Ada dua papan dalam setiap pertandingan. Yang pertama enam puluh empat kotak, jujur dan dingin. Yang kedua tidak punya kotak sama sekali: ia terbuat dari mata orang-orang yang menonton, dari bisik yang berpindah dari mulut ke mulut, dari nama yang diucapkan dengan kagum atau dengan curiga. Seumur hidupnya Galih hanya peduli pada papan pertama. Musim itu ia belajar bahwa papan kedua juga bisa dimenangi—dan juga bisa dicuri.
Undangan itu datang dari panitia hari jadi kabupaten: satu partai eksibisi di alun-alun, di atas panggung, dengan papan demonstrasi raksasa berdiri di belakang para pemain. Lawannya pemain veteran berperingkat dari kota sebelah—lelaki paruh baya yang sama yang dulu nyaris menjatuhkan Galih lewat jam di kualifikasi wilayah, yang kini mau datang karena bayarannya lumayan dan karena, katanya pada panitia, ia ingin tahu apakah anak itu sungguhan.
Mas Topan yang menyuruh Galih menerima. "Ambil. Orang sekampung harus lihat kamu main. Biar mereka tahu apa yang dicuri dari kamu itu harganya berapa."
Alun-alun penuh sejak sore. Kursi plastik berbaris-baris, pedagang pentol mengitari tepi lapangan, lampu sodium menyala kuning ketika langit mulai gelap, dan papan demonstrasi tua itu—engselnya berderit setiap kali petugas memindahkan bidak sebesar piring—berdiri di belakang panggung seperti layar pertunjukan wayang. Ibu datang, duduk di barisan tengah dengan kerudung rapi; ayah tidak, batuknya tidak mengizinkan, tapi sebelum berangkat ia berkata dari balik dinding triplek: "Menang yang ramai, biar sampai ke sini suaranya." Di sudut paling belakang, Pak Sastro duduk dengan koran terlipat di pangkuan yang tidak pernah ia baca.
Dan anak itu—anak yang dulu berteriak dari bilik tujuh, yang sekarang sudah SMP dan punya ponsel hasil menabung—berdiri di sisi panggung, merekam.
Wasit menekan jam, dan Galih bermain seperti orang yang sedang membayar utang pada sebuah kampung.
Ia tidak bermain aman. Ia membawa partai itu ke belantara sejak langkah ketujuh, ke posisi yang membuat pemain veteran itu mengernyit dan penonton—yang sebagian besar tidak tahu bedanya kuda dan benteng—ikut menahan napas hanya karena papan demonstrasi memperlihatkan bidak-bidak berdiri di tempat-tempat yang terasa salah dan berbahaya. Di langkah kesembilan belas, Galih mengorbankan benteng. Petugas memindahkan bidak besar itu keluar papan demonstrasi dengan bunyi berderit yang terdengar sampai ke penjual pentol, dan seribu orang mengeluarkan suara yang sama: serapan napas, panjang, seperti satu paru-paru raksasa.
Veteran itu berpikir dua puluh menit. Dua puluh menit alun-alun diam. Dan ketika ia akhirnya menjawab, Galih sudah menunggu—jawaban demi jawaban, jerat menutup lapis demi lapis, sampai di langkah ketiga puluh dua raja hitam tidak punya satu pun kotak yang tidak diawasi, dan lelaki paruh baya itu merebahkan rajanya sambil tertawa, tertawa sungguhan, dan berkata cukup keras untuk didengar barisan depan: "Anak ini setan. Setan yang jujur."
Alun-alun meledak. Orang-orang berdiri. Ibu, di barisan tengah, tidak berdiri dan tidak bertepuk tangan; ia hanya menunduk sebentar, dan Galih yang melihatnya dari panggung tahu persis artinya: anaknya menang, dan kemenangan itu terdengar sampai ke balik dinding triplek.
Seminggu kemudian, klip itu beredar.
Anak bilik tujuh yang mengunggahnya. Tiga menit rekaman yang goyang: pengorbanan benteng, derit papan demonstrasi, serapan napas seribu orang, raja yang direbahkan, tawa sang veteran. Ia memberi keterangan pendek di bawahnya, kalimat yang ia tulis dengan bahasa anak SMP namun entah kenapa mengena seperti tusukan: ini Galih, penjaga warnet di kampung kami, juara wilayah, anak warnet yang dicuri kuotanya.
Klip itu berpindah dari satu ponsel ke ponsel lain. Dari grup warga ke grup kecamatan, dari grup kecamatan ke grup-grup catur provinsi. Angka penontonnya bukan jutaan—Mita yang mengecek berkata puluhan ribu, dan untuk kabupaten mereka, puluhan ribu adalah sebuah kota kecil yang berdiri di belakang satu orang. Komentar-komentar datang: orang yang tidak paham catur marah karena pencurian itu, orang yang paham catur kagum karena pengorbanan benteng itu, dan semuanya mengulang kalimat yang sama seperti mengulang langkah pembuka: anak warnet yang dicuri kuotanya.
Dukungan itu berwujud hal-hal kecil. Tukang sayur menambahkan seikat kangkung ke belanjaan ibu tanpa menambah harga. Langganan warnet yang bertahun-tahun menunggak tiba-tiba membayar sambil menepuk bahu Galih. Pak RT mampir dan berkata, dengan gaya orang yang tidak biasa membicarakan perasaan, bahwa "warga sini tahu kamu dikerjai, dan warga sini tidak buta". Di grup catur kabupaten, orang-orang yang dulu membahas Reyhan dengan kagum kini membahas federasi dengan geram.
Mita mengikuti semuanya dari jauh, mencatat, dan suatu malam di warnet ia berkata: "Ini yang tidak bisa mereka beli, Galih. Uang bisa mengatur berkas. Uang tidak bisa mengatur seribu orang yang menahan napas bersama di alun-alun. Kamu baru saja membuka papan kedua—dan kali ini, kamu yang memegang bidak putih."
Galih mengangguk. Ia merasakannya juga: untuk pertama kalinya sejak babak penentu, angin tidak bertiup sepenuhnya dari arah musuh. Namanya diucapkan orang dengan dagu terangkat, bukan dengan bisik. Papan kedua, papan tanpa kotak itu, untuk sementara menguntungkannya.
Tapi malam itu juga, sendirian di kursi penjaga warnet setelah pintu ditutup, ia memutar ulang klip goyang itu di ponsel bututnya dan tidak bisa menahan pikiran yang datang tanpa diundang: di suatu ruangan ber-AC yang dingin, di meja yang panjang, orang-orang yang sama yang mencuri kuotanya pasti sedang menonton klip yang sama. Dan mesin yang baik tidak pernah membiarkan papan kedua berpihak pada lawannya terlalu lama.