Di seluruh dunia, di semua bahasa, ada satu gerakan yang artinya sama: raja yang direbahkan pelan ke papan, seperti orang menidurkan sesuatu yang sudah selesai berjuang. Gerakan itu tidak butuh kata. Gerakan itu sendirilah katanya.
Tapi sebelum gerakan itu sampai, Reyhan masih mencari.
Galih melihatnya dari dekat—lebih dekat dari siapa pun di gedung itu. Ia melihat mata dingin pemuda akademi itu berlari ke seluruh penjuru papan, ke setiap kotak, ke setiap kemungkinan, dengan kecepatan yang hanya bisa dilakukan orang yang seumur hidup dilatih untuk ini. Jam Reyhan turun di bawah satu menit. Jam Galih tinggal tujuh detik, tapi tujuh detik itu tidak penting lagi—langkahnya sudah dimainkan, jamnya sudah ditekan, dan beban sekarang sepenuhnya di sisi seberang. Galih hanya perlu duduk dan menyaksikan garisnya diuji oleh ujian terakhir yang bisa diberikan dunia padanya: otak terbaik yang pernah ia lawan, dipaksa bekerja sampai habis.
Dan otak itu bekerja. Galih bisa melihat Reyhan menemukan jawaban demi jawaban, mencoba masing-masing di kepalanya, membuangnya satu per satu. Raja lari ke sini—tidak bisa, ada benteng yang tadi bergeser diam-diam. Benteng bertahan—tidak cukup, pion yang lewat sudah terlalu jauh. Menukar penyerang—tidak ada langkah yang memaksanya. Pintu demi pintu, dan semuanya dikunci dari luar.
Empat puluh detik di jam Reyhan. Tiga puluh.
Wasit berdiri di samping meja. Penonton berdiri di mana-mana. Papan demonstrasi besar menampilkan posisi itu seperti pengumuman, dan di barisan pelatih, seorang lelaki berdasi berbisik pada rekannya, dan rekannya menggeleng pelan—bukan menggeleng tidak percaya, menggeleng mengakui: selesai.
Reyhan mengangkat tangan kanannya.
Untuk sepersekian detik Galih mengira pemuda itu akan menunjuk sesuatu, memprotes sesuatu, mencari jalan hukum terakhir. Tapi tangan itu bergerak ke rajanya sendiri, menyentuh puncak mahkotanya, dan—pelan, sangat pelan, dengan hormat yang aneh—merebahkannya ke papan.
"Saya menyerah," kata Reyhan. Suaranya tidak bergetar. Itu yang paling Galih kagumi nanti, saat ia punya waktu untuk mengagumi.
Gedung itu meledak.
Bukan tepuk tangan biasa—ini bunyi yang belum pernah Galih dengar dalam hidupnya, ratusan orang berdiri serentak, bertepuk, ada yang bersorak, anak-anak klub catur kabupaten meloncat dari kursi, petugas papan demonstrasi meninggalkan tiangnya dan ikut bertepuk. Bunyi itu menggelinding dari lantai ke langit-langit gedung olahraga seperti air bah yang menemukan pintu. Galih duduk di tengahnya dan tidak bergerak, tidak bisa bergerak, karena tubuhnya baru saja tahu apa yang sudah diketahui papan sejak beberapa langkah lalu: garis itu benar. Garis yang tidak ada di mesin mana pun, tidak ada di catatan siapa pun, garis yang ia hitung sendiri di gelap—benar.
Ia menang.
Di barisan tengah penonton, di antara orang-orang yang berdiri dan bertepuk, Pak Sastro tetap duduk di kursinya. Dan Galih, yang akhirnya menoleh ke sana, melihat sesuatu yang akan ia bawa seumur hidupnya: lelaki tua itu menangis. Diam-diam, tanpa suara, tanpa menyeka, air itu turun begitu saja di wajah yang dua puluh tahun mengeras—lelaki yang dulu juga menang jujur di papan demonstrasi, di depan semua orang, dan menyangka kemenangan jujur akan melindunginya. Kursi lipatnya masih dipeluk di pangkuan seperti anak kecil memeluk bantal.
Reyhan berdiri. Ia mengulurkan tangan.
Galih berdiri, menjabatnya. Tangan itu masih kering, masih sejuk, tapi kali ini genggamannya lama—lebih lama dari yang dibutuhkan sopan santun.
"Kamu menang dengan cara yang paling sulit," kata Reyhan pelan, nyaris tenggelam dalam tepuk tangan. "Kamu bisa remis. Kamu tahu itu. Kamu bisa aman." Ia menatap Galih lurus, dan tidak ada kekalahan di matanya, hanya sesuatu yang mirip pengakuan resmi. "Saya akan mengingat partai ini. Bukan karena saya kalah. Karena kamu tidak."
Mereka melepas tangan. Wasit meminta tanda tangan di lembar partai—tinta resmi yang mengubah semuanya jadi catatan, jadi arsip, jadi fakta yang tidak bisa dibantah siapa pun. Galih menandatangani dengan tangan yang baru sekarang gemetar, setelah semuanya selesai, karena begitulah tubuh manusia: berani selama dibutuhkan, runtuh sesudahnya.
Para pejabat federasi turun ke lantai. Ada yang menepuk bahunya, ada yang sudah menyebut kata "beasiswa" dan "pembinaan" dengan suara yang dibuat untuk didengar banyak orang. Seseorang menyodorkan ponsel untuk foto. Galih tersenyum karena ia tahu ia harus tersenyum, dan di balik senyum itu ia mencari Pak Sastro lagi—tapi lelaki tua itu sudah berdiri, sudah melipat kursinya, sudah membelah kerumunan menuju pintu, kembali jadi orang yang tidak mau dilihat siapa-siapa.
Sebelum kembali ke penginapan, ia menelepon rumah dari wartel dekat gedung. Ibunya yang mengangkat, dan Galih hanya berkata dua kata—"Aku menang, Bu"—lalu mendengarkan di ujung sana ibunya tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama, hanya napas yang ditahan dan dilepas, dan samar-samar suara ibunya memanggil ke dalam, memanggil ayahnya, dan untuk pertama kali batuk di balik dinding triplek itu terdengar seperti sedang ikut tertawa.
Malam itu, di penginapan, Galih merebahkan diri di kasur tipis dan menatap langit-langit yang jamurnya membentuk peta yang tidak ia kenal. Ia juara. Ia menang. Jembatan keluar itu sudah terbentang—beasiswa, pelatih, mesin, obat ayah, genteng yang diperbaiki. Semua yang tadi pagi masih mimpi kini punya tanggal dan lembar partai bertanda tangan.
Tapi di sela kelelahan yang manis itu, sebelum tidur menutupnya, satu pikiran kecil lewat seperti angin dari kolong pintu: Pak Sastro juga pernah sampai di titik ini. Persis di titik ini. Menang jujur, disalami semua orang, difoto, dijanjikan.
Dan dua puluh tahun lelaki itu membayarnya.
Galih menepis pikiran itu, membalikkan badan menghadap dinding. Malam ini miliknya. Malam ini ia berhak. Besok, dan hari-hari sesudahnya, biarlah dunia mengurus dirinya sendiri—ia sudah melakukan bagiannya di enam puluh empat kotak, dan papan, seperti dijanjikan, sudah jujur padanya.
Masalahnya, ia lupa bahwa kemenangan di papan hanyalah langkah pertama. Dan di luar papan, lawan yang sebenarnya baru saja mulai menghitung.