci dengan foto itu di tangan, dan lelaki tua itu tidak marah. Ia hanya berdiri di ambang pintu lama sekali, lalu menarik kursi, duduk, dan berkata, "Taruh teh dulu. Ini cerita panjang, dan saya cuma sanggup menceritakannya sekali."
Mereka minum teh di beranda kecil sementara azan magrib datang dan pergi. Dan Pak Sastro bercerita—pelan, runtut, seperti orang memainkan ulang partai yang sudah ia hafal langkah demi langkah tapi tidak pernah sanggup ia analisis.
Laksmi adalah istrinya. Mereka menikah muda, tahun-tahun ketika nama Sastro masih berarti sesuatu di provinsi, ketika undangan eksibisi datang dan honorarium kecil cukup untuk mengecat rumah dengan warna hijau yang Laksmi pilih sendiri. "Dia tidak paham catur," kata Pak Sastro. "Sekali pun tidak. Tapi dia paham saya. Dia tahu kapan saya kalah sebelum saya buka mulut, dari cara saya menaruh kunci di mangkuk. Dia bangga sama saya dengan cara yang tidak berisik." Ia menatap halaman. "Itu yang paling saya sesali. Kebanggaan yang tidak berisik itu saya bayar dengan kehancuran yang berisik sekali."
Lalu datang tahun itu—tahun yang Galih sudah kenal dari kardus dan kliping. Kuota yang dicuri. Berkas yang katanya tidak lengkap. Sastro muda menolak kalah terhormat, menang di papan demonstrasi, dan tiga minggu kemudian namanya menguap dari daftar. Galih mengira ia sudah tahu cerita ini sampai ujungnya. Ia salah. Cerita itu, ternyata, baru setengah.
"Yang saya ceritakan ke kamu dulu berhenti di federasi," kata Pak Sastro. "Karena sampai di situ, ceritanya masih soal catur, dan soal catur saya masih kuat. Tapi cerita itu tidak berhenti di federasi, Nak. Ia ikut pulang ke rumah."
Ia kehilangan lebih dari kuota. Undangan eksibisi berhenti—pelan-pelan, sopan, tanpa penjelasan, seperti keran yang ditutup sedikit demi sedikit. Orang-orang yang dulu menyapanya di jalan mulai menyeberang. Ada kabar yang dipelihara baik-baik: bahwa Sastro sombong, tidak tahu diri, menolak kebaikan orang besar. Dan Sastro muda, yang hanya punya satu keahlian di dunia ini, mendapati keahlian itu tidak bisa lagi memberinya makan. Ia mencoba mengajar, tapi orang tua menarik anak-anak mereka satu per satu. Ia mencoba melamar pekerjaan biasa, tapi dua puluh tahun di depan papan tidak menulis apa-apa di selembar riwayat hidup.
"Laksmi tidak pernah mengeluh. Itu yang menghancurkan saya." Suara Pak Sastro tetap pelan, tapi tangannya, Galih perhatikan, memegang cangkir dengan dua tangan sekarang. "Setahun, dua tahun. Dia menjual gelangnya tanpa bilang. Dia bilang kita baik-baik saja sambil menambal bajunya sendiri. Dan saya—saya duduk di kamar itu setiap hari, di depan papan, menyusun langkah-langkah untuk partai yang tidak akan pernah ada lawannya. Saya memilih papan saya, Nak. Setiap hari, setiap pagi, saya bangun dan memilih papan saya. Dan setiap hari, setiap pagi, ada perempuan di dapur yang saya tidak pilih."
Tahun keempat, Laksmi pergi. Tidak dengan pertengkaran. Tidak dengan pintu yang dibanting. Ia pergi dengan koper kecil dan kalimat yang sudah ia siapkan lama, kalimat yang sampai sekarang masih bisa Pak Sastro ucapkan persis bunyi dan jedanya: "Sastro, aku tidak pernah minta kamu berhenti main. Aku cuma minta jangan main sendirian terus sambil aku menunggu di luar papan."
"Dan dia benar," kata Pak Sastro, dua puluh tahun kemudian, di beranda rumah yang cat hijaunya sudah pudar. "Dia benar, dan saya baru bisa mengakui itu sepuluh tahun setelah dia pergi. Papan itu jujur, Nak—tapi papan tidak menemanimu makan malam. Papan tidak menua di sebelahmu. Saya menolak dicurangi orang lain, dan tanpa sadar saya mencurangi orang yang paling tidak layak saya curangi: perempuan yang cuma minta dipilih sesekali."
Langit sudah gelap penuh. Galih duduk diam, dan sesuatu di dalam dadanya sedang ditimbang ulang, bidak demi bidak. Selama ini ia mengira cerita Pak Sastro adalah cerita tentang keberanian—lelaki yang memilih jujur dan membayar dengan kariernya. Sekarang ia tahu harga sebenarnya, harga penuhnya: bukan dua puluh tahun tanpa papan, melainkan dua puluh tahun tanpa pulang ke mana-mana. Jalan yang sedang ia tempuh sekarang—menolak, membongkar, melawan mesin—jalan yang sama persis. Dan di ujung jalan itu, di rumah cat hijau yang sepi, duduk bukti hidup tentang semua yang bisa hilang.
"Terus kenapa Bapak kasih tahu saya sekarang?" tanya Galih pelan.
"Karena kamu mulai mirip saya." Pak Sastro menatapnya, dan untuk pertama kali malam itu ada sesuatu yang hampir hangat di matanya. "Kamu mulai bicara soal dokumen waktu makan. Kamu memindai ruangan mencari musuh. Kamu berdiri di depan papan tapi kepalamu di rapat-rapat yang tidak kamu hadiri. Jalanmu benar, Nak—saya tidak pernah bilang salah, dan sekarang saya malah ikut main lagi karena kamu, empat puluh tujuh langkah itu kamu kalah karena guru kamu masih guru kamu—" sudut bibirnya bergerak sedikit, "—tapi jalan yang benar pun punya harga, dan harganya tidak selalu kamu yang bayar sendiri. Ibumu. Ayahmu. Mita. Reyhan. Orang-orang itu berdiri di papanmu sekarang. Jangan lupa mereka ada di sana."
Galih berjalan pulang malam itu lewat jalan belakang masjid, dan di rumah ia menemukan ibunya sedang menambal baju di bawah lampu dapur, sementara dari balik dinding triplek terdengar ayahnya batuk, pelan, ditahan-tahan agar tidak mengganggu. Kaleng biskuit di atas lemari—kaleng yang diselamatkan ibunya dari genteng yang ambruk—berdiri di sana seperti bidak terakhir yang dipertahankan mati-matian di ruas belakang.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Galih tidak langsung membuka dokumen atau papan. Ia duduk di sebelah ibunya, mengambil jarum yang lain, dan berkata, "Ajarin. Yang bagian sini aku nggak bisa."
Ibunya menatapnya heran, lalu tersenyum kecil, dan mengajarinya. Di luar, malam berjalan biasa saja, dan di dalam kepalanya satu kalimat Pak Sastro berputar pelan seperti jam yang tidak pernah berhenti: papan itu jujur, Nak—tapi jangan sampai kejujuran papan membuatmu bohong pada orang-orang yang menunggumu di luar papan.