Galih memenangi open kabupaten itu. Tujuh ratus lima puluh ribu dibungkus amplop cokelat yang ujungnya disteples dua kali, diserahkan ketua panitia di depan papan demonstrasi sambil disiarkan langsung oleh satu kamera ponsel ke grup warga. Foto Galih memegang amplop itu—rambut basah keringat, kaus yang lehernya sudah melar—beredar sebentar lalu tenggelam di bawah foto pemenang lomba balap karung anak-anak.
Di rumah, amplop itu tidak bertahan satu malam.
Ibunya membuka steples dengan kuku, menghitung lembar demi lembar di bawah lampu dapur, lalu membaginya seperti membagi nasi: sekian untuk tunggakan listrik warnet, sekian untuk beras dan minyak, sekian untuk obat ayahnya yang batuknya makin sering terdengar dari balik dinding triplek. Yang tersisa, sehelai lima puluh ribuan yang sudah lusuh, diselipkan ibunya kembali ke tangan Galih.
"Buat kamu. Jajan."
"Bu, ini—"
"Ambil. Sekali-sekali jangan ngerepotin diri sendiri."
Galih menggenggam lembar itu dan tahu persis berapa harga sebuah langganan. Ia tahu karena ia sudah berkali-kali membuka situs catur dari bilik warnet saat sepi, melihat tombol berlangganan dengan angka per bulan yang sama dengan sepertiga uang juara tadi. Langganan itu memberi mesin analisis—program yang bisa membongkar setiap partai, menunjukkan di langkah mana ia salah, garis mana yang sebenarnya benar. Langganan itu juga membuka pintu ke jutaan partai pemain dunia, gudang teori yang bisa dibuka kapan saja seperti orang membuka lemari es.
Ia pernah, sekali, menempelkan partai kemenangannya melawan pegawai pajak ke mesin gratisan yang hanya jalan beberapa detik sebelum minta dibayar. Dalam detik-detik pendek itu, mesin sudah menorehkan angka di sebelah langkah-langkahnya. Kuda pinggir yang ia banggakan, yang menjeratnya seperti pencuri di gang, dinilai mesin sebagai kesalahan. Bukan kesalahan besar. Hanya angka kecil di sisi merah. Tapi angka itu menusuk, karena artinya jelas: seandainya lawannya bukan manusia yang panik, melainkan mesin yang dingin, ia sudah kalah di langkah itu, bukan menang.
"Kamu menang, kok murung," kata Mas Topan, pemilik warnet, saat Galih datang menjaga shift malam.
"Nggak murung. Mikir."
"Mikir apa?"
Galih tidak menjawab. Ia menatap deretan bilik, anak-anak SMP yang main daring sambil berteriak, dan di kepalanya berputar gambaran ruang lain yang belum pernah ia lihat—ruang ber-AC tempat anak-anak seusianya di ibu kota duduk di depan layar lebar, ditemani pelatih bergelar, membongkar partai dengan mesin yang berbicara dalam angka pasti. Anak-anak itu tidak perlu menebak. Mereka tahu. Mereka membayar untuk tahu, dan tahu adalah kemewahan yang harganya sama dengan obat ayahnya.
Malam itu ia membuka diagram lama dari koran kuning lagi, menyusunnya di papan retak. Tapi kali ini ia tidak hanya menyusun. Ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri pertanyaan yang biasa dijawab mesin: kalau lawan main paling benar di sini, apa yang terjadi? Ia menghitung tiga langkah, lima langkah, dan setiap kali sampai di titik di mana ia tak yakin, ia membentur dinding. Tak ada yang membenarkan atau menyalahkannya. Tak ada mesin yang berkata "di sini kamu salah". Hanya ada dirinya dan gelap.
Ia sadar, dengan getir yang pelan-pelan mengeras, bahwa selama ini ia tidak benar-benar tahu apa-apa. Ia hanya tahu cara membuat orang takut. Itu beda. Membuat orang takut bisa dipelajari dari menjaga warnet. Mengalahkan papan itu sendiri butuh sesuatu yang ia tak mampu beli.
Di grup catur kabupaten yang ia ikuti dari ponsel butut, orang-orang membahas seorang anak dari akademi ibu kota yang katanya akan turun di kualifikasi wilayah bulan depan. Reyhan, namanya. Foto yang beredar memperlihatkan pemuda seumurannya, kemeja bersih, duduk di depan papan turnamen dengan ekspresi yang sama sekali tak gugup—ekspresi orang yang jamnya tak pernah mepet karena ia tak pernah perlu menebak. Di bawah fotonya tertulis rating, sebuah angka yang lebih tinggi dari apa pun yang pernah dihadapi Galih, angka yang diraih dari ratusan partai resmi yang semuanya tercatat, teranalisis, terbedah.
Galih menutup ponsel. Lima puluh ribuan lusuh dari ibunya masih ada di sakunya. Ia bisa, seandainya ia tega, memakai itu untuk langganan setengah bulan. Setengah bulan akses ke kebenaran. Tapi setengah bulan kebenaran dan setengah bulan beras adalah pilihan yang tidak pernah benar-benar jadi pilihan di rumah ini.
Ia mengembalikan uang itu diam-diam ke kotak di atas lemari ibunya keesokan paginya, sebelum berangkat. Ia memutuskan, dengan keras kepala yang sudah jadi tulang punggungnya, bahwa ia akan menemukan cara untuk tahu tanpa membayar. Bahwa otaknya, yang sudah merekam ratusan partai dari memperhatikan orang lain, bisa jadi mesinnya sendiri—lebih lambat, lebih sering salah, tapi miliknya.
Masalahnya, ia belum tahu betapa lebar jurang antara menebak dan tahu. Ia akan belajar lebar itu dengan cara paling kasar: di seberang papan, dari lawan yang tak pernah menebak. Untuk sekarang, ia hanya menyusun ulang diagram koran kuning itu sekali lagi, mencari di mana letak langkah yang benar, dan untuk pertama kalinya merasa malu bahwa selama ini ia menertawakan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ia pahami.