Remis yang paling berbahaya tidak pernah ditawarkan di atas papan. Ia datang dalam amplop cokelat, dalam surat berkop, dalam kalimat yang ditata begitu rapi sampai terdengar seperti kebaikan—dan menolaknya jauh lebih sulit daripada menolak remis di langkah ketiga puluh sembilan, karena yang menawarkannya bukan lawan, melainkan orang-orang yang memegang pintu.
Surat itu tiba di warnet pada siang yang biasa, diantar kurir berseragam, ditujukan kepada Galih dengan sebutan yang terlalu hormat untuk sebuah surat pembawa kabar buruk: peserta kejuaraan nasional. Isinya undangan. Klarifikasi administratif, begitu tertulis, di kantor federasi provinsi, mengenai kelengkapan berkas kuota pembinaan. Nada surat itu hangat. Justru kehangatannya yang membuat bulu kuduk Galih berdiri.
Pak Sastro membaca surat itu dua kali di rumah cat hijau, lalu meletakkannya di meja dengan gerakan orang meletakkan sesuatu yang berbahaya.
"Dua puluh tahun lalu saya dapat surat yang isinya persis begini," katanya pelan. "Beda kop, beda nama, kalimatnya sama. Mereka tidak pernah mengubah langkah, Nak. Kenapa repot-repot, kalau langkah lama selalu menang."
"Kali ini tidak akan menang, Pak."
"Kali ini," Pak Sastro menatapnya, "kamu tidak pergi sendirian."
Ia memang tidak pergi sendirian. Di sebelahnya, di dalam bus antarkota yang bergetar menuju provinsi, duduk Mita dengan tas kanvas dan buku catatan bersampul biru. Tidak ada kamera, tidak ada alat rekam yang mencolok—hanya buku dan pena, karena Mita bilang, dengan senyum wartawan yang sudah belajar dari jalanan, bahwa kertas adalah alat perekam yang paling tidak membuat orang waspada.
Kantor federasi itu berada di lantai tiga sebuah gedung tua yang pendingin udaranya terlalu dingin. Mereka diterima di ruang rapat kecil: meja panjang, tiga gelas teh yang tidak disentuh siapa pun, dan seorang lelaki berusia lima puluhan berkemeja rapi yang memperkenalkan diri sebagai bagian pembinaan. Ia tidak menyebut nama atasannya. Ia tidak perlu.
"Terima kasih sudah mau datang, Nak Galih." Lelaki itu mengatupkan jari-jarinya di atas meja. "Kami di sini tidak ingin bermusuhan. Kami penggemar permainanmu. Sungguh."
"Berkas saya lengkap, Pak," kata Galih. "Ada tanda terimanya. Bercap lengkap. Ditandatangani."
"Persoalannya bukan lengkap atau tidak." Lelaki itu mengangkat tangan, lembut, seperti menenangkan anak kecil. "Persoalannya prosedur. Mengembalikan kuota yang sudah teralokasi itu rumit, Nak. Panjang. Bisa makan waktu bertahun, dan kamu tahu sendiri, tahun ajaran beasiswa tidak menunggu birokrasi. Kami tidak ingin anak berbakat jadi korban prosedur. Maka kami menawarkan jalan lain."
Jalan lain.
Galih mendengar dua kata itu dan, untuk sesaat, ia tidak lagi berada di ruang ber-AC tersebut. Ia berada di lapangan parkir berlampu sodium kuning, dan dua puluh tahun yang lalu merembes masuk ke kepalanya lewat suara Pak Sastro: ada tempat lain yang bisa diatur untuk saya, jalur lain. Kata-kata yang sama. Bau yang sama. Hanya kop suratnya yang baru.
"Jalan lain itu apa, Pak?"
"Posisi pemain binaan jalur khusus. Tunjangan bulanan—tidak besar, tapi cukup. Pelatihan. Kamu tetap bermain, tetap dibina, keluargamu tidak perlu menunggu hasil gugatan yang entah kapan selesai." Lelaki itu membuka map, menggeser selembar draf surat ke seberang meja. "Syaratnya satu. Kamu menandatangani pernyataan bahwa kamu memahami adanya kekurangan administratif dalam berkasmu—tidak usah panjang, satu paragraf—dan kamu menghentikan langkah-langkah hukum serta pemberitaan yang sedang berjalan. Semua selesai dengan baik. Semua senang."
Di sebelah Galih, pena Mita bergerak pelan di atas kertas, nyaris tanpa suara.
Galih menatap draf itu. Satu paragraf. Satu tanda tangan. Tunjangan bulanan untuk ibunya yang membagi amplop seperti membagi nasi, untuk obat ayahnya, untuk genteng yang badai kemarin merobohkan sebagian. Semua yang ia butuhkan, diletakkan rapi di atas meja, seperti remis yang menjamin dua kuota di langkah ketiga puluh sembilan dulu. Aman. Pasti. Tinggal bilang iya.
Lalu ia teringat kaleng biskuit ibunya, tanda terima bercap lengkap yang disimpan bertahun-tahun seperti orang menyimpan bukti bahwa hidupnya tidak bohong. Ia teringat kardus Pak Sastro, dua puluh tahun dokumen tentang pencurian yang sama. Ia teringat jari-jarinya sendiri menggantung di atas huruf G di layar ponsel, malam badai itu, dan apa yang akhirnya membuatnya tidak menekan.
"Boleh saya tanya satu hal, Pak," katanya. "Sebelum saya jawab."
"Silakan."
"Tawaran ini—jalur lain, tunjangan, syarat menandatangani pernyataan—ini tawaran resmi dari federasi?"
Lelaki itu tersenyum. "Anggap saja jalan damai."
"Tolong dijawab, Pak. Resmi atau tidak." Galih mencondongkan badan. "Soalnya kalau resmi, saya ingin teman saya mencatatnya dengan benar. Supaya tidak salah tulis. Berapa tunjangannya, apa persis syaratnya, dan atas nama siapa tawaran ini disampaikan."
Senyum lelaki itu tidak hilang, tapi sesuatu di belakang matanya berubah, seperti pemain yang tiba-tiba sadar bahwa langkah lawannya bukan blunder melainkan jebakan. Untuk pertama kali ia benar-benar menatap Mita—buku catatan bersampul biru, pena yang masih bergerak, perempuan muda yang sejak tadi tidak berkata apa-apa dan justru karena itu mencatat segalanya.
"Dua puluh tahun lalu," kata Galih pelan, "tawaran ini pernah disampaikan kepada seseorang di ruangan seperti ini. Sendirian. Tanpa saksi. Orang itu menolak, lalu namanya hilang dari daftar, dan tidak ada satu kertas pun di dunia ini yang mencatat bahwa tawaran itu pernah ada. Karena tidak ada yang melihat." Ia mengetuk meja sekali, pelan. "Kali ini ada yang melihat, Pak. Tawaran Bapak sudah tercatat. Kalimat per kalimat. Mau draf itu saya tandatangani atau tidak, mulai hari ini tawaran ini adalah bukti—bahwa federasi tahu berkas saya sebenarnya tidak bermasalah, dan memilih menawar saya supaya diam."
Ruangan itu menjadi sangat dingin, atau mungkin hanya terasa begitu. Lelaki itu menarik kembali drafnya, melipat map, dan berdiri dengan gerakan yang masih rapi meski kehangatannya sudah menguap seluruhnya.
"Kalau begitu kami anggap kamu menolak jalan damai," katanya. "Sayang sekali."
"Kami menganggap Bapak baru saja memainkan langkah yang jelek," kata Mita, berbicara untuk pertama kalinya, tanpa mengangkat wajah dari bukunya. "Di hadapan saksi."
Turun ke lantai dasar, udara sore menghantam mereka seperti kain panas. Di seberang jalan, di bawah pohon, Pak Sastro menunggu dengan koran terlipat di tangan—ia tidak mau ikut naik; katanya ruangan seperti itu membuat tangannya gemetar lagi, dan tangannya baru saja berhenti gemetar. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menatap wajah Galih.
"Mereka menawar remis, Pak," kata Galih.
"Dan?"
"Saya tolak. Dengan saksi."
Pak Sastro mengangguk pelan. Tidak ada senyum, tidak ada pelukan. Hanya anggukan orang yang dua puluh tahun menunggu seseorang menolak di ruangan yang sama, dan akhirnya melihatnya. Di lantai tiga, di balik kaca gelap, samar-samar tampak bayangan lelaki berkemeja rapi masih berdiri menatap ke bawah. Galih tahu penolakan remis bukan akhir partai. Penolakan remis hanyalah langkah pertama—dan langkah pertama selalu dijawab.