Bukti tidak pernah berkeringat. Saksi bisa takut, ingatan bisa goyah, suara bisa ditarik kembali dengan satu panggilan telepon dari orang yang tepat—tapi kertas yang sudah dicap tidak mengenal malu, dan justru karena itu ia berbahaya bagi orang-orang yang hidup dari malu orang lain. Galih mempelajari ini di meja makan rumah cat hijau, di antara dua zaman yang tergeletak berdampingan: kertas-kertasnya sendiri yang masih baru, dan kertas-kertas Pak Sastro yang sudah menguning dua puluh tahun.
Semuanya bermula dari kotak kaleng biskuit di atas lemari ibunya.
Ibunya menyimpan semua kertas—kwitansi listrik, nota beras, resep dokter yang lipatannya sudah lemas—seperti orang menyimpan bukti bahwa hidupnya pernah berjalan walau terseok. Dan di antara lipatan-lipatan itu, malam itu, Galih menemukan sesuatu yang hampir ia buang dulu: tanda terima penyerahan berkas beasiswa, lembar merah muda yang tipis, yang ia kantongi buru-buru di hari terakhir pendaftaran lalu lupakan. Di sudutnya ada cap biru yang tegas. DITERIMA. Di bawahnya satu kata lagi yang membuat tengkuknya dingin: LENGKAP. Lalu tanggal, tiga hari sebelum batas waktu, dan tanda tangan panitia penerima.
"Ibu nyimpen ini," kata Galih pelan, setengah tak percaya.
"Ibu nyimpen semuanya," jawab ibunya dari dapur, tanpa menoleh, seolah itu hal paling biasa di dunia. "Kertas itu nggak makan nasi, Lih. Disimpen nggak rugi."
Kertas itu tidak makan nasi. Tapi kertas itu, kini, adalah jantung dari segalanya.
Di rumah cat hijau, Pak Sastro menyambut lembar merah muda itu seperti orang menyambut kerabat yang dikira mati. Ia membacanya berulang kali, lalu membuka kardusnya—kardus yang sejak beberapa malam lalu tidak lagi ditutup—dan mengeluarkan selembar kertas yang sama tuanya dengan cerita hidupnya. Tanda terima dua puluh tahun lalu. Cap yang berbeda warna, format yang berbeda huruf, tapi struktur yang sama: diterima, lengkap, tanggal sebelum batas, tanda tangan.
"Dua-duanya masuk lengkap," kata Pak Sastro. "Dua-duanya kemudian dinyatakan tidak lengkap. Kalimat yang sama, Nak. Kata per kata. Dua puluh tahun, dan mereka bahkan tidak repot-repot mengganti kalimatnya."
Pekerjaan itu membosankan, dan justru karena itu menegangkan. Tidak ada jebakan kuda, tidak ada pengorbanan menteri. Yang ada hanya tanggal yang disalin ulang ke buku tulis, nama yang dicocokkan huruf per huruf, cap yang dibandingkan di bawah lampu sampai mata perih. Galih menyalin kronologi pengajuannya: kapan berkas diserahkan, siapa yang menerima, kapan daftar sementara keluar tanpa namanya, kapan alasan "berkas belum lengkap" pertama kali diucapkan di telepon. Di sebelahnya, Pak Sastro menyalin kronologi dua puluh tahun lalu dengan tangan yang makin lama makin mantap, seolah menyalin luka membuat luka itu akhirnya punya bentuk yang bisa dipegang.
Lalu ada satu nama yang membuat keduanya berhenti menulis bersamaan.
Di tanda terima lama Pak Sastro, di bawah stempel, ada nama kecil yang tercetak: diterima oleh, Wardhana, staf administrasi. Dan di daftar sementara tahun ini—daftar tanpa nama Galih—di bawahnya, tercetak nama yang sama dengan pangkat yang baru: Wardhana, kepala bidang pembinaan. Orang yang dua puluh tahun lalu menerima berkas dengan senyum, kini menandatangani daftar yang menyingkirkan. Satu tangan, naik pangkat, tidak pernah berhenti bekerja.
"Dia bahkan ada di kedua zaman," bisik Galih.
"Bukan dia sendiri," kata Pak Sastro. "Dia cuma tangan. Tapi tangan ini yang bisa kita pegang."
Benang dari Reyhan menjahit sisanya. Jadwal rapat kuota final—tanggal yang jatuh setelah daftar sementara diumumkan, artinya keputusan sesungguhnya belum dikunci dan masih bisa digugat. Dan fakta yang Reyhan bisikkan di warnet itu: semua berkas kuota ditandatangani satu tangan. Satu. Bukan panitia, bukan rapat pleno, bukan mekanisme yang bisa berlindung di balik kata "kami". Satu tangan berarti satu orang yang harus menjawab.
Ada satu saksi lagi. Wasit di kualifikasi dulu—lelaki kaku yang pernah menegur Galih karena salah menulis notasi—ternyata juga petugas yang menghitung lembar berkas para peserta di meja pendaftaran. Galih menemuinya di gedung olahraga yang sepi, dan lelaki itu, begitu ditunjukkan salinan tanda terimanya, mengangguk tanpa ragu.
"Saya yang ngitung berkas kamu waktu itu. Delapan lembar. Lengkap. Saya nggak pernah nerima berkas kurang tanpa ngembaliin ke orangnya." Ia menatap Galih. "Kenapa, ada yang bilang kurang?"
"Ada, Pak."
Wasit itu diam sebentar. Orang jujur selalu butuh waktu memahami kebohongan; bagi mereka itu bahasa asing. Lalu ia menulis keterangannya sendiri di selembar kertas, menandatanganinya, dan mendorongnya ke seberang meja tanpa diminta. "Saya nggak tahu ini berguna atau nggak. Tapi yang bener ya bener."
Malam-malam berikutnya, warnet jadi kantor rahasia. Sehabis tengah malam, ketika bilik-bilik kosong dan dengung lampu jadi satu-satunya suara, Galih memfotokopi semuanya satu per satu—tanda terima, keterangan wasit, daftar sementara, salinan kronologi—seperti orang menyalin partai penting langkah demi langkah, tidak boleh ada satu pun yang keliru. Mas Topan memergokinya di malam ketiga.
"Kena tilang apa, Lih? Kertasnya banyak betul."
"Kena sesuatu yang lebih ribet dari tilang, Mas."
Mas Topan tidak bertanya lagi. Ia hanya mengganti lampu di pojok mesin fotokopi dengan yang lebih terang, dan sejak itu tagihan listrik warnet tidak pernah lagi ia singgung di depan Galih. Pertolongan kecil yang tidak menuntut penjelasan—Galih mencatatnya di hati, di kolom yang berbeda dari kolom hutang.
Selesai semuanya, mereka menatap meja itu dalam diam. Di atas papan kehidupan yang sesungguhnya, bukti-bukti itu kini tersusun seperti posisi akhir permainan yang sudah dihitung sampai mati: berkas masuk lengkap, dinyatakan kurang, satu tangan di dua zaman, satu wasit yang bersedia berkata benar, satu rapat final yang belum terjadi. Kebohongan yang dulu cuma bau di lorong kini punya tubuh, punya tulang, punya nama. Sesuatu yang bisa dipegang—dan karena bisa dipegang, bisa dibawa ke mana-mana.
Untuk pertama kali sejak namanya menghilang dari daftar, Galih memegang posisi menang.
Tapi ia sudah cukup lama main catur untuk tahu bahwa posisi menang bukanlah kemenangan. Posisi menang hanya berarti lawanmu mulai punya alasan untuk tidak bermain jujur lagi. Dan lawan yang satu ini, ia tahu dari kardus tua di meja itu, tidak pernah bermain jujur sejak awal—ia hanya belum pernah, dalam dua puluh tahun, bertemu orang yang membawa bukti.