Genteng tidak pernah ambruk karena satu tetes hujan. Ia ambruk karena ribuan tetes yang datang bertahun-tahun, ditampung kayu yang makin lapuk, ditambal seadanya oleh orang yang tidak pernah punya cukup uang untuk menambalnya benar—lalu satu malam langit datang menagih semuanya sekaligus, dengan bunyi yang tidak bisa diajak berunding.
Badai itu datang lewat tengah malam, di akhir bulan yang paling berat. Anginnya bukan angin biasa; angin itu seperti tangan raksasa yang meneliti rumah mereka sebatang demi sebatang, mencari mana yang paling lemah. Galih terbangun oleh bunyi yang akan ia ingat seumur hidupnya—bukan bunyi jatuh, melainkan bunyi menyerah: kayu penyangga di atas ruang tengah yang retak dengan keluhan panjang, lalu genteng-genteng runtuh masuk bersama air yang sudah menunggu di atasnya, satu bidang atap seluas tikar yang tiba-tiba menjadi langit.
"Galih! Air!"
Mereka bergerak dalam gelap dan hujan yang menyambar masuk. Ibunya menyeret tikar dan panci dan ember ke titik-titik bocor yang baru, tapi titik-titik itu terlalu banyak, air datang dari langit-langit seperti rumah ini sudah bukan rumah melainkan saringan. Galih memapah ayahnya dari kamar—lelaki itu ringan, astaga, ringan seperti karung setengah kosong—ke sudut dapur yang masih kering, menyelimutinya dengan satu-satunya selimut yang tidak basah. Ayahnya batuk sepanjang jalan, batuk yang bercampur bunyi hujan sampai Galih tidak bisa membedakan mana yang lebih menghancurkan.
Dan kaleng biskuit di atas lemari. Ibunya memanjat kursi di tengah air yang menggenang mata kaki, mengambil kaleng itu, mendekapkannya ke dada seperti mendekap bayi—kwitansi listrik, nota beras, resep dokter, seluruh bukti bahwa hidup mereka pernah berjalan—dan Galih, yang menatapnya dari bawah, merasa ada sesuatu di dadanya yang runtuh lebih parah dari genteng mana pun.
Pagi datang dengan langit bersih yang tidak tahu malu. Kerusakannya bisa dihitung, dan menghitung adalah keahlian keluarga ini: delapan genteng pecah, dua kayu penyangga patah, plafon triplek ruang tengah hancur kena air, kasur orang tuanya basah. Tukang yang dipanggil tetangga berjongkok di atas atap, lalu turun dengan angka yang diucapkannya pelan karena ia tahu pada siapa ia berbicara. Angka itu, ditambah obat yang harus ditebus minggu ini, ditambah tunggakan listrik yang sudah dua kali diperingatkan, menjumlah jadi sesuatu yang lebih besar dari segala yang mereka punya, lebih besar dari segala yang bisa mereka pinjam tanpa malu.
"Tambal yang atas kamar Bapak dulu saja," kata ibunya pada tukang itu, cepat, sudah menghitung ulang sebelum orang lain sempat bicara. "Ruang tengah nanti. Pakai terpal dulu bisa."
Yang menghancurkan Galih bukan angkanya. Angka bisa dilawan, dicicil, diakali. Yang menghancurkan adalah bahwa sepanjang pagi itu, sepanjang siang, sepanjang sore—ibunya tidak pernah sekali pun meminta apa-apa.
Tidak ada "Lih, bagaimana kalau...". Tidak ada "katanya ada orang yang bisa bantu itu...". Tidak ada satu pun kalimat yang mengarah ke sana. Ibunya tahu—Galih yakin ibunya tahu, ibu selalu tahu—bahwa ada satu nomor di ponsel anaknya yang bisa mengubah semua ini, bahwa ada lelaki berbatik rapi yang bisa membuat genteng terpasang besok pagi dan kamar rumah sakit tersedia minggu ini. Tetangga membicarakannya. Kabar kecil selalu sampai ke ibu-ibu. Tapi perempuan itu hanya memasak air, menjemur kasur basah di sisa terik, membelah dua telur menjadi lauk bertiga seperti biasa, dan sekali—sekali saja, saat mengira Galih tidak melihat—duduk di tepi sumur belakang dengan wajah yang menghadap ke bawah, bukan menangis, hanya diam, diam yang lebih berat dari kata-kata apa pun yang pernah diucapkannya.
Ibunya tidak meminta apa-apa, dan justru itu yang menghancurkannya. Kalau ibunya meminta, Galih bisa menjawab, bisa berdebat, bisa mempertahankan jalan yang ia pilih dengan kata-kata. Tapi diam itu tidak bisa dilawan. Diam itu berkata: aku percaya kamu tahu apa yang kamu lakukan—dan kepercayaan itu, di rumah dengan atap berlobang dan ayah yang batuk di sudut kering, terasa seperti hukuman yang tidak dijatuhkan siapa pun tapi harus dijalani seseorang.
Malam itu Galih menjaga warnet, shift yang tidak mungkin ia tinggalkan karena uangnya adalah uang makan besok. Bilik-bilik kosong, hujan sudah lama berhenti, dan lampu berdengung seperti lalat yang tak mau mati. Papan retaknya tergeletak di meja, bidak-bidak tersusun pada posisi awal, menunggu partai yang tidak datang. Di saku celananya, ponsel butut itu terasa berat seperti batu.
Ia mengeluarkannya.
Layar kecil menyala. Daftar kontak yang pendek—Mas Topan, Pak Sastro, rumah, Mita, wasit. Dan di antara huruf-huruf nama itu, satu kontak yang bukan nama: G. Satu huruf yang ia simpan sendirian di malam yang penuh jijik, satu huruf yang memuat genteng, obat, antrean rumah sakit, dan senyum yang hangat seperti keluarga.
Tinggal bilang iya.
Ia memikirkan Pak Sastro, yang dua puluh tahun lalu memilih papan dan kehilangan segalanya—dan yang kemarin sore tertawa di depan papan kayu untuk pertama kali sejak zamannya. Ia memikirkan kertas-kertas di tangan Mita, wasit yang menulis "yang bener ya bener", Reyhan yang berkata saya nggak mau masuk dengan cara itu. Semua orang itu sudah menaruh sesuatu di atas meja, memercayakan sebagian dirinya pada jalan yang ia pilih. Kalau ia menelepon malam ini, jalan itu selesai—bukan dengan kekalahan, melainkan dengan remis yang paling memalukan: menyerah saat posisi belum mati, hanya karena rumahnya kehujanan.
Tapi ibunya duduk di tepi sumur dengan wajah menghadap ke bawah. Ayahnya dibawa ke sudut kering seperti karung setengah kosong. Delapan genteng pecah, dua kayu patah, satu angka dari tukang yang diucapkan pelan. Dan di seberang sana, di ujung satu huruf G, ada dunia yang bisa membereskan semuanya sebelum matahari terbit—dunia yang hanya meminta satu hal kecil: berhenti.
Jari Galih bergerak ke atas layar.
Dan menggantung di sana.
Seperti dulu, di gedung olahraga, tangannya menggantung di atas bidak pengorbanan—tapi dulu yang dipertaruhkan cuma kemenangannya sendiri, cuma namanya sendiri, dan papan di bawahnya jujur. Kali ini yang di bawah jarinya bukan papan. Kali ini yang dipertaruhkan punya batuk, punya punggung yang bungkuk menyetrika, punya kaleng biskuit yang didekap di tengah banjir. Kali ini tidak ada wasit yang mencatat, tidak ada penonton yang menahan napas, tidak ada langkah keempat puluh yang menunggu dibuktikan benar.
Hanya ada sebuah warnet kosong, sebuah ponsel butut, satu huruf yang menyala kecil—dan jari seorang anak yang menggantung di atasnya, untuk pertama kalinya benar-benar menggantung, di antara menjadi orang yang benar dan menjadi anak yang baik, sementara di luar sana malam berdiri diam seperti lawan yang sudah menghitung semua jawaban dan cukup sabar untuk menunggu.