Lawan, kata Pak Sastro, adalah orang yang paling mengenalmu sesudah ibumu. Ia tahu caramu berpikir di bawah tekanan, tahu ke mana matamu pergi saat takut, tahu kebiasaan kecilmu yang bahkan kau sendiri tidak sadari. Tapi tidak pernah sekali pun lelaki tua itu mengatakan bahwa lawan bisa datang membawa pintu.
Reyhan Aksoro muncul di warnet pada sore yang biasa, dan ketidakbiasaannya terasa sampai ke bilik-bilik. Anak akademi ibu kota itu berdiri di pintu dengan kemeja bersih dan tas ransel hitamnya, di antara poster gim daring dan bau mi instan, seperti bidak turnamen yang salah masuk kotak penyimpanan. Anak-anak SMP di bilik depan berhenti berteriak untuk menatap. Mas Topan mengangkat alis dari balik meja kasir dengan ekspresi orang melihat kalkulator di pasar loak.
"Cari bilik, Mas?" tanya Mas Topan, ragu.
"Cari dia." Reyhan menunjuk Galih di kursi penjaga. "Sebentar saja. Boleh?"
Mereka bicara di teras warnet, di bangku panjang tempat anak-anak biasa menunggu giliran, dengan suara jalan kabupaten dan debu truk sebagai latar. Reyhan duduk dengan punggung tegak, tidak menyentuh sandaran, dan untuk beberapa saat tidak mengatakan apa-apa—kebiasaan yang Galih kenali dari seberang papan: pemuda ini selalu menata posisinya dulu sebelum memainkan langkah pertama.
"Saya dengar soal daftar itu," kata Reyhan akhirnya. "Nama kamu tidak ada."
"Kamu dengar dari mana?"
"Dari dalam." Reyhan menatap jalan, bukan Galih. "Akademi saya dekat dengan federasi. Pelatih saya orang lama. Orang-orang bicara kalau mereka kira tidak ada yang mendengar, dan anak akademi selalu dianggap bagian dari dinding." Jeda kecil. "Saya bagian dari dinding yang mendengar."
Galih menunggu. Ada sambungan kalimat yang belum datang. Selalu ada.
"Di daftar sementara itu ada nama saya," kata Reyhan, dan suaranya tidak bangga. Suaranya seperti orang menyerahkan barang bukti. "Saya kalah dari kamu di babak penentu. Kamu menang di papan, di depan semua orang, dan nama yang masuk daftar adalah nama yang kalah. Kamu tidak perlu jadi jenius untuk tahu itu salah. Yang perlu kamu lakukan cuma jujur, dan ternyata jujur itu barang langka di tempat saya dibesarkan."
"Kamu datang jauh-jauh cuma buat bilang itu?"
"Bukan." Reyhan akhirnya menatapnya, dan tatapan itu dingin seperti biasa, tapi ada sesuatu di balik dinginnya yang belum pernah Galih lihat—bukan kehangatan, bukan persahabatan. Gangguan. Pemuda ini terganggu, seperti pemain yang menemukan satu bidak lawan berdiri di kotak yang tidak seharusnya. "Saya datang karena saya dengar bagaimana itu diatur. Dan saya pikir kamu perlu tahu."
Ia membuka ritsleting ranselnya, mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi menjadi empat—Reyhan bahkan melipat kertas dengan presisi mesin—dan menyerahkannya. Bukan dokumen resmi. Salinan tulisan tangan. Daftar singkat.
"Minggu depan ada rapat kuota final. Hari, tanggal, tempat—semua tertulis di situ. Rapat itu yang akan mengesahkan daftar final. Setelah itu, semuanya jadi prasasti." Reyhan menunjuk baris paling bawah. "Dan ini yang lebih penting. Semua berkas kuota—berita acara verifikasi, daftar pertimbangan, semuanya—melewati satu meja dan ditandatangani satu orang. Pejabat bidang pembinaan. Satu tangan, dari awal sampai akhir. Saya tidak tahu itu penting atau tidak buat kamu. Tapi pola seperti itu tidak pernah kebetulan."
Galih membaca lembar itu dua kali. Di kepalanya, potongan-potongan mulai saling menempel seperti bidak yang disusun ulang: kata belum di loket-loket, daftar yang terbit tanpa namanya, suara di telepon yang tahu segalanya sebelum terjadi. Selama ini ia melawan kabut. Sekarang kabut itu punya jadwal, punya tempat, punya tangan yang menandatangani.
"Kenapa kamu kasih ini ke saya?" tanya Galih. "Kamu diuntungkan. Kamu ada di daftar itu. Tinggal diam dan kamu masuk."
Reyhan diam sebentar. Di jalan, truk lewat dan debu beterbangan, dan pemuda itu menunggu debu turun sebelum menjawab, seperti menunggu posisi stabil.
"Saya nggak pernah kalah dua kali dengan cara yang sama," katanya akhirnya, mengulang kalimat lamanya, tapi kali ini bunyinya berbeda. "Tapi ada hal yang lebih buruk dari kalah. Masuk dengan cara itu. Kalau nama saya ada di daftar dan nama kamu tidak, itu bukan saya menang. Itu saya dikasih tempat oleh orang yang bahkan tidak bisa membaca papan. Saya nggak mau masuk dengan cara itu. Sepuluh tahun dari sekarang saya mau ingat bahwa saya masuk karena langkah saya sendiri, bukan karena ada yang menandatangani di ruangan yang tidak pernah saya lihat."
Ia berdiri, menyampirkan ranselnya, merapikan lipatan kemejanya—gerakan-gerakan kecil orang yang seumur hidup dilatih rapi. Tidak ada jabat tangan. Tidak ada kata kawan. Mereka bukan kawan, dan keduanya sama-sama tahu itu; ini cuma dua orang yang kebetulan sama-sama tidak tahan pada kecurangan, dan kebetulan semacam itu belum punya nama.
"Rapat itu tertutup," kata Reyhan sebelum pergi. "Kamu tidak akan bisa masuk. Saya cuma bisa kasih benangnya. Mau ditarik ke mana, itu urusanmu."
"Satu hal," panggil Galih. "Orang yang menandatangani itu. Kamu bilang satu tangan dari awal sampai akhir. Sejak kapan?"
Reyhan berhenti di ujung teras. Untuk pertama kali sore itu ia tampak tidak yakin pada jawabannya sendiri. "Kata pelatih saya—dan dia orang lama, dia tahu dapur federasi—meja itu tidak pernah berubah. Orangnya naik pangkat, pindah ruangan, ganti gelar. Tapi tangannya sama. Sudah lama sekali, katanya. Lebih lama dari umur kita main catur."
Lalu ia pergi, menyusuri jalan kabupaten dengan langkah teratur seperti jarum jam, dan Galih duduk sendirian di bangku teras dengan selembar kertas di tangan. Di dalam warnet, lampu mulai menyala satu per satu menghadapi malam. Di sakunya, tutup botol teh dan nomor berhuruf satu sama-sama menunggu.
Selama ini Galih mengira pertarungannya dua laga: satu di papan melawan orang-orang, satu di luar papan melawan tangan-tangan yang tidak kelihatan. Sore itu ia belajar ada laga ketiga, yang paling ganjil dari semuanya: bahwa di luar papan, lawan lamanya baru saja menggerakkan bidak pertamanya—dan langkah itu, untuk pertama kali, berpihak pada Galih.