Amplop yang pertama selalu terasa seperti keajaiban. Amplop yang kedua—Galih mempelajari ini dalam seminggu yang berjalan terlalu cepat—terasa seperti janji, dan janji adalah benda yang paling cepat menguap di dunia.
Kemenangan itu menyebar dengan cara orang kabupaten menyebarkan apa saja: tidak rapi, tapi cepat. Klip video dari ponsel penonton—detik-detik raja Reyhan direbahkan, gedung yang meledak—berpindah dari grup ke grup, dari tangan ke tangan, sampai ke kampungnya sendiri. Koran lokal menurunkan tulisan pendek di halaman olahraga, halaman yang sama yang dulu menjadi gurunya lewat diagram kuning yang dipotong pembungkus gorengan. "ANAK WARNET JUARA," bunyi judulnya, salah kaprah tapi hangat, dan Mas Topan mengguntingnya dan menempelkannya di dinding warnet dengan lakban, di antara tarif per jam dan poster band lama.
"Lu sekarang seleb," kata Mas Topan, bangga dengan cara yang canggung.
"Selebriti warung kopi, paling," kata Galih. Tapi ia tersenyum. Untuk beberapa hari, ia membiarkan dirinya tersenyum.
Anak-anak langganan warnet memutar klip itu berulang-ulang di bilik-bilik, memelankan gerakannya, memperdebatkan langkah mana yang paling hebat dengan pengetahuan yang mereka kumpulkan dari video-video daring. Anak SD dari bilik tujuh bersikeras bahwa ia selama ini sudah tahu Galih jago—"gua yang pertama tahu, gua"—dan mengumumkannya pada siapa pun yang mau dengar. Untuk pertama kalinya, warnet itu, dengan empat belas bilik birunya dan lampunya yang berdengung, terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang punya nama dan tercetak di koran.
Di rumah, amplop hadiah juara dibuka ibunya di bawah lampu dapur, dan ibunya membaginya seperti selalu—seperti membagi nasi—tapi kali ini potongannya berbeda: obat ayah yang lebih mahal, yang dulu selalu ditunda; tukang untuk genteng, sungguhan, bukan tambalan; tunggakan yang lunas. Dan di balik dinding triplek, ayahnya yang batuknya belum juga sembuh berkata dengan suara serak yang berusaha keras terdengar biasa, "Anak bapak," hanya itu, dua kata, tapi dua kata itu lebih berat dari piala mana pun.
Federasi, di depan umum, adalah federasi yang sempurna. Di acara penutupan, seorang pejabat berkemeja batik menjabat tangan Galih di depan kamera, menepuk bahunya, berkata dengan suara yang dibuat untuk jangkauan mikrofon: "Ini bukti pembinaan kita berjalan. Anak daerah pun bisa. Kuota beasiswa untuk pembinaan jangka panjang—sudah jadi hakmu, Nak." Orang-orang bertepuk. Foto diambil. Berita kecil naik lagi: federasi merangkul anak muda berbakat.
Semua orang pulang dengan rasa hangat.
Lalu daftar itu tidak kunjung terbit.
Hari pertama, Galih tidak memikirkannya. Verifikasi, kata orang, wajar. Hari ketiga, ia mulai mengecek papan pengumuman di situs federasi setiap pagi dari komputer kasir warnet, dan yang ia temukan hanya pengumuman-pengumuman lama yang menggantung seperti cucian yang lupa diangkat. Hari kelima, ia bertanya pada panitia, dan panitia menjawab dengan kalimat yang terlalu rapi untuk tidak dihafal lebih dulu: "Sabar, ya. Masih menunggu verifikasi administrasi dari pusat."
Verifikasi administrasi.
Galih menelan kalimat itu dan berusaha tidak merasakan apa-apa. Administrasi adalah kata yang tidak berbau, kata kantor, kata yang wajar. Berkas memang harus diverifikasi. Ia bahkan sudah menyiapkan semuanya sejak sebelum final: kartu identitas, akta, surat keterangan, lembar partai bertanda tangan, formulir yang ia isi dengan huruf cetak sebaik yang ia bisa. Semua sudah diserahkan. Semua sudah diterima. Ada tanda terimanya, distempel.
Hari kedelapan, rumor itu datang lagi.
Ia tidak tahu dari mana—dan justru itu cirinya. Ia menangkapnya di warung dekat gedung olahraga, dua orang tua dari klub catur kabupaten bicara pelan dan berhenti terlalu cepat saat melihatnya. Ia menangkapnya di grup ponsel, satu kalimat dari akun yang tidak ia kenal, dihapus beberapa menit kemudian: katanya kuota tahun ini ada perubahan kebijakan. Ia menangkapnya dari cara orang-orang yang dulu antusias menyapanya kini menyapanya dengan senyum yang lebih pendek, mata yang lebih cepat berpaling.
Rumor, ia ingat dari suatu sore di lorong gedung berminggu-minggu lalu, tidak datang seperti suara. Rumor datang seperti bau—tercium sebelum bisa dijelaskan, mengendap di segala sudut, dan tidak bisa dilawan karena tidak ada yang bisa ditunjuk dan dikatakan: ini, ini sumbernya.
Dan bau ini, Galih kenal. Bau ini sudah pernah ia cium, persis, di musim babak penentu, dari mulut lelaki berkemeja rapi di kafe hotel: banyak yang menang di papan tapi tetap pulang dengan tangan kosong.
Ia menceritakannya pada Pak Sastro di rumah cat hijau, sore itu, di antara dua rak buku yang sampulnya retak. Lelaki tua itu mendengarkan tanpa memotong, tangan di atas papan kayu yang kosong, dan saat Galih selesai, ia tidak berkata jangan berpikiran buruk. Ia tidak berkata tenang saja. Ia hanya bertanya satu hal, dengan suara yang terlalu datar.
"Sudah berapa hari?"
"Sembilan, Pak."
Pak Sastro mengangguk pelan. Dua puluh tahun lalu, ia menunggu tiga minggu. Ia hafal bau ini seperti orang hafal bau rumah yang pernah terbakar.
"Tunggu," katanya akhirnya. "Tapi tunggu sambil membuka mata. Kalau daftar itu terbit dan namamu ada, kita bersyukur dan saya salah curiga—dan tidak apa-apa, saya senang salah." Ia menatap Galih lama. "Tapi kalau terbit dan namamu tidak ada, Nak—jangan kaget. Orang yang menang di papan baru bertanding satu babak. Babak berikutnya tidak pakai bidak."
Malam itu Galih pulang melewati jalan yang sama yang selalu ia lewati, lampu jalan setengah mati, dan untuk pertama kali sejak raja Reyhan direbahkan, ia merasakan dingin yang bukan dari angin. Daftar itu akan terbit. Cepat atau lambat, semua daftar terbit. Yang tidak ia tahu hanya satu: apakah di dalamnya ada namanya—atau apakah namanya sudah lebih dulu dikeluarkan dari daftar oleh tangan-tangan yang tidak pernah duduk di depan papan, di ruangan yang tidak akan pernah ia lihat, dengan alasan yang sedang, mungkin saat ini juga, sedang ditulis.