Orang bilang kertas itu benda paling ringan di dunia. Orang yang bilang begitu belum pernah mengejar selembar kertas dari meja ke meja, dari loket ke loket, dari pagi sampai sore, sambil membawa seluruh masa depannya di map plastik yang sudutnya mulai retak.
Galih mulai dari kantor panitia daerah, tempat dulu ia menyerahkan semuanya. Ruangannya sempit, kipas anginnya berputar pelan seperti ikut lelah, dan di balik meja duduk seorang perempuan muda yang mendengarkan ceritanya dengan sopan, benar-benar sopan, sebelum menjawab dengan kalimat yang akan menjadi lagu tema minggu-minggu berikutnya: "Berkasnya sudah kami teruskan ke pusat, Mas. Kalau kurang, bukan dari kami. Coba ditanyakan ke sana."
Maka ia bertanya ke sana. Kantor federasi di ibu kota, dua hari perjalanan kereta ekonomi yang ongkosnya ia hitung dalam satuan obat ayah. Di sana, gedungnya dingin dan bersih, dan berkasnya—petugas di loket informasi mencarinya di komputer dengan jari yang tidak buru-buru—dinyatakan "belum lengkap, satu item". Item apa, tidak bisa dibaca sistemnya. "Coba ke bagian sebelah," kata petugas itu, menunjuk lorong. "Bagian verifikasi. Lantai dua."
Bagian verifikasi di lantai dua mengatakan berkas tidak pernah sampai ke mereka secara utuh—"mungkin tersangkut di administrasi umum"—dan administrasi umum di lantai satu mengatakan berkas itu sudah diteruskan, dan kalau belum terdaftar di verifikasi, "ya berarti sedang diproses, Mas, minggu depan coba cek lagi". Minggu depan. Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang sama di tiga meja berbeda, nada orang yang tidak menolakmu, tidak melarangmu, tidak melakukan apa pun yang bisa kamu bantah—hanya menggeser harimu satu kotak ke belakang, satu kotak lagi, satu kotak lagi, seperti pemain yang kalah posisi tapi menang jam.
Di hari ketiga di ibu kota, setelah lorong yang sama untuk kesekian kali, seorang petugas senior akhirnya menemukan catatannya. "Oh, ini," katanya, mengangguk-angguk pada layar seolah menyapa kenalan lama. "Kurang satu tanda tangan. Formulir B-empat, halaman dua. Seharusnya ditandatangani ketua panitia daerah, kolom sebelah kiri bawah."
"Saya isi semua yang diminta waktu itu, Pak. Formulir dari mereka. Kalau kurang tanda tangan, kenapa waktu itu diterima? Ada tanda terimanya." Galih menyodorkan lembar tanda terima, distempel, bertanggal.
Petugas itu melihatnya sekilas—benar-benar sekilas, seperti orang melihat hujan dari balik jendela—lalu mengangkat bahu. "Tanda terima itu bukti kami menerima berkasnya, Mas. Bukan bukti berkasnya lengkap." Dan kalimat itu diucapkannya tanpa beban sedikit pun, kalimat yang di kepalanya mungkin cuma prosedur, tapi yang di telinga Galih adalah seluruh mesin itu membuka mulutnya dan memperlihatkan giginya: kami tidak perlu benar. Kami hanya perlu tidak bisa disalahkan.
Pulang ke kabupaten, ia meminta tanda tangan ketua panitia. Ketua panitia sedang keluar kota. Minggu depan. Saat ketua panitia kembali, formulir B-empat tidak ada di arsip daerah—sudah dikirim ke pusat, ingat—jadi harus dibuat ulang, ditandatangani ulang, dikirim ulang. Lalu dari pusat datang kabar baru: formulir sudah lengkap, tapi sekarang surat keterangannya "perlu diperbarui" karena tanggalnya sudah lewat dari yang diwajibkan. Padahal tanggal itu lewat justru karena berkasnya bolak-balik. Galih memperbarui surat itu. Saat ia serahkan, ada item baru lagi.
Dan di titik itulah, di lorong kantor yang lampunya berdengung, memegang map plastik yang makin retak, Galih akhirnya mengerti apa yang sedang ia lawan.
Ini bukan larangan. Tidak ada satu pun orang di gedung-gedung ini yang berkata tidak. Tidak ada yang menolaknya, tidak ada yang melarangnya, tidak ada satu kalimat pun yang bisa ia catat dan bawa ke mana-mana sebagai bukti kezaliman. Yang ada hanya senyum sopan, bahu yang terangkat, dan minggu depan—selalu minggu depan, minggu demi minggu, sementara tahun ajaran beasiswa berjalan di kalender seperti kereta yang tidak menunggu. Mereka tidak mengambil haknya. Mereka hanya membuat haknya terlalu capek untuk dijemput.
Inilah bentuk kecurangan yang tidak pernah diajarkan siapa pun padanya di papan. Di papan, lawan menyerang dari depan, terlihat, bisa dihitung. Di sini, lawan tidak menyerang sama sekali. Lawan hanya berdiri di lorong dan berkata ke bagian sebelah, berkata minggu depan, berkata kurang satu tanda tangan, sampai kamu sendiri yang menyerah, sampai kamu sendiri yang pulang, sampai kamu sendiri yang memutuskan bahwa satu kuota beasiswa tidak sebanding dengan hidupmu yang habis di kereta ekonomi—dan begitu kamu memutuskan itu sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan, karena semuanya, secara administratif, sudah benar.
Dua puluh tahun lalu, Pak Sastro sampai di lorong yang sama dan berhenti. Bukan karena kalah argumen—karena habis tenaga. Lorong ini dirancang persis untuk itu: bukan untuk menang, tapi untuk membuat orang kehabisan.
Malam itu, di kereta pulang yang berderit di relnya, Galih menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela yang gelap, map plastik di pangkuan, dan merasakan sesuatu bergerak di dalam dirinya—bukan amarah, amarah terlalu boros untuk perjalanan panjang. Yang bergerak itu lebih dingin dan lebih pelan, dan ia mengenalinya karena ia pernah merasakannya di atas papan, di lima puluh detik terakhir sebelum tangannya turun ke bidak pengorbanan: tekad. Tekad yang tidak berteriak. Tekad yang menghitung.
Mereka pikir lorong ini akan melelahkannya. Mereka lupa siapa yang mereka hadapi. Ia anak yang bertahun-tahun berjalan di gelap tanpa peta, yang belajar kebenaran tanpa mesin, yang menolak jalan mulus di depan hidungnya. Kelelahan adalah medan yang sudah ia kenal seumur hidupnya—lorong ini, dengan segala belokan dan minggu depannya, hanyalah belantara dalam bentuk lain.
Dan di belantara, ia raja.
Galih membuka map plastiknya, mengeluarkan lembar demi lembar—tanda terima, salinan formulir, catatan tanggal, nama petugas, nomor loket—dan di bawah lampu kereta yang kuning dan berayun, ia mulai menyusunnya kembali. Satu per satu. Rapi. Bukan lagi sebagai berkas yang dikejar, melainkan sebagai sesuatu yang lain yang mulai punya bentuk di kepalanya, sesuatu yang akan ia bangun selangkah demi selangkah seperti garis tajam yang tidak ada di catatan siapa pun:
Bukti.