Ada garis yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diatur, tidak bisa ditulis ulang oleh lembar disposisi mana pun: garis yang digambar bidak di atas enam puluh empat kotak, di depan mata yang menonton, di bawah lampu yang menyala terang. Garis itu satu-satunya milik Galih yang belum pernah dicuri orang. Maka ke sanalah ia membawa perangnya pulang.
Mereka tidak menyewa gedung, tidak mengirim siaran pers yang berbunga-bunga. Mereka memilih balai desa pada hari Minggu—kursi plastik, papan demonstrasi tua yang engselnya berderit, spanduk kecil buatan anak-anak warnet yang tulisannya miring. Mas Topan menyiarkan kabar itu lewat grup warga. Mita menulis satu catatan pendek yang jernih, tanpa tuduhan, hanya fakta dan undangan. Dan anak bilik tujuh berdiri di sisi panggung dengan ponselnya, siap merekam, kali ini dengan tripod pinjaman dari tetangga.
Sebelum siapa pun duduk, Galih bicara. Tidak lama. Ia berdiri di depan papan demonstrasi dengan papan lipat retaknya di tangan kiri dan, di tangan kanan, tutup botol teh yang penyok itu, gajah putihnya.
"Saya tidak pandai bicara," katanya, dan orang-orang tertawa kecil, hangat, dan tawa itu memberinya tenaga. "Jadi saya bicara pakai bahasa yang saya bisa. Kemarin-kemarin ada tulisan yang bilang permainan saya mustahil tanpa bantuan mesin. Bahwa langkah saya terlalu aneh untuk jadi langkah manusia." Ia mengangkat tutup botol itu ke udara. "Ini gajah saya. Sejak kecil. Kalau saya pakai mesin, percayalah, hal pertama yang saya beli bukan mesin—saya beli gajah betulan dulu."
Tawa lebih keras kali ini. Ibu di barisan tengah menunduk menyembunyikan senyum.
"Tapi tuduhan tidak hilang ditertawakan," lanjut Galih, dan balai desa kembali sunyi. "Tuduhan hilang dibuktikan. Maka mulai hari ini saya mengumumkan tantangan terbuka. Siapa pun yang meragukan saya—pemain berperingkat, pemain akademi, siapa saja yang didatangkan siapa saja—silakan datang. Kapan pun. Papan terbuka, jam terbuka, notasi dicatat dan boleh dibawa pulang, analisis dibuka di depan umum sesudahnya. Kalau perlu kita main di ruangan kosong, tanpa ponsel, tanpa apa-apa, hanya papan dan dua orang. Saya tidak minta dipercaya. Saya minta diuji."
Ia berhenti sejenak. Matanya menemukan Pak Sastro di sudut belakang, duduk dengan koran terlipat yang tidak pernah dibaca, dan lelaki tua itu mengangguk hampir tak terlihat.
"Karena begini," kata Galih, pelan, dan justru karena pelan semua orang mencondongkan badan. "Berkas bisa ditukar. Cap bisa dipalsukan. Nama bisa digantung di koran. Tapi papan itu jujur. Papan tidak bisa disuap, tidak bisa diberi disposisi, tidak bisa dibilang lengkap itu artinya belum lengkap. Kalau saya curang, papan yang akan bilang. Bukan saya. Papan."
Balai desa pecah.
Hari itu Galih bermain melawan siapa saja yang naik ke panggung, satu per satu, dari siang sampai lampu-lampu menyala. Guru SD yang main tiap akhir pekan. Pegawai kecamatan yang dulu berperingkat daerah. Dua anak SMA yang gemetar sejak langkah pertama. Semua partai dicatat, semua lembar notasi ditempel di papan pengumuman balai desa sesudahnya, boleh difoto siapa saja. Ia memenangi semuanya—tapi bukan kemenangan itu yang beredar, melainkan caranya: terbuka, di bawah mata seratus orang, dengan penonton yang boleh berdiri satu lengan dari papan dan melihat sendiri tangannya, tangan berkapal penjaga warnet, memilih setiap langkah tanpa bisikan apa pun kecuali jam yang berdetak.
Lalu, menjelang sore, datang jawaban pertama atas tantangan itu. Seorang pemain berperingkat dari kota provinsi—bukan orang federasi, hanya pemain keras kepala yang membaca tantangan itu di grup dan merasa gatal. Mereka bermain di papan demonstrasi, dan itu partai yang serius: tiga puluh delapan langkah, penuh, wasit mencatat, penonton menahan napas pada derit tiap bidak dipindahkan. Galih membawanya ke belantara di langkah kesepuluh, mengorbankan pion demi pion demi ruang, dan menang dengan sebuah garpu kuda di ujung yang membuat pemain provinsi itu menatap papan lama sekali sebelum berdiri, menjabat tangannya keras-keras, dan berkata ke arah ponsel yang merekam, kepada siapa pun yang menonton: "Tidak ada mesin di sini. Yang ada cuma orang yang lebih paham dari saya. Catat itu."
Klip itu, tentu saja, yang beredar paling jauh.
Malamnya, ketika balai desa sudah kosong dan kursi-kursi plastik ditumpuk, Pak Sastro membantu Galih melipat papan demonstrasi yang berderit. Untuk waktu yang lama lelaki tua itu tidak bicara. Lalu, sambil memandangi papan lipat retak di tangan Galih, ia berkata pelan:
"Dua puluh tahun lalu, waktu mereka mencuri nama saya, saya tidak tahu cara menjawab selain diam. Saya pulang, saya lipat papan saya, dan saya tidak membukanya lagi. Saya kira diam itu harga diri." Ia menggeleng pelan, menatap lampu sodium di luar yang menyala kuning di atas lapangan kosong. "Ternyata ini jawabannya. Bukan diam. Bukan teriak. Papan terbuka. Kamu menemukan dalam satu bulan apa yang tidak saya temukan dalam dua puluh tahun, Nak."
"Bapak yang ngajari," kata Galih. "Papan itu jujur. Saya cuma mengulang."
"Tidak." Pak Sastro menatapnya, dan ada sesuatu yang basah di mata tua itu yang segera ia kedipkan pergi. "Saya mengajari kamu mempercayainya. Kamu yang mengajari saya mempertaruhkannya."
Mereka berjalan pulang melewati lapangan berlampu kuning, dan Galih tahu tantangan itu kini sudah lepas dari tangannya, menggantung di udara kabupaten, di grup-grup, di koran kecil Mita, di klip yang berpindah dari ponsel ke ponsel—menggantung persis seperti tangannya dulu menggantung di atas bidak pengorbanan di babak penentu, di antara dua dunia yang sama-sama menuntut keputusan.
Bedanya, kali ini bukan dia yang harus menjawab.
Tantangan itu menggantung di sana, terbuka, menyala-nyala, menunggu. Mungkin yang datang seorang master yang dibayar mahal. Mungkin seorang utusan federasi dengan kemeja rapi dan mesin di kepalanya. Mungkin tidak ada seorang pun yang berani—dan ketiadaan itu sendiri akan menjadi jawaban yang paling keras. Malam itu Galih membiarkan papan retaknya terbuka di meja kursi penjaga warnet, bidak-bidak berdiri tegak di kotaknya masing-masing, tutup botol gajah di ruas terang, siap untuk langkah pertama—dari tangan siapa pun yang berani datang.