Unit reparasi sepatu yang dulu Fauzan usulkan dengan suara hampir berbisik di hadapan Ustaz Farid — sekadar untuk menyelamatkan koperasi yang goyah dan memberi penghasilan halal pada santri miskin tanpa harus menyelinap keluar — tumbuh dalam setahun terakhir menjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan ketika pertama kali menyodorkan idenya.
Ia mulai dari satu meja kerja di sudut koperasi, satu set alat warisan Bapak, dan beberapa santri yang ia ajari menambal sol. Kini ada tiga meja, rak berisi sepatu yang menunggu diperbaiki dan sepatu bekas yang dikumpulkan dari sumbangan untuk diperbaiki lalu dijual murah, dan papan kecil di depan koperasi bertuliskan terima reparasi sepatu dan sandal yang ditulis tangan Komar dengan huruf besar-besar. Pesanan datang bukan cuma dari santri dan ustaz, tapi dari kampung sekitar, dari pasar kecamatan, bahkan dari pabrik kecil yang butuh sol sepatu kerja diperbaiki dalam jumlah banyak — order tetap yang menjadi tulang punggung unit itu.
Yang membuat Fauzan paling bangga bukan keuntungannya, melainkan apa yang diperbuat keuntungan itu. Setelah dipotong untuk modal dan upah santri yang bekerja, sisanya masuk ke kas beasiswa — dana yang dulu seret, yang sempat mengancam pemulangan santri-santri miskin, kini ditopang sebagian oleh sepatu-sepatu rusak yang diperbaiki tangan anak-anak yang dulu tak punya apa-apa untuk diberikan selain tenaga. Beberapa santri yang dulu hampir dipulangkan karena dana habis kini bertahan karena unit ini. Lingkaran itu menutup dengan cara yang membumi: kemiskinan yang dulu nyaris menghancurkan Fauzan kini, lewat keahlian yang lahir dari kemiskinan itu, menahan anak-anak lain agar tidak jatuh oleh kemiskinan yang sama.
Gus Hakim, yang kini memimpin, datang sendiri suatu sore ke koperasi untuk melihat. Fauzan agak gugup — ia masih belum terbiasa dengan Gus Hakim di kursi yang dulu diduduki ayahnya. Tapi Gus Hakim hanya berkeliling pelan, memperhatikan santri-santri yang bekerja, mengamati pembukuan yang rapi yang ditulis Fauzan dengan tangan yang lebih fasih membaca angka daripada huruf hijaiah dulu.
"Bapak saya pernah cerita tentang kamu," kata Gus Hakim akhirnya, berdiri di samping meja Fauzan. "Anak tukang sol yang ketahuan kerja diam-diam, terus dikasih jalan tengah, terus malah jadi yang benahin koperasi." Ia tersenyum tipis. "Bapak bilang, 'Anak itu ngajarin saya satu hal, Hakim. Bahwa ilmu yang kita anggap rendah belum tentu nggak punya tempat. Kadang justru itu yang nyelametin yang kita anggap tinggi.'"
Fauzan menunduk, dadanya menghangat dan perih sekaligus mendengar kata-kata Kiai dikutip oleh putranya.
"Bapak saya bener," lanjut Gus Hakim, memandang sekeliling, ke santri-santri yang sibuk dengan lem dan paku, ke rak sepatu, ke papan kecil tulisan Komar. "Pondok ini ngajarin ngaji, ngajarin kitab, ngajarin hafalan. Tapi anak-anak ini juga butuh bisa makan, butuh bisa bantu orang tua, butuh keterampilan buat hidup di luar sana. Kamu nyatuin dua hal itu, Fauzan. Yang ayat dan yang nyata. Banyak orang pinter di pondok ini, tapi sedikit yang bisa nyatuin dua dunia itu."
Fauzan teringat betapa lama dua dunia itu menariknya ke arah berlawanan — hafalan di satu sisi, kerja menyol sepatu di sisi lain, masing-masing menuntut dan saling menggerogoti, masing-masing membuatnya bersalah pada yang lain. Ada masa ketika menyol sepatu terasa seperti pengkhianatan pada ayat, dan menghafal terasa seperti pengkhianatan pada Ibu yang sakit. Dua tangan menariknya ke dua arah sampai ia hampir robek di tengah.
Dan kini, di sini, di koperasi ini, kedua dunia itu menyatu. Ia santri yang menghafal di subuh dan menyol sepatu di siang, dan tak satu pun dari keduanya lagi terasa seperti pengkhianatan pada yang lain. Tangan yang membaca jangka ukur sepatu adalah tangan yang sama yang menulis ayat untuk dihafal. Anak yang dulu malu karena lebih fasih huruf ukuran daripada huruf hijaiah kini berdiri sebagai orang yang membuktikan bahwa kedua kefasihan itu, disatukan, menjadi sesuatu yang menghidupi banyak orang.
Ia tidak harus memilih antara menjadi santri dan menjadi tukang. Ia adalah keduanya, utuh, dan keutuhan itulah nilainya.
Setelah Gus Hakim pergi, Komar mendekat sambil membawa sepatu bot yang baru selesai disolnya, bangga. "Lihat, Zan, rapi nggak? Aku yang ngerjain sendiri lho, dari awal sampai akhir."
Fauzan memeriksa jahitannya, menekan solnya untuk memastikan lemnya kuat, lalu mengangguk. "Rapi, Mar. Bagus. Tahun lalu kamu nggak bisa beginian."
"Tahun lalu aku cuma bisa nangis kangen rumah," sahut Komar, nyengir. "Sekarang aku bisa nyol sepatu sama kirim duit ke Bapak. Becak Bapak udah dibetulin pakai duit dari sini, tau."
Fauzan tersenyum, dan untuk sesaat, di antara bau lem dan suara palu kecil yang mengetuk, ia merasakan sesuatu yang dulu tak pernah ia kira akan ia rasakan di tempat ini: bukan sekadar bertahan, bukan sekadar tidak gagal, melainkan tumbuh — dan menumbuhkan. Anak yang dulu menumpang di pondok ini kini berakar di dalamnya, dan dari akar itu, anak-anak lain ikut tumbuh.