Ada jam yang berhenti bukan karena rusak, melainkan karena pemiliknya tidak sanggup lagi mendengar bunyinya. Galih menemukan jam itu di dasar kardus Pak Sastro, di bawah kliping dan surat-surat luka: jam catur mekanis berkotak kayu, dua tombol di atasnya, jarumnya berhenti entah sejak dua puluh tahun yang lalu. Ia memutarnya pelan, dan per di dalamnya, ajaib, masih mau bekerja—seolah selama ini ia hanya menunggu seseorang cukup nekat untuk membangunkannya.
Perang kertas sudah berminggu-minggu memakan mereka berdua, dan Galih mulai melihat apa yang tidak ingin ia lihat: Pak Sastro menua lebih cepat di atas meja bukti daripada di mana pun. Lelaki itu menyalin tanggal sampai matanya merah, mencocokkan nama sampai punggungnya bungkuk, dan setiap malam pulang ke masa dua puluh tahun lalu—ke kamar tempat seseorang pernah menawarinya kalah dengan sopan. Galih datang untuk meminta gurunya berperang, dan gurunya berperang, tapi ada sesuatu di mata lelaki tua itu yang makin lama makin jauh, seperti pemain yang melihat papan tanpa lagi melihat bidak.
Maka sore itu Galih datang bukan dengan map, melainkan dengan jam tua itu, sudah bersih ia lap, sudah ia putar, sudah berdetak.
"Kita berhenti sebentar dari kertas, Pak," katanya, meletakkan jam di meja, di samping papan kayu yang sudah ia tata sendiri sebelum lelaki tua itu sempat menolak. "Satu partai. Bukan buat saya. Buat Bapak."
Pak Sastro menatap jam itu lama sekali. Galih melihat leher lelaki itu menelan sesuatu. "Jam itu—"
"Masih hidup, Pak. Kayak pemiliknya."
Untuk sesaat Galih mengira ia akan ditolak. Ada takut yang telanjang di wajah Pak Sastro, takut yang tidak pernah muncul saat mereka menghadapi federasi sekalipun—takut orang yang berdiri di depan pintu yang ia kunci sendiri dua puluh tahun. Tapi kemudian lelaki itu menarik kursi, pelan, seperti orang mendekati tepi jurang yang indah, dan duduk. Ia memegang buah putih. Ia selalu memegang buah putih di zaman jayanya, kata kliping-kliping di kardus itu.
Langkah pertama diambilnya dengan tangan gemetar.
Galih memperhatikan tangan itu—tangan yang dulu mengangkat piala provinsi tiga kali, kini bergetar di atas pion seperti orang yang lupa cara menulis namanya sendiri. Langkah-langkah awal Pak Sastro kaku, hati-hati, penuh maaf, seperti lelaki yang berjalan lagi setelah bertahun-tahun terbaring. Galih tidak menyerang. Ia membangun posisi yang wajar, memberi ruang, membiarkan lawannya mencari kakinya sendiri. Ini bukan partai untuk dimenangi. Ini partai untuk dipulangkan.
Dan kemudian, di suatu langkah di pertengahan permainan, sesuatu berubah.
Galih tidak bisa menunjuk langkah yang mana. Ia hanya tiba-tiba merasakannya—di seberang papan, seseorang baru saja pulang. Bidak-bidak Pak Sastro mulai berdiri di kotak-kotak yang benar dengan cara yang tidak diajarkan buku mana pun, cara yang hanya dimiliki orang yang pernah mencintai permainan ini lebih dari hidupnya sendiri. Sebuah manuver kuda yang lambat dan dalam. Sebuah pion yang didorong bukan untuk menyerang, melainkan untuk menyiapkan sesuatu yang baru terlihat lima langkah kemudian. Galih mendapati dirinya—dia, yang mengalahkan Reyhan—dihitung habis di posisi yang tampaknya tenang, dibawa ke sebuah akhir permainan yang ia tahu kalah sebelum ia sempat protes.
Tangan tua itu tidak gemetar lagi.
Galih merebahkan rajanya di langkah keempat puluh tujuh, dan untuk beberapa saat tidak ada satu pun dari mereka bicara. Pak Sastro menatap papan seperti orang menatap wajah yang dikiranya sudah dimakamkan. Matanya basah, dan ia tidak mengusapnya, dan Galih berpura-pura memperhatikan bidak supaya lelaki itu boleh basah dengan tenang. Haru tidak selalu butuh kata. Kadang haru cuma butuh orang lain yang cukup tahu diri untuk diam.
"Maaf," kata Pak Sastro akhirnya, suaranya parau. "Kamu datang untuk latihan, malah saya kalahkan."
"Saya datang untuk ini, Pak." Galih mulai menata ulang bidak, satu per satu. "Bapak dua puluh tahun mikirin orang yang nyuri dari Bapak. Saya cuma mau Bapak inget sebentar apa yang dicuri dari Bapak. Bukan kuota, Pak. Kuota mah kecil. Yang mereka curi ini—" ia menunjuk papan, "—yang ini nggak ternilai, dan untungnya mereka nggak sanggup bawa kabur. Cuma Bapak sendiri yang bisa ninggalin. Dan Bapak barusan balik."
Lelaki tua itu tertawa kecil di sela sisa tangisnya, suara paling lepas yang pernah Galih dengar darinya. Lalu tangannya bergerak ke jam kayu di sisi papan, menekan tombolnya, dan detak kedua mulai berjalan—bunyi yang tidak pernah terdengar di rumah cat hijau selama dua puluh tahun, bunyi yang dulu mengiringi namanya disebut juara di gedung-gedung provinsi.
"Lagi," kata Pak Sastro. "Satu partai lagi. Kali ini kamu yang putih. Dan jangan kasih kelonggaran—saya tahu tadi kamu ngalah di pembukaan."
Mereka bermain sampai magrib, lalu sampai lampu teras masjid menyala, lalu sampai istri tetangga mengetuk pagar mengingatkan soal jemuran. Untuk satu sore itu, kuota tidak ada. Wardhana tidak ada. Tanda terima dan rapat final dan perusahaan sponsor tidak ada. Yang ada hanya enam puluh empat kotak dan dua orang yang mencintainya, dan Galih berpikir betapa anehnya bahwa di tengah perang untuk membuktikan bahwa kemenangannya dicuri, ia justru menemukan kembali alasan kenapa kemenangan itu layak diperjuangkan—bukan untuk beasiswa, bukan untuk keadilan, melainkan untuk ini: sore yang lambat, papan yang jujur, dan lelaki tua yang tertawa saat kalah.
Saat Galih pamit, jam tua itu tidak kembali ke kardus. Ia tetap di atas meja, di samping papan, di tempat benda-benda yang dipakai setiap hari. Kardusnya sendiri, Galih perhatikan, untuk pertama kali didorong ke bawah meja—ke tempat benda-benda yang sudah selesai.