Rumor itu datang seperti bau, bukan suara—sesuatu yang tercium sebelum bisa dijelaskan. Galih menangkapnya pertama kali di lorong gedung olahraga, dua peserta senior berbicara setengah berbisik dekat mesin minuman, dan begitu Galih lewat mereka berhenti dengan cara yang terlalu mendadak untuk dianggap kebetulan. Lalu di ruang makan penginapan, potongan kalimat: "...kuota tahun ini sudah ada yang ngatur...", "...babak penentu cuma formalitas...", "...yang penting siapa yang dikehendaki di atas..."
Galih sudah masuk babak utama. Permainannya menanjak—ia mulai memadukan apa yang Pak Sastro tanamkan, membawa lawan ke belantara lalu menghabisi dengan teknik yang makin bersih. Tapi semakin dekat ke babak penentu yang menentukan kuota beasiswa, semakin pekat bau itu. Dan suatu sore, bau itu mengambil wujud manusia.
Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai perwakilan sebuah perusahaan yang ingin "mendukung catur Indonesia". Pakaiannya rapi, jam tangannya mahal, senyumnya hangat persis seperti yang Pak Sastro gambarkan dua puluh tahun lalu. Ia mengajak Galih ke kafe hotel sebelah, memesankan makanan yang harganya membuat Galih diam-diam menghitung berapa hari beras itu setara, dan berbicara dengan nada seorang teman lama.
"Kami mengikuti permainanmu, Galih. Cerita kamu luar biasa. Anak kabupaten, otodidak, papan rusak—ini cerita yang orang suka. Ini cerita yang menjual." Ia mengaduk kopinya. "Kami ingin mendukungmu. Sponsor. Tunjangan, peralatan, mungkin lebih dari beasiswa federasi yang kamu kejar itu."
Galih menunggu. Ia tahu ada sambungan kalimat yang belum datang. Selalu ada.
"Tapi catur itu, jujur saja, membosankan untuk ditonton. Diam berjam-jam, dua orang melototin papan. Yang menjual bukan caturnya. Yang menjual adalah dramanya. Pertarungannya." Lelaki itu mencondongkan badan. "Kami ingin kamu bermain demi tontonan, Galih. Main yang berani, yang spektakuler, yang bikin orang berdiri. Kalau menang bagus, kalau kalah pun—asal kalahnya indah, asal ada cerita—itu juga menjual. Kami tidak peduli kamu menang atau tidak di babak penentu. Kami peduli kamu memberi pertunjukan."
Di situ Galih mengerti. Bukan tawaran main bagus. Tawaran melepas keseriusan kemenangan demi tontonan—dan, ia mulai menduga, mungkin lebih dari itu. Karena di babak penentu, lawan tontonan yang "indah" dengan kalah yang "indah" tidak jauh bedanya. Yang penting hasilnya bisa dibingkai, dan hasil yang bisa dibingkai adalah hasil yang bisa diatur.
"Kalau saya menang sungguhan di babak penentu?" Galih bertanya pelan. "Yang serius, bukan demi tontonan?"
Senyum lelaki itu tidak goyah, tapi ada yang mengeras di belakangnya. "Tentu boleh. Tapi babak penentu itu rumit, Galih. Lawanmu mungkin Reyhan, dan dia disiapkan habis-habisan. Kuota beasiswa cuma sedikit. Kalau kamu main aman, main demi tontonan tanpa ngotot menang, ada cara untuk memastikan kamu tetap dapat tempat—jalur sponsor kami, kerja sama dengan beberapa pihak. Mulus. Keluargamu tidak perlu menunggu hasil yang tidak pasti. Tapi kalau kamu ngotot menang dengan cara kerasmu sendiri, melawan arus..." Ia mengangkat bahu, hangat, mengancam tanpa terdengar mengancam. "...catur itu kejam pada anak yang tidak punya pelindung. Banyak yang menang di papan tapi tetap pulang dengan tangan kosong. Kamu pasti dengar cerita-cerita seperti itu."
Galih mendengar cerita seperti itu. Ia mendengarnya tiga malam lalu, di lapangan parkir berlampu kuning, dari mulut Pak Sastro. Dan kini ceritanya datang kembali, dua puluh tahun kemudian, dalam tubuh lelaki berkemeja rapi yang menawarinya makan siang. Jalan mulus. Persis kata yang sama.
"Saya pikir-pikir dulu, Pak," kata Galih, suaranya datar agar tak ketahuan gemetar.
"Pikirkan keluargamu juga," kata lelaki itu sambil bangkit, meletakkan kartu nama di meja. "Genteng bocor, ya? Obat batuk yang harus rutin? Kami tahu, Galih. Kami selalu tahu apa yang dibutuhkan orang. Itu pekerjaan kami."
Ia pergi, dan kalimat terakhir itu menggantung di udara seperti racun. Mereka tahu soal genteng. Mereka tahu soal obat ayahnya. Mereka sudah menyiapkan dirinya bahkan sebelum bertemu, seperti pelatih-pelatih di ruang analisis menyiapkan lawan dengan mesin—hanya saja yang mereka bedah bukan partainya, melainkan kemiskinannya.
Galih kembali ke penginapan dengan kepala penuh. Ia tidak makan malam. Ia menceritakan semuanya pada Pak Sastro, dan lelaki tua itu mendengarkan dengan wajah yang makin lama makin keras, seperti melihat hantunya sendiri berjalan kembali dari masa lalu.
"Ini ujian yang saya bilang," kata Pak Sastro akhirnya, suaranya berat. "Persis seperti milik saya. Bedanya, kamu tahu sebelumnya. Saya tidak. Saya pikir kalau saya menang jujur semua akan beres. Kamu sudah tahu kemenangan jujur bisa dicuri." Ia menatap Galih. "Jadi sekarang pertanyaannya bukan apakah kamu bisa menang di papan. Pertanyaannya: kalau kamu menang jujur dan tetap mungkin kehilangan semuanya, apakah kamu masih mau menang jujur?"
Galih tidak menjawab malam itu. Ia memikirkan ibunya membagi amplop cokelat seperti membagi nasi. Ia memikirkan batuk yang makin keras. Ia memikirkan dua puluh tahun yang hilang dari hidup Pak Sastro karena lelaki itu memilih papan daripada jalan mulus. Dan ia memikirkan, untuk pertama kali dengan jelas, bahwa esok lusa, di babak penentu melawan Reyhan, ia harus memilih bukan hanya langkah di papan, tapi siapa dirinya.