Godaan tidak pernah datang dua kali dengan wajah yang sama. Pertama ia datang sebagai tawaran, duduk di seberang meja kafe dengan kemeja rapi dan kopi yang harganya setara tiga hari beras. Kedua, ia datang sebagai suara di telepon—hangat, sabar, seolah tidak pernah ada yang menolaknya, seolah kartu nama di tong sampah penginapan itu hanya salah alamat.
Telepon itu masuk saat Galih menjaga shift malam. Warnet tinggal menyisakan tiga bilik yang menyala, hujan gerimis mengetuk atap seng seperti orang berbisik tanpa selesai, dan ponsel bututnya bergetar di meja penjaga dengan nomor yang tidak dikenal. Galih hampir tidak mengangkatnya. Nomor tak dikenal biasanya cuma salah sambung atau penjual pulsa. Tapi ibu jarinya bergerak lebih dulu dari pikirannya.
"Halo?"
"Galih." Suara itu langsung akrab, tanpa basa-basi memperkenalkan diri, seperti kawan lama yang merasa tidak perlu. "Masih ingat suara saya? Kafe sebelah hotel. Pas kejurnas kemarin."
Galih tidak menjawab. Tangan kirinya meraba saku celana—di sana, masih, tutup botol teh yang pipih dan penyok, kebiasaan lama yang tidak pernah hilang, jangkar kecil yang ia sentuh setiap kali dunia mulai bergeser.
"Nama saya Gunawan," kata suara itu akhirnya, pelan, seolah menyerahkan nama adalah bentuk kepercayaan. "Maaf baru menelepon sekarang. Saya dengar kabar yang tidak enak. Daftar sementara sudah terbit, dan namamu tidak ada di situ."
Sesuatu bergerak pendek di dada Galih, seperti bidak yang dilepas sebelum dihitung. "Bapak tahu dari mana?"
"Saya selalu tahu, Galih. Sudah pernah saya bilang: tahu apa yang dibutuhkan orang itu pekerjaan kami." Jeda kecil. Di latar suara ada bunyi es beradu di gelas. "Saya dengar kamu sudah seminggu lebih keluar-masuk loket. Berkas ini, berkas itu. Surat keterangan ini, legalisasi itu. Cap ini, tanda tangan itu. Capek, ya?"
Galih diam. Tapi diamnya sendiri sudah menjawab, dan ia tahu lelaki di seberang sana cukup pintar untuk membacanya.
"Biar saya tebak isi mulut mereka," lanjut Gunawan, suaranya makin pelan, makin hangat, seperti orang membungkus pisau dengan kain sutra. "Mereka tidak pernah bilang tidak. Mereka cuma bilang belum. Belum lengkap. Belum diverifikasi. Belum diproses. Kata belum itu tidak bisa kamu lawan, Galih. Tidak ada pengadilan untuk kata belum. Kamu tidak bisa menang melawan kata yang tidak pernah selesai."
Galih menggenggam ponsel lebih keras. Seminggu penuh di loket-loket itu ia belajar persis hal yang sama, dan mendengarnya diucapkan orang lain—diucapkan dengan tepat, tanpa meleset sedikit pun—membuatnya merasa telanjang. Seperti dulu melihat partainya dibedah di layar ruang analisis, langkah demi langkah, oleh orang yang bahkan tidak pernah duduk di seberangnya.
"Kenapa Bapak cerita semua ini ke saya?"
"Karena saya tidak suka melihat bakat dibunuh dengan stempel." Gunawan menghela napas, dan napas itu terdengar tulus—atau terdengar seperti tulus, dan Galih sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa bedanya tidak selalu penting. "Dengar. Daftar itu belum final. Masih ada daftar susulan. Masih ada pertimbangan. Masih ada nama yang bisa masuk lewat pintu yang tidak kelihatan dari loket. Masih bisa diatur, Galih. Semuanya masih bisa diatur. Tinggal bilang iya."
Iya. Satu kata. Lebih pendek dari langkah apa pun yang pernah ia hitung di papan, dan lebih berat dari semuanya.
Di papan, Galih tahu persis cara menolak jebakan: hitung sampai dalam, cari langkah yang tampak memberi tapi sebenarnya mengambil. Tawaran ini jebakan jenis itu. Ia melihatnya. Ia melihatnya dengan terang. Dan justru karena melihatnya dengan terang, ia mengerti betapa kuatnya—karena jebakan ini tidak menawari kemenangan palsu. Ia menawari sesuatu yang nyata: ayah yang berobat, genteng yang ditambal, ibu yang tidak lagi membagi amplop seperti membagi nasi.
"Keluargamu bagaimana?" tanya Gunawan, seolah membaca jarak yang tercipta. "Ayahmu batuknya makin sering, ya? Saya dengar begitu. Obat rutin itu mahal kalau dihitung setahun. Saya tahu, Galih. Saya selalu tahu."
Darah Galih turun pelan-pelan. Bukan karena ancamannya—lelaki itu bahkan tidak mengancam. Justru itu. Ia menyebut ayahnya dengan nada prihatin, seperti orang menyebut kabar duka di pengajian, dan kehangatan itu lebih menakutkan dari bentakan mana pun. Mereka sudah membedah kemiskinannya seperti pelatih membedah partai. Mereka tahu di kotak mana ia lemah.
"Nomor saya ini Bapak dapat dari mana?" tanya Galih, dan suaranya keluar lebih datar dari yang ia kira.
Tawa kecil di seberang. "Nomor tidak sulit, Galih. Nomor itu gampang. Yang sulit itu waktu, dan waktumu tidak banyak. Daftar final tidak menunggu orang yang sibuk di loket." Jeda. "Kamu tidak perlu jawab sekarang. Simpan nomor saya. Pikirkan baik-baik. Orang seperti kamu—orang yang menghitung—pasti sampai pada jawaban yang benar. Saya cuma mempersingkat hitungannya."
Telepon ditutup. Nada sibuk. Warnet kembali pada dengungnya: kipas pendingin, gerimis di seng, seorang pelanggan di bilik tiga mengumpat pada gim yang kalah. Galih berdiri lama dengan ponsel di tangan, di antara empat belas bilik yang separuh gelap, dan merasakan tubuhnya melakukan sesuatu sebelum kepalanya sempat melarang.
Ia membuka menu kontak. Ia mengetik satu huruf: G. Bukan nama lengkap—itu terasa terlalu hormat, terlalu resmi. Satu huruf saja, seperti orang mencatat langkah yang belum pasti akan dimainkan. Lalu ia menyimpan nomor itu.
Dan begitu nomor itu tersimpan, jijik itu datang. Pelan, dingin, pasti—seperti rasa yang muncul sedetik setelah jari lepas dari bidak dan mata melihat celah yang tadi tidak terlihat. Ia tidak menjawab iya. Ia tidak melempar telepon ke dinding seperti orang di sinetron. Ia melakukan hal yang lebih buruk dari keduanya: ia menyimpan pintunya. Ia membiarkan kemungkinan itu tetap hidup di saku celananya, di sebelah tutup botol teh—dua benda kecil, satu melambangkan dari mana ia datang, satu melambangkan ke mana ia bisa tergelincir.
Di papan, langkah buruk masih bisa dipelajari sesudahnya, dibedah, disesali, diperbaiki di partai berikut. Di luar papan, Galih mulai paham, langkah buruk tidak selalu berbentuk keputusan. Kadang ia berbentuk keputusan untuk belum memutuskan. Dan malam itu, di bawah lampu warnet yang berdengung seperti lalat yang tak mau mati, untuk pertama kali dalam hidupnya Galih tidak yakin apakah ia sedang menahan langkah—atau sudah melangkah.