Mesin yang terdesak selalu menuduh lawannya memakai mesin. Itu langkah tertua di luar papan: kalau kamu tidak bisa menjelaskan mengapa seseorang menang, jelaskan saja bahwa kemenangannya mustahil—dan biarkan keraguan yang bekerja, karena keraguan tidak butuh bukti, ia hanya butuh diulang cukup sering.
Tuduhan itu datang tiga hari setelah klip alun-alun beredar, lewat sebuah situs berita olahraga ibu kota yang jauh lebih besar dari koran kecil Mita. Judulnya berhati-hati, sebagaimana fitnah yang pintar selalu berhati-hati: bukan tudingan, hanya "pertanyaan". Sebuah kejanggalan, tulisnya. Gaya bermain yang tidak wajar. Langkah-langkah yang, menurut seorang sumber internal federasi yang tidak disebut namanya, sulit dipercaya lahir dari perhitungan manusia tanpa bantuan komputer. Partai-partai Galih, termasuk babak penentu melawan Reyhan, dikabarkan sedang "ditinjau". Wasit akan dimintai keterangan. Lembar-lembar notasi akan diperiksa.
Galih membacanya di layar bilik warnet, dua kali, dan pada bacaan kedua ia harus berdiri dan berjalan ke belakang, ke lorong bilik-bilik yang menyala biru, karena dadanya terasa sempit.
Ironinya begitu telanjang sampai nyaris lucu. Anak yang belajar catur dari enam belas langkah di koran bekas yang sambungannya hilang dimakan pembungkus gorengan. Anak yang mengetuk pelipisnya sendiri di depan Pak Sastro karena hanya itu yang ia punya. Anak yang mengembalikan lima puluh ribuan lusuh ke kotak di atas lemari ibunya karena langganan mesin analisis harganya sama dengan obat ayahnya. Anak itu kini dituduh menang dengan bantuan mesin—oleh orang-orang yang tahu persis, dari laporan mereka sendiri tentang genteng bocor dan resep obat, bahwa ia tidak pernah mampu membeli satu pun.
"Mereka tidak perlu membuktikan kamu pakai mesin," kata Pak Sastro di rumah cat hijau, suaranya datar, tapi tangannya mengepal di atas lutut. "Mereka hanya perlu membuat orang bertanya-tanya. Kalau orang sudah bertanya-tanya, setiap langkahmu yang bagus jadi mencurigakan. Setiap kemenanganmu jadi kejanggalan. Ini lebih kejam dari yang mereka lakukan ke saya, Nak. Ke saya, mereka cukup menghilangkan nama. Ke kamu, mereka menggantung nama—dibiarkan terlihat semua orang, dibiarkan berayun, sampai kamu sendiri yang capek dan turun."
Dan benar, nama itu mulai berayun. Di grup catur kabupaten, perpecahan muncul: sebagian membela, sebagian mulai berkata "iya juga ya, mainnya aneh banget", "pantesan nggak masuk akal", kalimat-kalimat yang disalin mentah-mentah dari situs berita oleh orang-orang yang tidak pernah satu kali pun melihat Galih bermain. Di warung kopi dekat rumah, Galih menangkap dua lelaki berhenti bicara saat ia lewat—keheningan yang persis sama dengan keheningan peserta senior di lorong gedung olahraga dulu, bau yang sama, hanya kali ini menempel pada namanya sendiri. Bahkan tetangga yang minggu lalu menepuk bahunya kini menyapanya dengan senyum yang lebih pendek satu ketukan, seperti langkah yang ditarik sebelum sempat dilepas.
Yang paling sakit justru datang dari balik dinding triplek. Malam itu, di sela batuknya, ayahnya memanggil, dan ketika Galih masuk ke kamar yang pengap itu, lelaki kurus itu menatapnya lama sebelum bertanya, pelan, tanpa tuduhan—dan justru karena tanpa tuduhan itulah pertanyaannya menghancurkan.
"Kamu nggak curang, kan?"
"Nggak, Yah."
Ayahnya mengangguk. Menatap langit-langit sebentar. "Ya sudah. Tidur sana. Besok masih jaga." Itu saja. Tidak ada wejangan, tidak ada pelukan. Tapi Galih berdiri di ambang pintu beberapa detik lebih lama dari yang perlu, menelan sesuatu yang panas di tenggorokannya, karena ia tahu pertanyaan itu tidak lahir dari keraguan ayahnya—pertanyaan itu lahir karena keraguan orang luar sudah sampai, merembes, menembus dinding triplek yang bahkan tidak sanggup menahan batuk.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya lewat tengah malam. Reyhan.
"Partai kita ditinjau. Orang federasi tanya saya, apa saya merasa ada yang janggal waktu itu. Saya jawab yang sebenarnya: yang janggal bukan kamu menang, yang janggal kenapa baru sekarang orang mempertanyakan." Lalu, satu pesan lagi, beberapa menit kemudian: "Mereka sedang menggantung kamu. Jangan turun sendiri."
Galih menatap dua pesan itu lama. Rival yang dulu menyimpan catatan tentangnya di balik mata sedingin mesin kini mengiriminya peringatan dari dalam kota yang sama dengan mesin itu. Dunia memang sedang berbalik pelan-pelan, tapi balasan musuh datang lebih cepat.
Ia keluar ke teras. Udara malam kabupaten, bau tanah dan sisa hujan. Di dalam kamar, batuk ayahnya mereda pelan-pelan. Galih memikirkan nama yang digantung, keraguan yang ditiupkan, lembar notasi yang diperiksa oleh tangan-tangan yang sama yang menukar tanda terima bercap lengkap. Ia bisa melawan ini dengan kata-kata—menyangkal, menjelaskan, mengadu—tapi kata-kata melawan bisik adalah perang yang sudah kalah sebelum dimulai; ia melihat itu jelas, seperti melihat garis yang kalah di papan.
Tidak. Ia hanya punya satu bahasa yang tidak bisa dipalsukan siapa pun. Satu hakim yang tidak bisa disuap, tidak bisa diberi disposisi, tidak bisa diberi tahu bahwa lengkap berarti belum lengkap.
Ia kembali masuk, mengambil ponsel bututnya, dan menelepon Mita. Nada dering dua kali.
"Mita," katanya ketika sambungan tersambung, dan suaranya sendiri terdengar tenang dengan cara yang baru, "mereka bilang tangan saya dituntun mesin. Baik. Saya mau menantang mereka membuktikannya. Di papan. Terbuka. Di depan siapa saja."
Di seberang sana ada jeda, lalu bunyi pena ditarik dari saku, bunyi yang sudah sangat Galih kenal.
"Kapan?" tanya Mita.
Galih menatap papan retaknya di sudut ruangan, tutup botol gajah yang berdiri miring di kotaknya. "Secepatnya," katanya. "Sebelum keraguan itu sempat menjadi keputusan."