Liburan akhir tahun ajaran memberi Fauzan beberapa hari untuk pulang ke kampung, dan kali ini ia pulang dengan cara yang sama sekali berbeda dari setahun lalu. Setahun lalu, ketika ia pulang tiga hari karena Ibu di rumah sakit, ia datang dengan dada penuh kalut, tangan kosong, dan rumah yang nyaris hancur menyambutnya. Kali ini ia turun dari bus di pertigaan kampung dengan tas berisi oleh-oleh sederhana — beberapa potong kain untuk Ibu dan Maryam, kopiah baru untuk Bapak, dan amplop berisi uang dari unit sepatu yang ia kirim teratur tapi kali ini ingin ia serahkan sendiri.
Jalan kampung tetap berdebu, laut tetap berbau asin di kejauhan, dan udara tetap panas dan lembap seperti yang ia kenal sejak kecil. Tapi Fauzan yang berjalan menyusuri jalan ini bukan lagi anak yang dulu pergi dari sini dengan satu tas dan sepasang sandal jepit, memendam dendam halus pada ayah yang ia kira menjual masa depannya.
Ibu menyambutnya di depan rumah, berdiri tegak — kurus, tentu, dan masih harus hati-hati, tapi berdiri sendiri, tanpa dipapah. Fauzan berhenti sejenak di pintu pekarangan, memandang ibunya yang berdiri di sana dengan tangan terentang, dan untuk sesaat ia teringat ibunya yang terbaring kurus di ranjang rumah sakit, ringkih dan pucat, dan ia merasa lututnya lemas. Lalu ia berlari kecil, dan memeluk ibunya, hati-hati, takut meremukkannya.
"Bu," katanya, suaranya tertahan.
"Wis gedhe kowe, Le," kata Ibu, mengelus punggungnya, tertawa kecil di sela air mata. "Tambah tinggi. Tambah kurus juga. Di sana nggak dikasih makan?"
"Dikasih, Bu. Banyak malah."
"Bohong. Sini, Ibu masakin. Ada botok, ada ikan asin, ada sambel terasi kesukaanmu."
Di dalam rumah yang masih reyot tapi kini lebih hidup, mereka berkumpul. Maryam datang membawa anaknya yang masih kecil. Dan Bapak — Pak Sahal — duduk di dipan, lebih tua, lebih putih rambutnya, tangannya yang dulu kekar kini mulai bergaris-garis dan agak gemetar, tapi matanya, ketika memandang Fauzan, penuh dengan sesuatu yang dulu tak pernah berani ia tunjukkan: bangga.
Mereka makan bersama di lantai beralas tikar, berdesakan, dan untuk pertama kali sejak sangat lama, rumah itu dipenuhi suara — suara anak Maryam yang rewel, suara Ibu yang menyuruh semua orang nambah, suara Maryam yang menggoda Fauzan soal kapan ia akan jadi ustaz, suara Bapak yang sesekali tertawa pelan. Suara hidup. Suara keluarga yang nyaris hancur oleh kemiskinan dan sakit, kini berdiri lagi, ditahan oleh banyak tangan — termasuk dua tangan kecil milik anak bungsu yang dulu diantar ke gerbang.
Malamnya, setelah yang lain tidur, Fauzan dan Bapak duduk berdua di emperan rumah, memandang gelap, mendengar deburan laut yang samar di kejauhan. Bapak menyalakan rokok kreteknya, asapnya naik tipis ke udara malam.
"Le," kata Bapak setelah lama diam. "Bapak minta maaf."
"Udah, Pak. Udah nggak usah diomongin lagi."
"Bapak tetap mau ngomong." Bapak menatap ujung rokoknya yang membara. "Dulu Bapak antar kamu ke gerbang itu, Bapak kira Bapak ngasih kamu sesuatu yang bagus. Sesuatu yang Bapak nggak pernah punya. Hafalan, ilmu, masa depan yang nggak kayak Bapak — yang cuma bisa nyol sepatu sampai tua di emperan pasar." Ia menghela napas. "Tapi Bapak nggak nanya kamu mau apa nggak. Bapak nggak nanya itu beban apa nggak. Bapak cuma mikir budi Kiai, mikir nazar, mikir muka Bapak. Bapak egois, Le."
Fauzan diam, membiarkan ayahnya bicara, sesuatu yang dulu tak pernah terjadi di antara mereka.
"Tapi yang bikin Bapak paling lega," lanjut Pak Sahal, suaranya bergetar, "kamu balik dari sana bukan jadi orang lain. Bapak takut, dulu. Takut kamu jadi sombong, jadi ngerasa lebih tinggi dari Bapak yang cuma tukang sol. Takut kamu malu sama Bapak. Tapi kamu balik... kamu balik masih jadi Fauzan. Masih mau makan sama tangan, masih mau nyol sepatu, masih manggil Bapak Bapak. Malah kamu yang nyelametin Ibu pakai tangan yang Bapak warisin." Ia mengusap matanya cepat. "Itu yang bikin Bapak bisa tidur tenang sekarang, Le."
Fauzan teringat pesan Ibu di tepi ranjang dulu — yang Ibu inginkan bukan ia jadi hebat, tapi ia jadi orang yang tidak kehilangan dirinya. Dan duduk di emperan ini, di samping ayah yang akhirnya berdamai dengannya, Fauzan menyadari bahwa itulah yang ia bawa pulang. Bukan tiga puluh juz. Bukan kehebatan. Melainkan dirinya, utuh — anak tukang sol yang menjadi santri tanpa berhenti menjadi anak tukang sol, yang pergi dengan dendam dan pulang dengan damai.
"Pak," kata Fauzan pelan. "Makasih udah ngantar Fauzan ke gerbang itu."
Bapak menoleh, terkejut.
"Dulu Fauzan benci. Sekarang Fauzan ngerti. Pak ngasih Fauzan satu-satunya yang Pak punya. Dan ternyata itu yang paling berharga." Fauzan tersenyum di gelap. "Fauzan balik dengan utuh, Pak. Itu cukup, kan?"
Pak Sahal tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya meletakkan tangannya yang bergaris-garis itu di atas tangan anaknya, menggenggamnya, dan keduanya duduk diam di emperan, dua lelaki dari satu darah, mendengar laut, di bawah langit yang sama yang dulu memisahkan dan kini menyatukan mereka.