Rumah cat hijau di belakang masjid itu tidak pernah berubah, dan sore itu Galih untuk pertama kali bertanya-tanya apakah ketidakberubahan itu pilihan atau hukuman—apakah Pak Sastro menjaga rumahnya tetap sama seperti orang menjaga posisi remis: tidak menang, tapi tidak akan kalah lagi.
Ia datang membawa kertas dari Reyhan. Pak Sastro membacanya sekali, dua kali, dan Galih memperhatikan wajah lelaki tua itu berubah dengan cara yang sudah pernah ia lihat—di lapangan parkir berlampu kuning, malam ketika lelaki itu bercerita tentang dua puluh tahun yang hilang. Bukan kaget. Pengenalan. Wajah orang yang membuka pintu dan menemukan hantu yang sama berdiri di ambang, lebih tua, lebih rapi, tapi hantu yang sama.
"Tunggu di sini," kata Pak Sastro.
Lelaki tua itu masuk ke kamar, dan Galih mendengar bunyi yang sudah lama tidak terdengar di rumah itu: kardus diseret dari kolong dipan, debu berjatuhan, napas tua yang menahan berat. Pak Sastro keluar membawa kardus cokelat yang sudutnya sudah melembek, diikat tali rafia yang warnanya entah pernah merah atau pernah cokelat. Ia meletakkannya di meja, di antara dua cangkir teh, dan untuk sesaat hanya menatapnya, seperti pemain menatap posisi yang dua puluh tahun tidak ia berani sentuh.
"Dua puluh tahun saya simpan ini supaya bisa lupa," katanya pelan. "Ternyata saya menyimpannya untuk hari ini."
Tali rafia dibuka. Tutup kardus dilipat ke belakang. Dan masa lalu keluar, lembar demi lembar.
Kliping koran, kuning dan rapuh, dengan foto seorang pemuda kurus berambut hitam mengangkat piala—Pak Sastro dua puluh tahun lebih muda, dengan rahang yang sama dan mata yang belum luka. Berita-berita kecil tentang tiga gelar provinsi berturut-turut, tentang "nama daerah yang mengejutkan". Lalu surat-surat. Surat undangan pembinaan, dengan kop resmi dan stempel biru. Fotokopi daftar kuota dari dua puluh tahun lalu, diketik dengan mesin ketik yang hurufnya naik-turun, dan di kolom yang seharusnya berisi nama Sastro ada nama lain—nama anak orang penting itu, diketik rapi, seolah tidak pernah ada partai yang memenangkan orang lain.
Dan surat terakhir. Surat yang membuat mata Galih berhenti bergerak.
Kepada yang bersangkutan, kami sampaikan bahwa berkas belum lengkap, sehingga nama yang bersangkutan tidak dapat diikutkan dalam daftar kuota pembinaan periode berjalan.
"Berkas belum lengkap," Galih membaca keras-keras, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Pak. Ini kalimat yang sama. Kata per kata. Dua puluh tahun, dan kalimatnya tidak berubah satu kata pun."
"Kalimat yang dipakai dua puluh tahun bukan kalimat lagi, Nak," kata Pak Sastro. "Itu alat. Seperti pembukaan yang dihafal. Mereka tidak menulisnya setiap kali. Mereka menyalinnya dari laci."
Tapi bukan surat itu yang membuat Pak Sastro diam paling lama. Lelaki tua itu merogoh lebih dalam, ke lapisan bawah kardus, dan mengeluarkan map tipis berisi kertas-kertas acara: susunan panitia kejuaraan dua puluh tahun silam, proposal sponsor, tanda terima berkas. Jarinya—jari yang dulu menyusun ulang posisi akhir tanpa satu bidak pun salah letak—berhenti di satu baris, lalu mengetuknya dua kali.
"Lihat ini. Pendukung acara. Sponsor utama." Sebuah nama perusahaan tercetak di sana—perusahaan yang dua puluh tahun kemudian, di sebuah kafe sebelah hotel, mengutus lelaki berkemeja rapi yang mengaduk kopi dan berkata kami selalu tahu apa yang dibutuhkan orang. Perusahaan yang, beberapa malam lalu, menelepon dari nomor yang seharusnya tidak ia punya dan menyebut nama ayahnya dengan nada prihatin. "Perusahaan yang sama. Orangnya berganti—anaknya, keponakannya, siapa pun. Mesinnya sama."
Galih membaca nama itu, lalu mencocokkannya dengan nama yang ia dengar di telepon: Gunawan. Benang-benang itu bertemu di satu titik, dan titik itu berdenyut.
"Lalu ini." Pak Sastro membalik tanda terima berkas, kertas kecil bertanggal dua puluh tahun lalu, bukti bahwa berkasnya dulu diterima lengkap—diterima, ditandatangani, dicap—sebelum entah bagaimana berubah menjadi belum lengkap di surat berikutnya. Di bawah cap ada tanda tangan dan nama terang. "Staf administrasi waktu itu. Anak muda yang menerima berkas saya di meja depan. Sopan sekali. Senyumnya masih saya ingat."
Galih membaca nama itu. Belum pernah ia mendengarnya. Tapi Pak Sastro menatapnya dengan tatapan yang membuat bulu kuduknya berdiri, dan lelaki tua itu mengambil kertas dari Reyhan, meletakkannya di samping tanda terima tua, dan menunjuk satu baris—baris tentang pejabat bidang pembinaan, satu meja, satu tangan yang menandatangani semua berkas kuota.
"Namanya Wardhana," kata Pak Sastro. "Dulu staf administrasi. Anak muda yang menerima berkasku dengan senyum. Sekarang—" jari tua itu pindah ke kertas Reyhan, "—pejabat bidang pembinaan. Meja yang sama. Tangan yang sama. Dua puluh tahun dia mengurus berkas, Nak. Dari menerima, sampai menandatangani, sampai memutuskan siapa yang lengkap dan siapa yang tidak. Sejarah ini tidak pernah putus. Dia cuma naik pangkat."
Senja masuk lewat jendela rumah cat hijau, jatuh di atas dua rak buku dan kertas-kertas kuning yang terbentang di meja seperti posisi akhir dari partai yang tidak pernah selesai. Galih memandangi semuanya—kliping, surat, tanda terima, kertas dari Reyhan, dua puluh tahun yang dipadatkan jadi satu kardus—dan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya: bukan takut, bukan marah. Lega yang dingin. Kabut itu akhirnya punya nama. Dua nama, malah.
"Saya dulu mengira saya kalah dari nasib," kata Pak Sastro, hampir berbisik. "Nasib tidak bisa dilawan, jadi saya berhenti. Tapi ini bukan nasib, Nak. Nasib tidak punya tanda tangan. Nasib tidak naik pangkat." Ia merapikan kertas-kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, melipatnya kembali dengan hati-hati seperti orang menyimpan bidak sesudah partai. "Dan yang datang kepadamu bukan hantu baru. Orang yang sama. Mesin yang sama. Yang berubah cuma anak yang dimakannya."
Di luar, azan magrib mulai mengalun dari masjid sebelah. Pak Sastro tidak menyalakan lampu. Mereka duduk dalam gelap yang menebal pelan-pelan, di antara kertas-kertas dua puluh tahun, dan Galih tahu—dari cara lelaki tua itu menatap kardus yang terbuka, dari cara tangannya berhenti gemetar—bahwa sesuatu yang sudah lama mati di rumah cat hijau itu, malam ini, mulai bergerak lagi.