Tawaran pertama selalu manis. Tawaran terakhir tidak perlu lagi manis, karena ia sudah tahu kamu lapar. Galih memikirkan ini saat kaca mobil hitam itu turun perlahan di tepi jalan depan warnet, di bawah lampu sodium yang membuat wajah di dalamnya tampak kuning seperti foto lama.
"Galih. Masuk sebentar. Dingin di luar."
Gunawan. Baju batik kali ini, senyum yang sama, jam tangan yang sama. Di dalam mobil hangat dan wangi kulit, dan kehangatan itu sendiri terasa seperti pernyataan: lihat, dunia bisa senyaman ini. Galih masuk karena menolak masuk pun percuma—lelaki ini datang bukan untuk bertanya, dan pintu mobil yang tertutup di belakangnya berbunyi seperti langkah yang sudah dihitung sepuluh langkah sebelumnya.
"Bapakmu bagaimana?" tanya Gunawan, hangat, seperti keluarga. "Kabarnya sudah dapat rujukan rontgen? Bagus, bagus. Jangan ditunda-tunda soal itu. Paru-paru tidak bisa diajak kompromi."
"Sehat-sehat saja, Pak," kata Galih, dan bohongnya terdengar tipis bahkan di telinganya sendiri.
"Kamu sibuk akhir-akhir ini." Gunawan tidak bertanya; ia menyatakan. Ia menatap ke luar kaca, ke arah warnet, santai seperti orang membicarakan cuaca. "Rajin sekali fotokopi tengah malam. Mas Topan sampai ganti lampu pojok, ya? Lampu yang lama memang redup."
Darah Galih berhenti sebentar, lalu berjalan lebih cepat. Mereka tahu. Mereka tahu soal fotokopi, soal lampu, soal hal-hal kecil yang ia kira tidak dilihat siapa pun. Dan Gunawan menyebutnya dengan nada sedemikian ringan, seolah menyebut harga beras—karena justru itu pesannya: tidak ada yang kamu lakukan yang tidak kami lihat.
"Saya akan jujur sama kamu, Galih, karena saya menghormati anak muda yang pintar." Gunawan menoleh, dan senyumnya masih ada, tapi kini seperti senyum wasit sebelum mengumumkan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Sampai sekarang kami selalu menawarimu sesuatu. Itu kebiasaan kami. Kami senang memberi. Tunjangan, pelatih, kamar rumah sakit yang bagus untuk Bapakmu, tunggakan yang beres tanpa bunyi—semua masih bisa, masih tersedia, mejanya masih terbuka." Ia berhenti sebentar, membiarkan kehangatan mobil itu bekerja. "Tapi kamu mulai sibuk dengan hal-hal yang membuat teman-teman saya gelisah. Kertas-kertas. Orang-orang yang kamu temui. Wartawan."
Galih tidak menyangkal. Menyangkal di depan orang yang sudah tahu hanya membuatmu tampak kecil.
"Jadi saya datang bukan untuk menawar lagi. Saya datang untuk menjelaskan papan." Suara Gunawan tetap lembut, dan justru kelembutan itu yang membuat bulu tengkuk Galih berdiri. "Warnet tempatmu bekerja, Galih—kamu kira Mas Topan pemilik gedung itu? Dia ngontrak. Dan pemilik gedungnya punya utang, dan utang itu sekarang ada di tangan perusahaan yang bersahabat dengan kami. Satu telepon, dan gedung itu dipakai untuk hal lain. Mas Topan tidak pernah cerita, kan? Orang baik memang jarang cerita soal utangnya."
Galih menatap lurus ke depan, ke kaca mobil yang mengembun. Di luar, lampu sodium bergoyang pelan ditiup angin.
"Obat Bapakmu. Rujukan ke rumah sakit kota itu butuh jaminan, dan jaminan bisa dipercepat kalau ada yang menelepon—atau diperlambat, kalau tidak ada yang menelepon, kalau antreannya tiba-tiba penuh, kamu tahu sendirilah birokrasi." Gunawan mengangkat bahu, prihatin seperti pembawa berita. "Kami bisa juga mengambil, Galih. Tidak hanya memberi. Itu yang ingin kamu dengar malam ini. Bukan ancaman—ancaman itu kasar. Ini cuma penjelasan tentang cara dunia bekerja. Dunia memberi pada yang menurut, dan berhenti memberi pada yang tidak."
"Dunia Bapak," kata Galih pelan.
"Dunia yang sama untuk semua orang, Nak. Saya cuma orang yang berbaik hati menjelaskannya lebih dulu." Gunawan mengeluarkan sesuatu dari sakunya—bukan kartu nama kali ini, melainkan tidak ada apa-apa; tangannya kosong, dan kekosongan itu disengaja. "Kamu lihat, saya bahkan tidak menaruh apa-apa di tanganmu malam ini. Karena keputusan kali ini bukan soal mengambil sesuatu. Ini soal berhenti. Berhenti fotokopi. Berhenti menemui orang. Berhenti memelihara wartawan. Kuota itu, biarkan jalan semestinya—tahun depan ada lagi, kamu masih muda, banyak jalan untuk anak sebakat kamu. Kami bahkan akan membantu jalan-jalan itu. Asal kamu berhenti."
"Dan kalau saya tidak berhenti?"
Gunawan menatapnya, dan untuk pertama kali senyum itu benar-benar hilang, dan wajah yang tersisa adalah wajah mesin—wajah yang sudah dua puluh tahun melakukan ini, kepada Pak Sastro, kepada entah berapa anak daerah lain yang namanya tidak sempat dicatat sejarah. "Maka kami menyimpulkan kamu bukan anak pintar. Dan kami kecewa. Kami tidak suka kecewa, Galih. Kekecewaan membuat kami harus menata ulang banyak hal—gedung, antrean rumah sakit, hal-hal kecil yang kamu bahkan tidak tahu bergerak karena kami." Ia menekan sesuatu, dan kunci pintu terbuka dengan bunyi lembut. "Jangan jawab sekarang. Orang yang menjawab terlalu cepat biasanya belum menghitung. Kamu pemain catur. Hitung dulu. Kami menunggu."
Galih keluar ke malam yang dingin, dan dingin itu langsung menempel di punggungnya yang basah keringat—dingin yang lebih dalam dari udara, dingin yang datang dari dalam mobil hangat tadi. Mobil hitam itu melaju tanpa suara, meninggalkannya sendirian di bawah lampu kuning, di depan warnet yang ternyata bukan milik siapa pun yang menyayanginya, di kota yang ternyata setiap batu bata dan setiap antrean rumah sakitnya punya nomor telepon yang bisa ditelepon orang seperti Gunawan.
Ia tidak menceritakan apa pun malam itu. Bukan pada ibunya, bukan pada Pak Sastro, bukan pada Mita. Ia pulang, mendengar batuk ayahnya di balik triplek, melihat ibunya menyetrika baju orang di sudut ruangan, dan berdiri di pintu lama sekali tanpa masuk. Malam itu ia mengerti satu hal yang tidak diajarkan papan mana pun: ada permainan di mana bidak-bidakmu tidak berdiri di atas meja. Mereka tidur di kamar sebelah. Mereka batuk di balik triplek. Mereka menyetrika sampai larut. Dan mereka bahkan tidak tahu sedang dimainkan.