Pagi babak penentu, Galih meletakkan kartu nama sponsor itu di tempat sampah penginapan tanpa meneleponnya kembali. Itu jawabannya. Ia tidak akan bermain demi tontonan, tidak akan menjual babak ini, tidak akan mengulang nasib Pak Sastro dengan cara yang lebih pengecut—menyerah sebelum papan bahkan ditata. Ia akan main untuk menang. Jujur. Apa pun harganya di luar papan, di dalam papan ia akan jadi dirinya yang sebenarnya.
Lawannya Reyhan Aksoro, seperti yang diduga. Mereka bertemu di papan satu, papan demonstrasi, di babak yang menentukan dua kuota beasiswa untuk wilayah mereka. Yang menang nyaris pasti masuk. Yang kalah harus berharap pada perhitungan rumit yang—Galih kini tahu—bisa diatur oleh tangan-tangan di luar gedung.
Reyhan datang berbeda dari di wilayah dulu. Ada catatan di matanya, persiapan berbulan-bulan, mesin yang sudah membedah setiap gajah aneh dan kuda pinggir Galih. Saat mereka berjabat tangan, tangan Reyhan masih kering, tapi kali ini Galih merasakan sesuatu yang baru—Reyhan juga gugup, di balik dinginnya. Karena Reyhan tahu, kalau Galih membawanya ke belantara lagi, semua persiapan mesinnya bisa jadi sia-sia.
Galih tidak membawa Reyhan ke belantara lama yang sudah dipetakan. Ia membawa ke belantara baru—garis yang ia dan Pak Sastro gali bersama berhari-hari di penginapan, bukan jebakan murah, tapi sebuah pembukaan tajam dan sah yang ia hitung sendiri sampai dalam, sampai ke tempat yang ia yakini bahkan mesin Reyhan tak pernah didorong masuk karena tampaknya terlalu liar untuk dianalisis serius. Kebenaran yang ia temukan di gelap. Bukan kekacauan, bukan judi. Garis tajam yang juga benar.
Reyhan menjawab langkah-langkah awal dari hafalan, lalu, di langkah kesepuluh, ia harus berhenti. Persiapannya habis. Untuk pertama kali ia harus menghitung dari nol, di posisi yang tak ada di mesinnya. Jamnya mulai bergerak lebih lama. Tapi Reyhan sudah belajar dari wilayah dulu—ia tak panik, ia bertahan, ia menghitung dengan disiplin akademi yang Galih tak punya. Dua pemain berjalan di gelap, dan kali ini keduanya membawa cahaya.
Partai itu jadi yang terindah dan paling melelahkan dalam hidup Galih. Tak ada saraf murah yang dipatahkan. Setiap langkah harus diperjuangkan dengan hitungan jujur. Galih merasakan buah dari berbulan latihan akhir permainan Pak Sastro—ia tak lagi tersesat di posisi tajam, ia tahu jalannya. Perlahan, langkah demi langkah, ia menumpuk keunggulan. Bukan jebakan yang bisa dipatahkan, tapi tekanan sah yang makin dalam. Di langkah ketiga puluh lima, papan demonstrasi menunjukkan posisi yang membuat pelatih-pelatih di kursi belakang mencondongkan badan: Galih unggul. Nyata. Menang, bila dimainkan benar.
Reyhan tahu ini. Jamnya menua, posisinya memburuk, dan di matanya yang dingin akhirnya muncul sesuatu yang Galih kenali—pengakuan. Lalu, di langkah ketiga puluh sembilan, dengan jamnya tinggal di bawah lima menit dan Galih di bawah dua menit, Reyhan melakukan sesuatu yang tak terduga. Ia menawarkan remis.
Wasit mencatat. Tawaran remis di langkah ketiga puluh sembilan, menjelang kontrol waktu di langkah keempat puluh.
Galih membeku. Karena ia tahu persis apa arti remis ini. Remis menjamin keduanya membagi angka. Dan dengan pembagian angka itu—ia sudah menghitung tabel klasemen semalam—keduanya kemungkinan besar masuk kuota beasiswa. Remis ini aman. Remis ini menyelamatkan keluarganya tanpa risiko apa pun. Genteng yang bocor, obat ayahnya, jembatan keluar—semuanya terjamin dengan satu kata: ya.
Tapi posisinya menang. Bila ia main terus, bila ia menolak remis, ia harus memasuki sebuah garis tajam di langkah keempat puluh yang ia lihat menjanjikan kemenangan—tapi garis yang begitu rumit, begitu di ujung perhitungan, sampai bahkan Pak Sastro, semalam, saat mereka mencoba menggalinya, berhenti dan berkata jujur: "Sampai sini saya tidak tahu, Nak. Ini di luar jangkauan saya. Kamu harus menghitungnya sendiri di papan."
Satu garis yang tak ada di catatan siapa pun. Tak ada di mesin, tak ada di Pak Sastro, tak ada di mana-mana kecuali di kepalanya sendiri, dalam waktu kurang dari dua menit.
Galih menatap papan. Ia melihat garis itu. Ia mulai menghitungnya—pengorbanan bidak di langkah keempat puluh, lalu rentetan paksaan, lalu sebuah posisi akhir yang, bila perhitungannya benar, menang telak; bila salah satu langkah meleset, kalah total. Garis yang menjadi pembuktian segala yang Pak Sastro tanamkan: bukan kekacauan murah, bukan kebenaran beli, tapi kebenaran yang ia gali sendiri di tempat tak terjangkau siapa pun.
Jam berdetak. Satu menit lima puluh detik. Satu menit empat puluh.
Di kursi penonton, ia tahu Pak Sastro sedang menahan napas, lelaki yang dua puluh tahun lalu memilih menang jujur dan kehilangan segalanya. Di suatu tempat di luar gedung, sponsor berkemeja rapi mungkin sedang menunggu kabar bahwa anak kabupaten itu akhirnya tahu diri dan mengambil yang aman. Di rumah, ibunya sedang membagi entah apa lagi menjadi potongan-potongan kecil, batuk ayahnya menembus dinding triplek.
Remis menyelamatkan mereka semua. Pasti. Aman.
Garis tajam itu mempertaruhkan segalanya pada perhitungan yang tak seorang pun di dunia ini bisa konfirmasi untuknya—pada keberanian untuk percaya bahwa di gelap, sendirian, ia menemukan kebenaran yang nyata.
Reyhan menatapnya, tangannya masih dekat jam, menunggu jawaban atas tawaran remis. Wasit menunggu. Penonton menunggu. Jam menunjukkan satu menit dua puluh detik.
Galih mengulurkan tangannya ke arah papan. Bukan ke arah Reyhan untuk menjabat dan menyetujui remis. Ke arah bidak. Jari-jarinya, yang berkapal dari menjaga warnet, dari menyusun tutup botol di papan retak, dari ratusan malam menghitung di gelap tanpa mesin yang membisiki jawaban, menggantung di atas bidak yang akan ia korbankan—langkah pertama dari garis yang tak ada di catatan siapa pun.
Jamnya turun. Satu menit sepuluh. Satu menit. Lima puluh detik.
Dan tangan Galih menggantung di sana, di udara dingin gedung olahraga, di antara keamanan yang menyelamatkan keluarganya dan kebenaran papan yang selama ini ia ejek dan takuti—sementara di bawah jarinya, papan enam puluh empat kotak itu menunggu, sejujur yang selalu dijanjikannya, untuk satu langkah yang akan menentukan siapa dirinya.