Lampu warnet itu berdengung seperti lalat yang tak mau mati. Galih duduk di kursi penjaga, di belakangnya empat belas bilik menyala biru, dan di depannya papan catur lipat yang catnya sudah mengelupas sampai kotak-kotaknya tampak seperti peta pulau yang tenggelam. Satu bidak hilang entah ke mana sejak tahun lalu. Sebagai gantinya ia memakai tutup botol teh kemasan untuk gajah putih ruas terang—pipih, sedikit penyok, tapi ia tahu persis itu gajah dan bukan yang lain.
Koran bekas terbentang di meja, halaman olahraga yang sudah menguning. Di pojok bawah ada satu diagram partai dari kejuaraan nasional bertahun silam, hanya enam belas langkah yang sempat dicetak sebelum sambungan ke halaman lain hilang dimakan pembungkus gorengan. Galih menyusun langkah itu satu per satu dari ingatan dan dari logika yang ia rangkai sendiri. Putih main pembukaan yang ia tak tahu namanya. Hitam membalas dengan langkah yang, menurut nalurinya, terlalu rapi—dan ia membenci kerapian.
"Mas, bilik tujuh mati lagi," seorang anak SD berteriak.
"Restart dari belakang. Tombol merah, tahan lima detik." Galih tak menoleh. Tangannya memindahkan kuda ke pinggir papan, langkah yang dijamin akan dimarahi buku mana pun seandainya ia punya buku. Kuda di pinggir, kata orang, sama buruknya dengan uang di laci yang bolong. Tapi dari pinggir itu kuda mengintai dua kotak lemah sekaligus, dan bila lawan tak waspada, dalam tiga langkah jeratnya menutup.
Ia belajar catur bukan dari pelatih. Ia belajar dari menjaga orang main. Bertahun ia memperhatikan layar bilik-bilik ini, melihat orang mengumpat saja, melihat tangan yang gemetar saat waktunya mepet, melihat bagaimana manusia yang panik selalu memilih langkah yang kelihatan aman padahal justru itu liang kuburnya. Catur, bagi Galih, bukan soal langkah terbaik. Catur adalah soal langkah yang membuat orang di seberang meja lupa cara bernapas.
Sabtu pagi, balai desa dipenuhi kursi plastik dan papan demonstrasi tua yang engselnya berderit. Open kabupaten. Hadiah juara satu tujuh ratus lima puluh ribu, dan Galih sudah menghitung uang itu jadi beras, jadi tambalan genteng, jadi cicilan listrik warnet yang menunggak dua bulan. Lawan pertamanya seorang pegawai pajak berperingkat daerah, rambut tersisir rapi, membawa papan sendiri dari kayu sungguhan dengan bidak yang berbobot di telapak.
"Adik dari klub mana?" tanya pegawai itu, ramah, sedikit meremehkan.
"Bukan klub mana-mana, Pak."
Galih membuka dengan langkah pertama yang membuat lawannya mengangkat alis. Bukan pembukaan yang dihafal di kelas. Ia menggeser bidak pion ke depan kuda, mengundang lawan masuk ke tengah, menawarkan ruang seolah-olah ia ceroboh. Pegawai pajak itu menerima undangan dengan senyum kecil, menduduki pusat papan, merasa di atas angin.
Itulah jebakannya. Galih tak ingin pusat papan. Ia ingin lawannya merasa kaya di pusat papan, lalu perlahan ia mengganggu dari sayap, satu langkah aneh demi satu langkah aneh, masing-masing tampak buruk bila dinilai sendiri-sendiri, tetapi bersama-sama membentuk badai kecil yang membuat lawan harus berpikir lama di setiap giliran. Karena tak ada satu pun langkah Galih yang "normal", lawan tak bisa menjawab dari hafalan. Ia harus menghitung. Dan menghitung memakan waktu, dan waktu adalah benda yang paling cepat habis di dunia.
Jam catur digital berdetak di antara mereka, merah satu menjadi panjang, merah satu menjadi panjang. Saat langkah kedua puluh, pegawai pajak itu sudah menghabiskan lebih dari separuh jamnya, sementara Galih hampir tak menyentuh waktunya—ia tak menghitung, ia merasakan. Keringat mulai tampak di pelipis lawan. Tangannya yang tadi mantap kini ragu di atas bidak, mengangkatnya, meletakkannya kembali, dan setiap keraguan itu Galih baca seperti membaca halaman koran.
Posisi di papan, bila ada mesin yang menilainya, mungkin akan berkata Galih sedikit lebih buruk—setengah pion, seperempat pion, angka kecil yang tak berarti apa-apa bagi manusia yang jamnya tinggal dua menit untuk dua belas langkah. Pegawai itu mulai bermain cepat karena terpaksa, dan cepat berarti ceroboh. Ia memberi satu kotak yang seharusnya ia jaga. Kuda pinggir Galih, yang sejak awal mengintai dari tepi seperti pencuri di gang gelap, melompat masuk.
Garpu. Kuda menyerang raja dan benteng sekaligus. Tak ada cara menyelamatkan keduanya.
Pegawai pajak itu menatap papan lama sekali, lalu menatap Galih, lalu kembali ke papan. Jamnya tinggal empat puluh detik. Ia menjabat tangan Galih sebelum jamnya habis, sebuah pengakuan yang lebih pahit dari kekalahan biasa, karena ia tahu ia tidak dikalahkan oleh langkah yang lebih baik. Ia dikalahkan oleh dirinya sendiri yang kehabisan napas.
"Adik main aneh," katanya, mencoba tersenyum. "Buku mana yang ngajarin begitu?"
"Nggak ada buku, Pak." Galih merapikan bidaknya, memasukkan tutup botol teh ke saku. "Cuma saya merhatiin orang main bertahun-tahun."
Di luar balai desa, matahari menyengat dan tukang es keliling membunyikan klaksonnya. Galih duduk di tangga, memegang lembar hasil babak pertama, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya bangga. Ia menang. Ia selalu menang dengan cara ini—dengan menjadi sesuatu yang tidak bisa dipelajari, sesuatu yang membuat orang lain merasa salah meski papan belum tentu membenarkan.
Tapi di sudut hatinya ada bisik yang tak pernah benar-benar diam. Pegawai pajak tadi bukan pemain kuat. Ia hanya orang yang main akhir pekan dengan jam yang panik. Galih tahu, jauh di dalam, bahwa kekacauan yang ia banggakan ini bukan istana. Itu rumah dari koran bekas dan tutup botol, indah karena nekat, kuat hanya selama tak ada angin sungguhan yang datang. Suatu hari akan datang lawan yang tak gugup, yang jamnya tak pernah mepet, yang sudah melihat semua langkah anehnya sebelum ia mainkan. Dan hari itu, ia belum tahu apa yang tersisa darinya.
Ia melipat papan retaknya, menyelipkannya di bawah ketiak, dan berjalan pulang menyusuri jalan kabupaten yang debunya beterbangan setiap truk lewat. Tujuh langkah lagi menuju babak kedua. Tujuh ratus lima puluh ribu masih menggantung di ujung hari. Dan di kepalanya, sudah, sudah ia susun jebakan berikutnya.