Batuk ayahnya adalah jam kedua di rumah itu. Jam dinding di ruang tengah sudah lama mati, baterainya tidak pernah dibelikan karena selalu ada yang lebih penting, jadi waktu di rumah Galih diukur dari bunyi lain: azan dari masjid, gerobak tukang sayur, dan batuk di balik dinding triplek—pendek di pagi hari, panjang di malam hari, dan makin malam makin terdengar seperti kayu tua yang dipaksa melengkung.
Minggu itu batuknya berubah. Bukan lagi keras, melainkan dalam—bunyi yang datang dari tempat yang lebih jauh di dalam dada, yang berhenti bukan karena selesai tapi karena kehabisan tenaga. Dua kali Galih terbangun malam dan mendengar ayahnya terbatuk sampai terengah, dan dua kali itu pula ia mendengar ibunya bangun, bunyi gelas, bisik-bisik, lalu diam yang lebih berat dari batuknya.
"Besok ke puskesmas," kata ibunya di pagi buta, tanpa nada yang bisa dibantah.
Ayahnya menolak dengan caranya yang biasa—melambaikan tangan tanpa menoleh, seolah penyakit bisa diusir seperti lalat. Tapi kali ini ibunya tidak berhenti di kata. Ia sudah memakai sandal sebelum ayam tetangga berhenti berkokok, dan ayahnya, yang seumur hidup tidak pernah menang melawan ketegasan istrinya yang pendiam, akhirnya bangkit juga, pelan, sambil berpegang pada kusen.
Galih mengantar. Puskesmas kabupaten pagi itu penuh orang yang sama lelahnya, duduk di kursi tunggu plastik dengan nomor antre di tangan. Dokter muda yang memeriksa ayahnya mendengarkan dada tua itu lewat stetoskop, lama, di beberapa titik, lalu menulis dengan wajah yang berusaha tetap datar—wajah yang Galih kenali dari papan, wajah orang yang melihat posisi buruk dan tidak ingin menunjukkannya.
"Perlu rontgen," kata dokter itu. "Di sini tidak ada alatnya. Ke rumah sakit kota. Minum obat ini dulu, rutin, jangan putus." Ia menyerahkan dua lembar kertas: satu rujukan, satu resep. Dua lembar yang di tangan Galih terasa seperti notasi partai yang sudah kalah sebelum dimainkan.
Di apotek sebelah puskesmas, resep itu berubah menjadi angka. Angka itu berubah menjadi hitungan: sekian kali harga beras, sekian kali cicilan tunggakan listrik warnet, sekian hari upah menjaga bilik. Ibunya membayar dengan uang dari lipatan kain yang selalu ia simpan di dalam—lipatan yang Galih tahu menipis dengan kecepatan yang tidak bisa ditutup oleh apa pun di rumah itu. Rontgen di rumah sakit kota belum. Itu urusan minggu depan, dan minggu depan selalu datang lebih cepat dari uang.
Malamnya, di meja dapur, ibunya membagi lagi. Bukan amplop kali ini—tidak ada amplop yang masuk—melainkan tagihan dan sisa uang, disusun berjejer di bawah lampu seperti bidak di papan yang miskin. Biaya rontgen. Obat sebulan. Beras. Listrik. Ibunya menggeser-geser angka itu dengan kesabaran orang yang sudah bertahun-tahun bermain posisi kalah dan menolak menyerah, dan tidak sekali pun ia mengeluh, dan justru itu yang menghancurkan Galih pelan-pelan dari dalam.
Karena ibunya tahu. Galih yakin ibunya tahu—bukan detailnya, bukan nama Gunawan, bukan soal kuota dan loket, tapi perempuan yang bisa membaca tebal amplop dari lipatannya pasti bisa membaca anaknya yang pulang malam dengan wajah orang membawa rahasia. Dan ibunya memilih diam. Diam yang tidak menuntut, tidak melarang, tidak menyarankan—diam yang menyerahkan seluruh beban keputusan ke pundak anaknya, dan diam semacam itu, Galih belajar, lebih berat dari kata-kata mana pun. Kata-kata bisa dibantah. Diam hanya bisa dijawab dengan perbuatan.
"Sakit Bapak jangan dipikir," kata ayahnya dari balik triplek, di sela batuk, seolah membaca pikiran lewat dinding. "Kamu urus caturmu."
Tapi justru catur yang membawanya ke semua ini. Catur yang memberinya amplop, catur yang membawanya ke kejurnas, catur yang mempertemukannya dengan orang-orang berkemeja rapi yang tahu harga genteng dan harga obat. Di papan, pengorbanan adalah langkah yang dihitung: engkau memberi sesuatu untuk mendapat sesuatu yang lebih besar. Malam itu Galih duduk di depan papan retaknya sendirian, tutup botol teh di tangan, dan bertanya pada enam puluh empat kotak itu pertanyaan yang tidak ada jawabannya di buku mana pun: kalau yang dikorbankan adalah dirinya sendiri—kebenarannya, jalannya, dua puluh tahunnya, seperti Pak Sastro—dan yang didapat adalah ayahnya sembuh, apakah itu pengorbanan yang benar?
Papan tidak menjawab. Papan memang tidak pernah menjawab hal-hal seperti itu. Papan hanya jujur tentang papan.
Lewat tengah malam, di kursi penjaga warnet yang sepi—Mas Topan membiarkannya mengambil shift ganda, "lumayan buat nambah," katanya, tanpa tahu betapa tidak lumayannya—Galih membuka ponsel bututnya dan menatap layar kecil itu lama sekali.
Dua nama di daftar kontak. Dua nomor.
Yang pertama: G. Satu huruf yang ia simpan tiga malam lalu, yang berisi suara hangat dan es yang beradu di gelas, yang menjanjikan semua tagihan di meja dapur itu lunas dengan satu kata. Jalan mulus. Jalur yang tidak kelihatan dari loket.
Yang kedua: Ibu. Nomor rumah, yang kalau ia tekan sekarang akan tersambung ke perempuan yang sedang tidak tidur di sebelah dinding triplek, menghitung ulang angka-angka yang tidak mau berubah, menunggu tanpa pernah meminta.
Gunawan dan kenyataan. Tawaran dan tagihan. Dua kotak yang sama-sama terang, dan Galih duduk di antaranya seperti raja yang terjepit di barisan belakang—ke mana pun ia melangkah, ada harga yang harus dibayar, dan jamnya terus berjalan, dan tidak ada kontrol waktu di langkah keempat puluh yang akan menyelamatkannya.
Ia menutup ponsel. Menyalakannya lagi. Menutupnya lagi. Di luar, lampu jalan kabupaten yang kuning menyiram aspal basah, dan batuk itu—batuk yang sebenarnya jauh, di rumah, di balik triplek—terus berbunyi di kepalanya seperti jam yang tidak pernah berhenti.