Ada jarak yang lebih panjang dari jarak mana pun di dunia ini, dan jarak itu hanya sejengkal: antara tangan yang menggantung dan bidak yang menunggu di bawahnya. Galih menempuh jarak itu dalam lima puluh detik, dan dalam lima puluh detik itu ia melewati seluruh hidupnya—warnet yang berdengung, papan retak, tutup botol teh, ibu yang membagi amplop seperti membagi nasi, batuk di balik triplek, lelaki tua di lapangan parkir yang berkata papan itu jujur.
Tangannya turun.
Jari-jarinya menutup pada kuda. Ia mengangkatnya, meletakkannya di kotak yang sudah ia pilih sejak beberapa langkah lalu, kotak di mana kuda itu akan mati. Pengorbanan. Bukan umpan murah yang mengharap lawan salah melihat—Reyhan tidak akan salah melihat apa pun. Ini pengorbanan yang harus benar, yang mengaku kalah materi demi sesuatu yang lebih dalam dari materi: garis yang menggelinding, paksaan demi paksaan, sampai ke ujung yang hanya Galih yang mengaku pernah melihatnya.
Ia menekan jam.
Dengan gerakan itu, tawaran remis Reyhan mati tanpa kata. Tak perlu diucapkan tidak. Di papan catur, langkah adalah jawaban, dan langkah ini berkata dengan jelas: aku tidak mengambil jalan aman.
Reyhan menatap kuda itu lama. Untuk satu detik—dua—matanya naik dari papan ke wajah Galih, dan di sana ada sesuatu yang bukan kaget, bukan marah, melainkan pengakuan yang dingin dan cepat: kamu berani. Lalu matanya turun lagi, dan ia mulai bekerja.
Jam Galih menunjukkan empat puluh tiga detik. Hukum partai ini sudah ditetapkan sejak awal: setelah langkah keempat puluh, waktu tambahan akan datang. Ia tinggal perlu selamat sampai ke sana tanpa membuang apa yang sudah ia bangun. Empat puluh tiga detik untuk memastikan garis yang ia mulai tidak putus di tengah jalan.
Garis itu mulai menggelinding.
Reyhan tidak menerima kuda itu segera. Ini yang membuat Galih diam-diam kagum: pemuda akademi itu tidak bereaksi, ia berpikir. Ia menempatkan rajanya satu kotak lebih dalam, langkah bertahan yang tidak spektakuler, yang tidak ada di hitungan awal Galih—atau, lebih tepatnya, yang ada di hitungan awal Galih tapi sebagai cabang ketiga, cabang yang paling tidak ia harapkan. Karena cabang inilah yang paling menyebalkan: tidak memakan pengorbanan, tidak menolak, hanya memundurkan hari pembayarannya.
Empat puluh detik. Tiga puluh lima.
Seisi gedung olahraga sudah berdiri di belakang barisan kursi. Tidak ada lagi yang duduk. Di papan demonstrasi besar, seorang petugas memindahkan bidak-bidak raksasa dengan tiang kayu, dan setiap kali bidak itu berpindah, ratusan orang menahan napas bersama-sama seperti satu paru-paru yang sama. Pelatih-pelatih di kursi depan tidak lagi duduk rapi; ada yang berdiri, ada yang memegang kepala. Wasit memandang berkeliling, mengangkat telunjuk ke bibir, tapi tidak ada suara apa pun yang perlu diredam—justru keheningan itu sendiri yang terlalu keras, keheningan yang berdegup.
Galih menghitung. Ia sudah tidak mendengar apa-apa lagi. Di depannya bukan gedung, bukan penonton, bukan masa depan keluarganya—hanya enam puluh empat kotak yang menyala di dalam kepalanya, dan sebuah garis yang bergerak seperti arus deras di kali musim hujan: kuda ini dibayar dengan serangan, serangan dibayar dengan ruang, ruang dibayar dengan... Ia memainkan langkah berikutnya. Menekan jam. Tiga puluh detik.
Reyhan menjawab lagi. Pelan, benar, menyebalkan. Disiplin akademi itu nyata, dan Galih menghargainya bahkan di tengah pertarungan—Reyhan tidak main cantik, tidak main demi tontonan, ia main satu-satunya cara yang benar: menutup setiap pintu satu per satu, memaksa Galih membuktikan garisnya sampai ke huruf terakhir. Kalau ada satu saja pintu yang luput Galih kunci, Reyhan akan menemukannya, dan seluruh pengorbanan ini akan jadi dongeng bodoh tentang anak kampung yang menolak remis lalu kalah.
Dua puluh detik.
Dan justru di sini, di detik-detik di mana biasanya ia panik, sesuatu yang aneh terjadi pada Galih. Ia tenang. Bukan tenang yang dibuat-buat—tenang yang datang karena garis ini, seluruhnya, sudah ia hitung lebih dulu di kepalanya sebelum tangannya turun, di lima puluh detik pertama tadi. Sekarang ia bukan sedang menghitung. Ia sedang berjalan di lorong yang sudah ia bangun sendiri. Yang harus ia lakukan hanya tidak tersandung.
Cek. Reyhan menggeser raja. Cek lagi. Raja itu mundur satu kotak lagi, terdesak, terhina, ke pinggir papan—raja yang dari tadi menjadi saksi bisu seluruh pertunjukan kini menjadi aktornya, diseret keluar dari istananya oleh garis yang tak tampak di awal partai.
Lima belas detik.
Reyhan menekan jamnya dengan dua menit lebih sedikit di sisinya—jamnya pun berdarah sekarang, turun deras, karena setiap jawaban yang benar harus dibayar dengan menit, dan disiplin akademi tidak menjual waktu dengan harga murah. Kini dua jam itu berdetak seperti dua jantung yang sama-sama sekarat. Penonton sudah tidak berani berbisik. Di suatu tempat di barisan tengah, Pak Sastro berdiri memeluk kursi lipatnya sendiri, dan kalau Galih sempat menoleh ia akan melihat lelaki tua itu tidak bernapas sama sekali—tapi Galih tidak menoleh. Ia tidak bisa.
Sepuluh detik.
Ia memainkan langkah yang menjadi kunci seluruh garis: bukan cek, bukan makan, melainkan sebuah langkah pendiam—benteng yang bergeser satu petak ke samping, tak mengancam apa pun yang tampak, hanya menunggu. Langkah yang di papan demonstrasi membuat separuh penonton kebingungan dan separuh lainnya—yang mengerti—mengeluarkan bunyi kecil dari tenggorokan, bunyi orang yang melihat jebakan menutup.
Karena kini, apa pun yang Reyhan mainkan, rentetan berikutnya tidak bisa dihentikan.
Jam Galih menunjukkan tujuh detik saat Reyhan mulai berpikir untuk jawaban terakhir itu—berpikir dengan wajah yang untuk pertama kalinya sepanjang partai kehilangan ketenangan akademinya, jamnya sendiri merangkak turun di bawah satu menit, dan garis tajam yang tak ada di catatan siapa pun itu akhirnya sampai di ujung lorong, di tempat di mana hanya ada satu pertanyaan tersisa di seluruh gedung itu:
Apakah masih ada pintu yang belum dikunci?