Di hari keempatnya di kampung, Fauzan berjalan ke ujung gang dekat pantai, ke sebuah bangunan kecil yang dulu menjadi tempat ia pertama kali belajar mengaji — langgar tua dengan dinding papan yang sebagian sudah lapuk, atap seng yang berkarat, dan halaman pasir yang ditumbuhi rumput liar. Langgar tempat ia, dulu, sebagai anak kecil yang tergagap, belajar mengeja huruf hijaiah dari Pak Modin yang kini sudah terlalu tua untuk mengajar.
Langgar itu tutup. Sudah hampir dua tahun, kata Maryam. Setelah Pak Modin sakit-sakitan, tak ada yang melanjutkan, dan anak-anak pesisir kini belajar mengaji entah di mana, sebagian tidak belajar sama sekali. Pintunya terkunci gembok berkarat, jendelanya berdebu, dan di dalam, tikar-tikar tergulung di sudut, dimakan rayap.
Fauzan berdiri di depannya lama. Ia teringat dirinya yang kecil, duduk di tikar itu, mengeja alif-ba-ta dengan suara pelan karena malu, ditertawakan anak-anak lain yang lebih cepat. Ia teringat betapa ia membenci huruf-huruf abstrak yang tak punya bentuk yang bisa ia pegang, betapa ia merasa bodoh, betapa ia lebih suka memperhatikan Bapak menyol sepatu daripada duduk di langgar ini. Anak yang dulu duduk di sini tak pernah membayangkan akan kembali sebagai santri yang telah menuntaskan juz tiga puluh.
Sesuatu menggerakkannya. Ia menemui Pak Modin di rumahnya, mencium tangan gurunya yang renta, dan meminta izin membuka kembali langgar itu selama ia di kampung — dan, kalau bisa diatur, mencari orang untuk meneruskannya setelah ia kembali ke pondok. Pak Modin, dengan mata yang berkaca-kaca dan tangan yang gemetar, menyerahkan kunci gembok berkarat itu pada Fauzan, dan berkata dengan suara serak, "Tak kira langgar ini bakal mati ditinggal aku, Le. Ndilalah malah anak yang dulu paling angel ngaji yang balik buka."
Fauzan dan Maryam membersihkan langgar itu seharian — menyapu debu, menjemur tikar, mengganti papan yang paling lapuk dengan kayu bekas. Berita menyebar dari mulut ke mulut di kampung kecil itu: anak Pak Sahal yang mondok pulang, mau ngajar ngaji di langgar lama. Sore itu, ketika Fauzan duduk di langgar yang sudah bersih dengan sebuah mushaf di pangkuannya, anak-anak datang. Mula-mula tiga, lalu lima, lalu belasan — anak-anak pesisir berkulit gelap terbakar matahari, sebagian masih basah habis main air laut, sebagian membawa adiknya yang masih kecil, semua memandang Fauzan dengan campuran malu dan ingin tahu.
Di antara mereka, Fauzan memperhatikan seorang anak laki-laki yang duduk paling belakang, paling diam, yang ketika gilirannya membaca alif-ba-ta, tergagap, salah, dan menunduk merah ketika anak-anak lain terkikik. Anak itu hampir menangis, hampir bangkit pergi.
Fauzan mengenalnya. Bukan namanya — ia tak kenal namanya. Tapi ia mengenal anak itu seperti mengenal dirinya sendiri. Anak yang merasa bodoh menghadapi huruf yang tak punya bentuk yang bisa dipegang. Anak yang ditertawakan diam-diam. Anak yang ingin lari.
Ia tidak membentak yang menertawakan. Ia hanya mendekat pada anak itu, duduk di sampingnya, dan berkata pelan agar hanya ia yang dengar, "Dulu, Kang Fauzan juga begini. Tergagap. Diketawain. Kang Fauzan dulu lebih jago baca ukuran sepatu daripada baca huruf ini." Ia tersenyum. "Tapi ada cara, Le. Bukan cuma dieja, dihafal mati. Tapi dikaitin sama yang kamu kenal. Sini, Kang ajarin."
Lalu Fauzan mengeluarkan apa yang dulu menyelamatkannya — metode tangan dari Kang Soleh, cara menulis, cara mengaitkan huruf dan ayat pada hal-hal nyata yang bisa dipegang dan dilihat. Ia menggambar huruf di pasir halaman dengan ranting, mengajak anak itu menelusuri bentuknya dengan jari, mengaitkan bunyinya pada benda-benda di sekeliling. Anak itu, yang tadi hampir lari, mulai mengangkat wajahnya. Matanya yang tadi penuh malu mulai menyala oleh sesuatu yang Fauzan kenal betul: harapan kecil bahwa mungkin, mungkin, hal yang terasa mustahil ini sebenarnya mungkin.
Matahari turun ke laut, mewarnai langit jingga, dan suara anak-anak mengeja huruf mengalun dari langgar tua yang kembali hidup, naik turun seperti tadarus di pondok yang jauh di kaki gunung. Fauzan duduk di tengah mereka, anak yang dulu tergagap, kini menjadi guru — bukan karena dipaksa, bukan karena nazar, bukan karena membayar budi siapa pun, melainkan karena ia memilihnya, dengan sukarela, dari hati yang penuh.
Lingkaran itu menutup di tempat ia mulai. Ilmu yang dulu dipaksakan padanya, yang dulu terasa seperti rantai, kini ia bagikan dengan tangannya sendiri pada anak-anak yang persis seperti dirinya dulu. Dan di sela mengajar, Fauzan teringat kata-kata Kiai yang baru ia pahami sepenuhnya setelah beliau tiada: menghafal bukan menaklukkan angka, tapi menemani hati. Sore itu, di langgar tua di pesisir, ia tidak menaklukkan apa pun. Ia hanya duduk, menemani seorang anak yang ketakutan, persis seperti dulu ia ditemani — oleh Komar di malam pertama, oleh Kang Soleh dengan metodenya, oleh Kiai yang mengangkat bebannya, oleh ayahnya yang akhirnya berdamai. Banyak tangan yang dulu menahannya agar tidak jatuh, dan kini, di langgar yang menghadap laut, ia mulai menahan yang lain.