Api yang paling berguna bukan yang paling besar. Api yang paling besar cuma membuat semua orang lari sebelum ada yang sempat dihangatkan. Galih memikirkan ini saat perempuan muda itu duduk di kursi tunggu warnet, di antara anak-anak SMP yang berteriak pada layar, membawa map cokelat yang ia peluk seperti orang memeluk sesuatu yang bisa meledak.
Namanya Mita. Galih mengingatnya—perempuan itu yang mewawancarainya sehabis babak penentu, wartawan dari koran kabupaten yang oplahnya mungkin tak sampai seribu, yang menulis kemenangannya dengan judul yang membuat Galih sendiri tersipu membacanya. Anak Warnet Menaklukkan Akademi. Ia mengira urusan mereka selesai di tulisan itu. Ternyata tidak.
"Saya lihat daftar sementaranya," kata Mita, tanpa basa-basi, begitu Galih duduk di sebelahnya. "Nama kamu nggak ada. Saya tunggu dua minggu, nggak ada berita apa pun. Terus saya tanya ke kantor federasi, dan jawabannya—" ia membuka buku catatannya, membaca pelan, "—berkas yang bersangkutan belum lengkap."
Galih tidak menjawab. Kewaspadaannya naik seperti tangan yang otomatis bergerak menutup raja begitu ada ancaman. Karena ia tahu, dari lelaki berkemeja rapi di kafe hotel dulu, betapa mudahnya sebuah cerita dijual. Cerita yang menjual, kata lelaki itu. Mereka selalu tahu apa yang dibutuhkan orang, dan wartawan butuh cerita—itu juga sebuah kebutuhan, dan kebutuhan bisa diatur.
"Kamu curiga sama saya," kata Mita, menangkap diamnya. "Bagus. Saya juga bakal curiga sama saya."
"Saya cuma belajar hati-hati, Mbak. Akhir-akhir ini banyak yang baik sama saya."
Mita mengangguk, tidak tersinggung, dan justru ketenangannya itu yang perlahan menurunkan kewaspadaan Galih. Ia bercerita: redaksinya menolak menulis soal daftar itu. Bukan karena redakturnya jahat, katanya jujur, tapi karena koran kecil hidup dari iklan, dan iklan kabupaten banyak yang datang dari perusahaan-perusahaan yang namanya bersinggungan dengan sponsor catur. "Atasan saya bilang: jangan sentuh yang nggak bisa kita buktikan. Dia nggak salah. Cuma—" ia mengetuk map cokelatnya, "—saya nggak bisa tidur sejak baca kata 'belum lengkap' itu. Saya liputan partai kamu. Saya lihat kamu menang. Terus nama kamu hilang lewat pintu belakang, dan semua orang pura-pura itu hal biasa. Kalau ini saya biarin, ngapain saya jadi wartawan?"
Galih menatap perempuan itu lama. Ada sesuatu di nada suaranya yang ia kenali—nada orang yang sudah menghitung harga sebuah pilihan dan tetap memilihnya. Ia pernah mendengar nada itu dari mulutnya sendiri, di malam sebelum babak penentu.
Malam itu ia membawa Mita ke rumah cat hijau. Ia tidak memutuskan sendiri; ini perang bersama, dan Pak Sastro berhak menilai orang yang akan memegang sebagian nyawa mereka. Lelaki tua itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Mita beberapa kali harus diam dulu sebelum menjawab. Siapa yang akan membaca tulisannya. Apa yang terjadi padanya kalau tulisan itu membuat orang besar marah. Kenapa sekarang, kenapa tidak setelah semuanya aman.
"Karena 'aman' itu nggak pernah datang, Pak," jawab Mita akhirnya. "Saya sudah lima tahun di koran kecil. Yang datang cuma alasan baru untuk nunggu."
Pak Sastro menatap Galih, dan dalam tatapan itu Galih membaca izin sekaligus peringatan. Maka mulailah kerja sama yang pelan—bukan bombastis, tidak ada janji berita besar, tidak ada kata "bongkar" yang diteriakkan. Yang ada justru kesepakatan yang kedengarannya membosankan: dokumentasi. Mita tidak akan menulis apa pun sebelum saatnya. Tugasnya menyimpan, menyalin, mengarsipkan. Satu set lengkap fotokopi bukti berpindah ke tangannya, disimpan di tempat yang Galih tidak tahu dan tidak mau tahu—supaya, kata Mita, kalau sesuatu terjadi pada kertas-kertas di rumah cat hijau atau di warnet, ceritanya tidak ikut terbakar.
"Kalau saya tulis sekarang, mereka punya waktu merapikan jejak," kata Mita, mengatur map-nya. "Orang kayak begitu cepat bersih-bersih kalau ada angin. Jadi kita diam dulu. Kita lengkapi dulu sampai nggak ada satu pun yang bisa mereka bantah. Baru kita bicara. Sekali bicara, langsung habis."
"Satu langkah yang mengakhiri partai," kata Pak Sastro pelan, dan ada senyum kecil di bibirnya. "Wartawan yang main catur rupanya."
"Saya nggak bisa catur, Pak. Saya cuma tahu orang panik selalu bikin kesalahan. Kita bikin mereka panik di waktu yang kita pilih, bukan waktu mereka."
Sebelum pulang, Mita berhenti di ambang pintu, menatap Galih dengan tatapan yang tidak ia mengerti sepenuhnya. "Kamu tahu risikonya, kan? Bukan buat kamu doang. Buat keluargamu. Orang-orang ini—" ia menepuk map-nya, "—mereka nggak akan nyerang kamu di papan. Mereka akan nyerang di tempat yang paling kamu sayang."
"Saya tahu," kata Galih. Dan ia benar-benar tahu—ia sudah lama tahu, sejak genteng bocor dan obat batuk disebut di kafe hotel oleh lelaki yang senyumnya hangat. Tapi tahu dan siap adalah dua langkah yang berbeda, dan malam itu, menutup pintu rumah cat hijau, ia tidak berani mengaku yang mana yang sudah ia punya.
Melibatkan wartawan, pikirnya dalam perjalanan pulang di bawah lampu sodium yang kuning, adalah pengorbanan bidak. Sekarang ia sudah memberi sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali—separuh rahasianya, separuh pertahanannya—ke tangan orang yang baru dua kali ia temui. Di papan, pengorbanan seperti ini hanya masuk akal kalau serangannya benar-benar matang. Dan serangan mereka, ia tahu, masih jauh dari matang.
Yang tidak ia sangka adalah betapa tenang hatinya setelahnya. Selama berminggu-minggu ia memikul rahasia itu sendirian seperti memikul genteng di punggung. Malam ini ada dua orang lain yang ikut memikul. Mungkin itu yang membuat langkahnya pulang terasa lebih ringan, atau mungkin itu tanda bahaya—karena beban yang terasa ringan sering membuat orang lupa bahwa bebannya masih ada.