Dua puluh tahun adalah jarak yang sangat jauh untuk sebuah luka, tapi tidak cukup jauh untuk sebuah kalimat. Kalimat bisa berjalan lebih cepat dari waktu. Kalimat bisa menunggu dua puluh tahun di satu tempat, lalu melompat keluar dan menggigit orang berikutnya di tempat yang sama.
Daftar itu terbit di hari kelima belas.
Bukan daftar resmi—daftar sementara, begitu judulnya, ditempel di situs federasi dan di papan pengumuman gedung olahraga kabupaten dengan stempel basah dan tulisan tangan kecil di pojok: menunggu pengesahan. Galih membacanya pertama kali dari layar komputer kasir warnet, pagi-pagi sebelum bilik-bilik penuh, dan ia membacanya dua kali sebelum berani mempercayai matanya.
Ada tiga nama untuk kuota beasiswa wilayah mereka.
Nama Reyhan Aksoro ada di baris pertama.
Nama Galih tidak ada di mana-mana.
Di bawah daftar, di catatan kaki yang hurufnya lebih kecil seolah malu pada dirinya sendiri, ada satu baris keterangan di sebelah nomor urut yang kosong. Galih membaca baris itu tiga kali, empat kali, dan setiap kali ia membacanya, baris itu tidak berubah, tidak akan pernah berubah, karena baris itu memang dirancang untuk tidak bisa dilawan: peserta atas nama Galih tidak dapat dimasukkan dalam daftar sementara karena berkas belum lengkap.
Berkas belum lengkap.
Ia duduk di kursi kasir yang berderit dan menatap layar sampai huruf-hurufnya kehilangan arti. Berkasnya sudah ia serahkan semua. Lengkap. Ada tanda terima, ada stempel, ada tanggal. Ia masih ingat lembarannya satu per satu karena ia menghitungnya seperti menghitung beras—identitas, akta, surat keterangan, lembar partai, formulir huruf cetak. Semua. Dan sekarang, dari ruangan yang tidak pernah ia lihat, datang kalimat yang memberi tahu bahwa semua itu tidak ada, atau tidak cukup, atau tidak sampai—kalimat tidak menjelaskan yang mana, karena kalimat itu tidak perlu menjelaskan. Kalimat itu hanya perlu ada.
Anak SD dari bilik tujuh memanggilnya karena komputernya macet, dan Galih mematikan dan menyalakannya kembali dengan tangan yang bekerja sendiri, sementara kepalanya ada di tempat lain. Di kepalanya, suara Pak Sastro di lapangan parkir berlampu kuning, malam itu, berbulan-bulan lalu, berkata pelan: tiga minggu kemudian nama saya tidak ada di daftar kuota. Ada alasan administratif. Berkas yang katanya tidak lengkap.
Kata demi kata. Sama. Persis sama.
Ia membuka laci meja kasir, mengeluarkan map tempat ia menyimpan salinan semua yang pernah ia serahkan—sejak semalam ia sudah mulai menyalin segalanya, kebiasaan baru yang lahir dari kecurigaan lama—dan membandingkannya dengan ingatannya lembar demi lembar. Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang terlewat. Ia sudah menghitungnya berkali-kali seperti menghitung langkah di papan, dan hasilnya selalu sama: lengkap. Yang tidak lengkap itu bukan berkasnya. Yang tidak lengkap itu penjelasan mereka, dan penjelasan yang tidak lengkap memang tidak pernah ditagih siapa-siapa.
Sore itu ia membawa cetakan daftar itu ke rumah cat hijau. Ia tidak menelepon lebih dulu—ia hanya datang, dan Pak Sastro membuka pintu, dan dari wajah Galih lelaki tua itu sudah tahu sebelum selembar kertas itu berpindah tangan.
Pak Sastro membacanya di ambang pintu, tanpa kacamata, memegang kertas itu agak jauh dari wajahnya seperti orang memegang sesuatu yang panas. Dan Galih menyaksikan wajah itu—menyaksikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia lupakan: bukan kaget. Kaget membutuhkan ketidakdugaan, dan tidak ada satu pun dari ini yang tidak terduga. Yang ada di wajah lelaki tua itu adalah pengenalan. Pengenalan yang mengerikan, seperti orang yang membuka pintu di tengah malam dan mendapati di ambangnya hantu yang dua puluh tahun lalu mengusirnya dari rumahnya sendiri—lebih tua sekarang, lebih kalem, tapi hantu yang sama, dengan kalimat yang sama, tersenyum dengan cara yang sama.
"Berkas belum lengkap," ulang Pak Sastro, dan suaranya bukan suara orang membaca. Suaranya adalah suara orang yang mendengar eko. "Dua puluh tahun, Nak. Dua puluh tahun, dan mereka bahkan tidak repot-repot mengganti kalimatnya."
Tangannya menurunkan kertas itu. Untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa, dan di keheningan itu Galih mengerti betul apa yang sedang terjadi di dalam lelaki di depannya: bukan hanya kasusnya yang berdiri di sana. Kasus Pak Sastro sendiri ikut berdiri di sana, di ambang pintu rumah cat hijau, dua kejadian yang berjarak dua puluh tahun menempel jadi satu gambar seperti dua lembar kertas basah—anak daerah, miskin, menang jujur di papan demonstrasi, menolak jalan mulus, lalu namanya lenyap dari daftar dengan alasan administratif. Sekali adalah kecelakaan. Dua kali, dengan kalimat yang sama persis, adalah kebiasaan.
"Mereka lupa satu hal," kata Pak Sastro akhirnya, pelan. Ia menatap Galih, dan ada sesuatu di matanya yang baru, yang belum pernah Galih lihat di sana selama berbulan-bulan berguru—bukan luka, bukan kelelahan. Api. Kecil, tua, tapi menyala. "Dulu, yang mereka curi cuma saya. Sendirian. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang peduli, dan saya pulang dan berhenti dan itu selesai." Ia melipat kertas itu rapi, dua lipatan, dan mengembalikannya ke tangan Galih. "Kali ini ada kamu. Dan kali ini ada saya. Dan kali ini, mereka melakukannya di depan mata yang sudah tahu cara mereka bekerja."
Galih menggenggam kertas itu. Dingin yang ia rasakan sejak pagi tidak hilang, tapi di dalam dingin itu ada yang mulai mengeras, seperti air yang bukan membeku, melainkan menjadi arus—arus yang tahu ke mana ia harus pergi.
"Terus sekarang gimana, Pak?"
Pak Sastro menatap jalan di depan rumahnya, ke arah masjid, ke arah langit sore yang menguning seperti lampu sodium di lapangan parkir bertahun-tahun lalu.
"Sekarang," katanya, "kamu pergi menanyakan berkasmu. Sopan. Sabar. Bawa tanda terimanya. Dan lihat apa yang terjadi." Ia menoleh, dan senyumnya adalah senyum orang yang sudah pernah berjalan ke ujung jalan ini dan tahu persis di mana saja lubangnya. "Mereka akan melelahkanmu, Nak. Itu senjata mereka. Bukan larangan. Kelelahan. Jangan sampai berhasil."