Nyala yang kecil tidak boleh dibiarkan melawan angin. Ia harus ditutupi dengan dua telapak tangan, dibawa berjalan pelan-pelan, dijaga dari hujan dan dari orang yang terlalu bernafsu meniupnya—karena nyala yang padam sebelum waktunya tidak akan menyala dua kali.
Kabar itu datang lewat Mita, lewat pesan pendek di ponsel butut Galih: ada orang di dalam yang mau bicara. Pegawai muda bagian umum, katanya, yang kebetulan mengurus ruang berkas pada minggu-minggu ketika kuota itu berpindah tangan. Ia tidak menghubungi koran mana pun. Ia menghubungi Mita karena ia membaca catatan-catatan kecilnya di koran kecil itu dan memutuskan—entah oleh apa—bahwa perempuan ini bisa dipercaya.
Mereka bertemu bukan di kantor, bukan di warnet, bukan di tempat mana pun yang punya nama. Warung kopi di pinggir jalan lintas provinsi, jam sembilan malam, ketika truk-truk sudah mulai jarang dan hujan rintik membuat kaca jendela berembun. Lelaki muda itu datang dengan jaket bertudung meski udara tidak dingin, duduk membelakangi pintu, dan matanya menyapu jalan setiap kali ada lampu kendaraan lewat. Usianya mungkin dua puluh enam, dua puluh tujuh. Tangannya memeluk gelas kopi seperti orang kedinginan.
"Sebelum saya bicara," katanya tanpa basa-basi, suaranya rendah, "saya mau ini jelas dulu. Nama saya tidak keluar. Di mana pun. Sampai saya sendiri yang bilang boleh."
"Off the record," kata Mita. Ia bahkan tidak membuka buku catatannya; ia meletakkannya di meja, tertutup, sebagai tanda. "Saya tidak menulis nama. Saya menulis kebenaran. Nama bisa belakangan, kalau Mas sudah siap."
"Kalau." Lelaki itu tertawa pendek, tanpa humor. "Istri saya baru melahirkan bulan lalu. Saya pegawai kontrak. Kontrak saya diperbarui tiap enam bulan oleh orang-orang yang tanda tangannya ada di berkas itu. Kalian tahu apa artinya? Artinya saya ini pion. Pion yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat."
Galih tidak bicara. Ia tahu rasa takut yang sedang bicara di seberang meja itu; ia mengenalinya seperti mengenali langkah sendiri di papan. Ia pernah menggantungkan jari di atas huruf G sementara genteng rumahnya berlubang dan ayahnya dipapah ringan seperti karung setengah kosong. Takut pada orang yang bisa mengambil bukanlah takut yang memalukan. Itu takut yang paling masuk akal di dunia.
"Ceritakan saja pelan-pelan," kata Galih. "Tidak ada yang buru-buru."
Lelaki itu menarik napas. Lalu ia bercerita, dan suaranya makin lama makin cepat, seperti orang yang akhirnya memuntahkan sesuatu yang terlalu lama disimpan. Ia yang menerima berkas itu, katanya. Berkas kuota atas nama Galih. Ia sendiri yang memeriksa, yang menstempel tanda terima, yang menulis tanggal di sudut kanan atas. Lengkap. Ia ingat persis karena hari itu ia pulang cepat—istrinya ngidam rujak—dan ia menstempel berkas itu sebagai pekerjaan terakhir sebelum kantor tutup.
"Dua minggu kemudian berkas yang sama kembali ke meja saya. Sama persis. Map yang sama, isi yang sama—tapi dengan catatan baru: belum lengkap. Ditunda. Ada lembar disposisi yang menyertainya." Ia menelan ludah. "Saya tanya ke atasan. Jawabannya: jalankan saja, jangan banyak tanya, ini urusan pembinaan."
"Disposisi itu ditandatangani siapa?" tanya Mita, pelan.
Lelaki itu diam lama. Hujan rintik mengetuk atap seng warung. Ia menatap kopinya, lalu menatap jendela, lalu menggeleng—bukan menolak menjawab, melainkan menolak mengucapkan.
"Saya tidak akan menyebut namanya malam ini," katanya akhirnya. "Maaf. Bukan karena saya tidak percaya kalian. Karena kalau nama itu keluar dari mulut saya, lalu sampai ke orang yang salah sebelum saya siap, habis saya. Tapi begini saja." Ia mencondongkan badan. "Saya pernah membaca arsip lama. Dua puluh tahun lalu ada kasus yang sama, berkas yang sama-sama katanya belum lengkap, di ruangan yang sama. Lembar disposisinya masih tersimpan. Parafnya..." Ia berhenti, memilih kata seperti orang memilih langkah di posisi berbahaya. "Parafnya sama dengan paraf di lembar disposisi berkas Mas Galih. Orangnya sama. Dua puluh tahun. Orangnya sama."
Mita dan Galih saling melirik. Nama itu tidak perlu diucapkan; ia sudah lama berdiri di antara mereka seperti bidak yang dibiarkan di kotak terbuka.
"Kenapa Mas mau cerita ini ke kami?" tanya Galih. "Kalau risikonya sebesar itu."
Lelaki muda itu diam. Tangannya berhenti memeluk gelas. "Karena waktu saya menstempel berkas itu, saya tidak tahu apa-apa. Waktu berkas itu kembali dengan catatan belum lengkap, saya pura-pura tidak tahu apa-apa. Dua kali sudah saya menutup mata." Ia menatap Galih, dan untuk pertama kali ada sesuatu selain takut di matanya. "Anak saya laki-laki. Lahir bulan lalu. Saya tidak mau dua puluh tahun lagi dia bertanya, Bapak dulu kerjanya apa, dan saya menjawab: menutup mata."
Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Sebuah truk lewat di luar, lampunya menyapu dinding warung, dan lelaki itu menunduk refleks sampai cahaya itu berlalu.
"Dengar," kata Galih akhirnya. "Saya tidak akan meminta Mas bicara lebih dari yang Mas bisa. Saya tahu rasanya jadi pion. Tapi satu hal saya janji: nama Mas aman sampai Mas sendiri yang memutuskan. Kami tidak buru-buru. Nyala kecil begini harus dijaga dulu, ditutup telapak. Kalau ditiup angin sekarang, padam. Dan kalau padam sebelum waktunya, tidak akan menyala dua kali."
Lelaki itu mengangguk, cepat, berkali-kali, seperti orang yang lega mendengar ketakutannya diucapkan orang lain tanpa dihakimi.
Mereka berpisah di depan warung. Lelaki muda itu menyalakan motornya, memakai helm, dan sebelum pergi ia berkata satu kalimat terakhir, pelan, nyaris hilang ditelan suara mesin.
"Berkas itu lengkap. Saya yang menstempel. Suatu hari nanti, kalau sudah waktunya, saya akan mengatakan itu di tempat yang membuat orang-orang harus mendengarnya."
Lalu ia hilang di jalan lintas, lampu belakangnya titik merah kecil yang makin jauh, makin kecil, tapi tidak padam. Mita menutup bukunya—yang sepanjang pertemuan tidak pernah ia buka—dan menyimpannya ke dalam tas.
"Dia belum memberi kita apa-apa yang bisa dicetak," katanya.
"Dia memberi kita sesuatu yang lebih penting dari cetakan," kata Galih, menatap titik merah yang menghilang di tikungan. "Dia memberi kita orang."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak kuotanya dicuri, kebenaran tidak lagi berupa kertas dan cap dan cerita dua puluh tahun yang lalu. Kebenaran punya tubuh, punya suara yang bergetar, punya jantung yang berdebar di balik jaket bertudung—dan tugas mereka sekarang sederhana saja, dan beratnya minta ampun: menjaga nyala kecil itu agar tidak padam sebelum waktunya tiba.