Waktu di pondok tidak mengalir seperti sungai. Ia menumpuk seperti tikar yang digulung tiap pagi dan dibuka tiap malam, sama bentuknya, sama baunya, namun di sela lipatan-lipatan itu seorang anak diam-diam berubah menjadi seseorang yang lain.
Musim demi musim lewat. Gunung di belakang asrama itu menghijau di penghujan, mengabu di kemarau, dan menghijau lagi, dan Fauzan menghitung tahun bukan dari kalender melainkan dari berapa kali ia mengganti tikar shalat yang sobek dan berapa kali sandal jepitnya putus lalu ia sambung sendiri dengan kawat. Ia tidak lagi anak lima belas tahun yang tergagap membaca An-Naas. Bahunya melebar, suaranya turun, dan di dagunya tumbuh rambut-rambut halus yang ia cukur tiap Jumat di depan cermin pecah di kamar mandi belakang.
Hafalannya berjalan. Bukan melesat seperti yang dijanjikan nazar, bukan tiga puluh juz dalam dua tahun yang dulu menggantung di lehernya seperti batu. Tapi berjalan, juz demi juz, dengan ritme yang ia jaga seperti orang menyetir becak di jalan berlubang: pelan, sabar, tak pernah berhenti betul-betul. Ia menamatkan juz dua, lalu tiga, lalu menyeberang ke juz-juz tengah yang panjang dan rapat ayatnya. Tiap pagi setelah subuh ia menyetor ke Ustaz Romli yang rambutnya kini lebih banyak putih, dan tiap kali ia tersendat, ia tidak lagi panik. Ia menarik napas, menutup mata, dan membayangkan ayat itu tertulis di kertas dengan tangannya sendiri—metode lama Kang Soleh yang sudah menjadi bagian dari caranya bernapas.
"Kamu ini aneh, Le," kata Ustaz Romli suatu pagi, sambil menutup mushaf setelah Fauzan menyetor setengah halaman tanpa salah. "Dulu kamu yang paling angel. Sekarang kamu yang paling tlaten. Yang cepat-cepat dulu malah banyak yang berguguran."
Fauzan tidak menjawab. Ia hanya mencium tangan ustaznya dan pamit, karena setelah subuh ia harus ke koperasi.
Unit sepatu itu sudah bukan satu meja lagi. Sekarang ada empat meja, dan di sudut tergantung papan kayu bertuliskan jam buka yang ditulis Komar dengan kapur. Order dari pabrik sandal di kecamatan datang tetap tiap pekan, dan Fauzan tidak lagi sekadar tukang sol; ia yang mengatur siapa mengerjakan apa, ia yang mencatat di buku tebal bersampul plastik berapa pasang masuk dan berapa upah keluar, ia yang menawar harga lem dan benang ke Pak Kasdi di pasar. Tangannya yang dulu dianggap hanya pandai membaca ukuran sepatu kini memegang dua dunia sekaligus, dan keduanya tidak lagi saling mencakar. Pagi ayat, siang lem, sore ayat lagi. Ia sudah belajar menaruh keduanya berdampingan tanpa salah satu mati.
Namanya mulai disebut santri-santri baru dengan tambahan "Kang". Kang Fauzan. Mula-mula ia kaget tiap kali dipanggil begitu, menoleh seakan yang dimaksud orang lain. Tapi lama-lama ia menerima, sebagaimana dulu ia menerima banyak hal yang awalnya terasa bukan miliknya. Anak-anak baru datang padanya bukan untuk bertanya ayat—untuk itu ada ustaz—melainkan untuk hal-hal kecil yang justru lebih berat: bagaimana menahan rindu rumah, bagaimana tidur saat asrama panas, bagaimana tidak menangis saat surat dari kampung membawa kabar buruk. Fauzan tahu semua itu dari dalam, dari tulang, jadi ia tak perlu berpura-pura. Ia hanya duduk, mendengar, dan kadang berkata, "Wis, ndak apa-apa nangis. Tapi sehabis nangis, setor lagi."
Di malam-malam tertentu, saat asrama sudah sepi dan hanya terdengar dengkur dan deru angin gunung, Fauzan kadang keluar ke teras yang sama tempat ia dulu menangis di malam pertama. Ia duduk di situ, memeluk lutut seperti dulu, tapi kali ini bukan karena ingin pulang. Ia hanya ingin mengingat. Mengingat anak yang dulu duduk di situ, yang membenci huruf-huruf abstrak dan ayahnya yang menjualnya, yang yakin tempat ini penjara. Anak itu masih ada di dalam dirinya, kata Fauzan dalam hati, dan ia berutang banyak pada keberaniannya yang dulu tak ia sadari—keberanian untuk tidak kabur, untuk bangun tiap subuh meski hati hancur.
Ia teringat kalimat Ibu di tepi ranjang rumah sakit dulu, yang menjadi kompasnya: yang Ibu mau bukan kamu jadi hebat, Le, tapi kamu jadi orang yang ndak kehilangan dirimu. Bertahun kemudian, di teras yang dingin itu, Fauzan menimbang dirinya seperti menimbang sepasang sepatu di telapak tangan, mencari apakah ada bagian yang hilang. Ia mendapati dirinya utuh. Lebih berat dari dulu, lebih banyak goresnya, tapi utuh. Bebannya tidak berkurang—hidup tak pernah menjanjikan itu. Tapi ia sudah belajar menanggungnya tanpa patah, dan itu, ia mulai paham, adalah satu-satunya kemenangan yang nyata.
Di kejauhan, suara seorang santri kecil terdengar mengaji lirih, tersendat di tempat yang sama yang dulu menyiksa Fauzan. Ia tersenyum dalam gelap. Lingkaran itu terus berputar, pikirnya, dan ia hanya satu putaran kecil di dalamnya. Ia bangkit, merapikan sarung, dan masuk untuk tidur, karena besok subuh ada yang harus disetor, dan ada sepatu yang harus disol.