Ada langkah dalam catur yang disebut pengorbanan posisi—kau memberi sesuatu yang nyata demi sesuatu yang tidak bisa dihitung, dan orang yang menonton dari luar selalu mengira kau salah langkah. Amplop itu datang sore hari, dititipkan ke anak bilik tujuh oleh seorang kurir ojek yang tidak menunggu jawaban. Cokelat, tebal, tanpa nama pengirim. Di dalamnya: setumpuk fotokopi, dan selembar kertas kosong dengan tiga kata tulisan tangan yang Galih kenali dari lembar notasi di gedung olahraga ibu kota, rapi dan dingin seperti pemiliknya. "Untuk papanmu. —R"
Galih membawanya ke bilik paling ujung, menutup pintu, dan membacanya dari atas ke bawah dengan jantung yang makin cepat di setiap halaman.
Notulen rapat. Rapat penentuan kuota pembinaan, tiga minggu sebelum daftar diumumkan. Ada daftar hadir. Ada notasi tangan di margin. Dan ada satu kalimat—Galih membacanya tiga kali karena kalimat seperti itu tidak seharusnya ada di atas kertas resmi—yang mencatat usulan untuk "menyesuaikan hasil verifikasi administrasi dengan pertimbangan pembinaan jangka panjang". Kalimat halus, kalimat kantor, kalimat yang artinya: buang nama yang menang di papan, masukkan nama yang dikehendaki. Di bawah notulen itu, dalam daftar hadir, ada nama yang membuat tengkuk Galih dingin: Wardhana. Hadir. Memimpin rapat.
Selama ini mereka punya jejak—tanda terima, paraf, kesaksian yang tidak berani dinamai. Tapi ini bukan jejak. Ini tubuhnya. Ini mesin itu sendiri, difoto saat sedang berputar.
Galih menelepon Reyhan malam itu, dari wartel, karena entah kenapa ia tidak mau menelepon hal seperti ini dari ponselnya sendiri. Reyhan mengangkat di dering kedua, dan suaranya sama seperti tangannya dulu: sejuk, kering, tidak banyak bunyi.
"Kamu yang kirim," kata Galih. Bukan pertanyaan.
"Kamu sudah baca."
"Notulen rapat kuota. Reyhan, ini—dari mana kamu dapat ini? Ini bisa—" Galih mencari kata yang tepat dan tidak menemukannya, jadi ia memakai kata yang jujur, "—ini bisa bikin kamu habis."
Ada jeda di seberang sana. Lalu suara Reyhan, lebih pelan dari biasanya, dan untuk pertama kalinya Galih mendengar sesuatu di dalamnya yang tidak dingin—lelah, mungkin, atau marah yang sudah terlalu lama disimpan rapi.
"Minggu lalu ada yang datang ke akademi. Bukan ke aku langsung—ke pelatihku, lalu pelatihku ke aku. Tawarannya rapi sekali, Galih. Rapi seperti notasi." Ia berhenti sebentar. "Kuotaku dijamin. Tidak perlu menunggu investigasi, tidak perlu khawatir namamu mengganggu apa-apa. Satu syaratnya: aku diam. Tidak komentar soal kasusmu, tidak hadir di mana-mana, tidak menandatangani apa-apa. Cukup diam. Diam itu, kata mereka, sikap yang paling dewasa."
Galih memejamkan mata di bilik wartel yang pengap. Ia tahu bentuk tawaran itu. Ia pernah dijanjikan jalan mulus di kafe hotel, dulu, oleh lelaki berkemeja rapi yang tahu soal genteng dan obat. Kini tawaran yang sama datang ke Reyhan, dibungkus kertas yang lebih mahal.
"Dan kamu malah kirim ini."
"Galih." Suara Reyhan berubah, mengeras sedikit, seperti orang yang menahan sesuatu agar tidak keluar lebih banyak dari yang ia izinkan. "Aku kalah sama kamu dua kali di papan, dan dua-duanya aku terima, karena papan tidak bohong. Kamu lebih baik di hari itu. Titik. Tapi kalau aku masuk kuota karena kamu disingkirkan di luar papan—kalau namaku ada di daftar itu karena seseorang mencoret namamu di rapat—maka seluruh hidupku sejak umur tujuh tahun tidak ada artinya. Semua latihan, semua partai, semua. Karena ternyata yang menentukan bukan papan." Jeda. "Saya nggak mau menang dengan cara itu."
Kalimat itu menggantung di kabel telepon, di antara wartel pengap dan kamar akademi ber-AC di ibu kota, dan Galih tahu ia akan mengingatnya lama—lebih lama dari partai mana pun yang pernah mereka mainkan. Karena ada kata-kata yang tidak bisa dibalas dengan langkah apa pun.
"Terima kasih," kata Galih akhirnya. "Itu kurang, tapi cuma itu yang ada."
"Simpan notulennya. Ada tiga salinan, aku simpan dua di tempat berbeda—kamu ajari aku soal begitu, tanpa kamu tahu, waktu kamu bilang ke Mita dan Mita bilang ke aku soal menyimpan barang tidak di satu tempat." Sedikit bunyi di seberang, mungkin Reyhan menggeleng, mungkin tersenyum, Galih tidak bisa memastikan. "Dan Galih—jangan jabat tangan, jangan sekutu-sekutuan, jangan upacara. Aku tetap mau mengalahkanmu di papan. Itu tidak berubah."
"Deal."
Telepon ditutup. Galih duduk di bilik wartel beberapa lama, memegang gagang telepon yang sudah mati, dan memikirkan betapa anehnya papan kedua ini: lawan yang paling keras menjegalnya di atas enam puluh empat kotak ternyata orang pertama yang menolak dibantu menang di luarnya. Mungkin itu jawaban dari pertanyaan yang dulu Pak Sastro lemparkan di lapangan parkir berlampu kuning—papan itu jujur, dan orang yang sungguh-sungguh mencintai papan, sedikit banyak, ikut jadi jujur.
Ia berjalan pulang melewati lapangan parkir gedung olahraga yang gelap, lampu sodium kuning menyala separuh, dan di sakunya amplop cokelat itu terasa berat seperti batu bata. Besok ia akan menyerahkannya ke Mita. Lusa tulisan kedua akan mulai ditulis. Dan di suatu kantor di ibu kota provinsi, seorang pejabat yang tidak pernah duduk di depan papan akan segera belajar satu pelajaran yang dimengerti semua pemain catur sejak partai pertamanya: tidak peduli seberapa kuat posisimu—selalu ada langkah lawan yang tidak masuk hitunganmu.