Ada satu hal yang diajarkan papan kepada siapa pun yang cukup lama menatapnya: pola tidak berbohong. Satu langkah bisa kebetulan. Dua langkah bisa kebetulan. Tapi langkah yang sama, di posisi yang berbeda, terpisah dua puluh tahun, dimainkan oleh tangan yang sama—itu bukan kebetulan. Itu pembukaan. Itu garis yang sudah dipersiapkan.
Malam itu juga, sesudah magrib, kertas-kertas itu tidak kembali ke kardus. Pak Sastro menyalakan lampu, mengambil kertas kosong dari laci mejanya—meja yang sama tempat ia dulu mengajari Galih menghitung akhir permainan—dan mulai menulis. Di satu sisi: dua puluh tahun lalu. Di sisi lain: sekarang. Dua kolom, seperti lembar notasi partai ganda.
Dua puluh tahun lalu: menang di papan, kuota dicoret, berkas dinyatakan belum lengkap, tidak ada yang bisa digugat karena semua kata berbentuk belum. Sekarang: menang di papan, nama tidak ada di daftar, berkas dinyatakan belum lengkap, loket-loket menjawab dengan kata yang sama. Dua puluh tahun lalu: satu perusahaan menjadi sponsor acara. Sekarang: perusahaan yang sama, lewat lelaki bernama Gunawan, menelepon dan menawarkan jalan yang tidak kelihatan dari loket. Dua puluh tahun lalu: seorang staf administrasi muda menerima berkas dengan senyum. Sekarang: staf yang sama, berpangkat pejabat bidang pembinaan, menandatangani daftar yang tidak berisi nama Galih.
Makin lama kedua kolom itu berjajar, makin Galih merasakan dingin naik dari tengkuknya. Bukan kaget. Sesuatu yang lebih buruk dari kaget: kejelasan. Selama ini ia mengira melawan banyak hal—loket yang berputar, kata belum, daftar yang tertunda, telepon yang hangat. Ternyata tidak. Ia melawan satu hal. Satu mesin. Mesin yang tidak pernah berhenti bekerja, yang dua puluh tahun lalu memakan seorang pemuda miskin bernama Sastro, dan sekarang, dengan gigi yang sama, sedang mengunyah pemuda miskin bernama Galih.
"Mereka bukan orang jahat yang duduk merancang kejahatan tiap pagi," kata Pak Sastro, lebih kepada dirinya sendiri, matanya pada dua kolom itu. "Itu yang paling menakutkan. Mereka cuma petugas. Meneruskan yang sudah berjalan. Menjaga supaya pintu tetap terbuka untuk orang yang benar dan tetap tertutup untuk orang seperti kita. Tidak ada yang merasa berdosa. Itu sebabnya mesin ini awet dua puluh tahun. Mesin yang dijalankan orang yang merasa berdosa akan macet. Mesin yang dijalankan orang yang merasa bertugas jalan terus."
"Dan orang yang menang di papan tetap kalah," kata Galih.
"Orang yang menang di papan cuma merepotkan. Bukan ancaman. Sebabnya—" Pak Sastro meletakkan pulpennya, "—satu orang yang ditolak bisa dianggap salah berkas. Satu orang yang protes bisa dianggap sakit hati. Satu orang, Nak, selalu bisa diubah jadi angka administrasi. Saya dulu satu orang. Dan saya habis. Bukan karena saya salah. Karena saya sendiri."
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti bidak yang dilepas di kotak terakhir. Galih menatap dua kolom di atas meja, lalu kardus tua di lantai, lalu gurunya—lelaki yang dua puluh tahun menyimpan bukti di kolong dipan karena tidak tahu untuk apa, lelaki yang menyebut dirinya tidak cukup kuat melawan dua hal sekaligus.
Dan Galih mengerti, dengan ketenangan yang mengejutkannya sendiri, bahwa pilihannya bukan lagi menang atau kalah. Bukan lagi iya atau tidak kepada suara di telepon. Bukan lagi daftar. Pilihannya adalah apa yang akan ia lakukan dengan kertas-kertas di meja ini—dengan dua puluh tahun yang terbentang di antara dua cangkir teh yang mendingin.
"Kalau saya cuma menagih kuota saya," kata Galih pelan, "paling jauh mereka memasukkan satu nama. Nama saya. Lalu mesinnya jalan lagi, dan dua puluh tahun dari sekarang ada anak lain di loket yang sama, mendengar kata yang sama, dari mulut yang berbeda. Seperti Bapak mendengar kalimat itu lagi sekarang, kata per kata."
Pak Sastro menatapnya lama. "Kamu mau bilang apa, Nak?"
"Menagih itu remis. Kita dapat bagian kita, mesin dapat bagiannya, semua pulang." Galih mengambil pulpen dari meja, dan di bawah dua kolom itu ia menulis satu baris dengan tangan yang tidak gemetar: bukan nama kami saja yang dicuri. "Saya nggak mau remis. Saya mau membongkar. Tanda terima Bapak yang bilang lengkap. Surat yang bilang belum lengkap. Kertas dari Reyhan. Loket-loket yang saya datangi—saya punya catatan tanggalnya semua. Pola ini bisa disusun, Pak. Seperti menyusun partai. Langkah demi langkah, sampai orang yang tidak main catur pun bisa melihat matnya."
Untuk beberapa saat tidak ada suara di rumah cat hijau itu kecuali lampu yang berdengung dan, jauh di luar, sisa pengajian dari masjid. Lalu Pak Sastro tertawa. Pendek, kering, dan—Galih menyadari ini dengan sesuatu yang menghangat di dadanya—bahagia. Bunyi yang mungkin belum pernah terdengar di rumah itu selama dua puluh tahun.
"Kamu tahu kenapa saya berhenti dulu?" kata lelaki tua itu. "Bukan karena mereka mengambil kuota saya. Karena saya pikir melawan mereka berarti menjadi seperti mereka. Licik. Main di gelap. Punya orang dalam. Dan saya tidak mau jadi seperti itu, jadi saya mundur—dan mundur itu menelan dua puluh tahun." Ia berdiri, mengangkat kardus tua itu, dan meletakkannya di atas meja. Bukan kembali ke kolong dipan. Di atas meja. Di tempat buku-buku catur biasa dibuka. "Tapi kamu benar. Ada cara melawan mesin tanpa menjadi mesin. Namanya bukti. Mereka menang karena bekerja di gelap. Kalau begitu kita tidak usah masuk ke gelap. Kita bawa gelapnya ke terang. Satu lembar demi satu lembar. Sampai tidak ada lagi yang bisa mereka bilang belum."
"Tidak akan cepat," kata Galih.
"Tidak. Tidak akan cepat, tidak akan bersih, dan mereka akan membalas—mereka selalu membalas. Mereka tahu gentengmu. Mereka tahu obat ayahmu. Mereka akan menghitung keluargamu seperti mereka menghitung segalanya." Mata tua itu menatapnya, dan di dalamnya ada peringatan yang tidak ditutup-tutupi. "Masih mau?"
Galih memikirkan ibunya membagi tagihan di bawah lampu dapur. Batuk di balik triplek. Dua nomor di ponselnya. Lalu ia memikirkan anak dua puluh tahun dari sekarang—anak lain dari kabupaten lain, dengan papan retak lain, berdiri di loket yang sama—dan ia tahu jawabannya sudah ada sejak lama, sejak tangannya menggantung di atas bidak pengorbanan di langkah keempat puluh, sejak ia memilih garis yang paling sulit hanya karena garis itu benar.
"Dulu saya pikir lawan saya cuma di enam puluh empat kotak," katanya. "Ternyata papan itu cuma tempat latihan."
Pak Sastro mengangguk. Lelaki tua itu mengambil lembar pertama dari kardusnya, meletakkannya rapi di sudut meja, dan menatap muridnya dengan tatapan yang dua puluh tahun tidak pernah ia berikan pada siapa pun—tatapan seorang pemain yang akhirnya, setelah sekian lama absen, duduk kembali di kursinya sendiri.
"Kali ini," katanya, "kita tidak berhenti di papan."