Kabar dari kampung makin hari makin baik, dan justru kebaikan itu yang menghadirkan pilihan baru di hadapan Fauzan. Ibu pulih, sudah bisa masak dan beberes ringan asal tak terlalu memaksakan diri. Bapak mendapat order tetap dari pabrik kecil di kecamatan, cukup untuk dapur sehari-hari. Dan unit usaha sepatu di koperasi pondok — yang Fauzan rintis — kini menghasilkan cukup untuk dikirim pulang secara teratur, tanpa ia harus mencuri waktu tidur. Untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang ini, keluarganya tidak dalam keadaan darurat.
Dan itulah yang membuat segalanya jadi rumit dengan cara yang baru.
Surat dari Maryam datang, ditulis hati-hati, dengan kalimat yang berputar-putar sebelum sampai pada intinya. Intinya: Bapak makin tua, ordernya bertambah tapi tangannya makin lambat, dan kalau Fauzan pulang, ia bisa membantu Bapak menyol sepatu, mengambil alih order yang menumpuk, bahkan mengembangkannya. Keluarga butuh tangan. Dan Fauzan punya tangan yang paling cocok — tangan yang mewarisi keahlian Bapak.
"Bukan Mbak nyuruh kamu berhenti," tulis Maryam di bagian akhir. "Mbak cuma kasih tahu pilihannya ada. Kamu udah lulus, udah tuntas juz tiga puluh, udah jauh. Kalau kamu mau pulang sekarang, nggak ada yang bisa bilang kamu gagal. Kamu udah cukup, Zan. Pulang juga nggak apa-apa."
Fauzan membaca surat itu berkali-kali, duduk di sudut koperasi dengan sepatu setengah jadi di pangkuannya. Pulang juga nggak apa-apa.
Dan untuk pertama kali, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa aneh: keputusan ini, kali ini, benar-benar miliknya.
Dulu, segala sesuatu tentang pondok ini dipaksakan padanya. Ia diantar ke gerbang tanpa diberi tahu sampai di perjalanan. Ia menghafal karena nazar yang bukan janjinya. Ia bertahan karena takut budi Bapak tak terbayar, karena takut Ibu kehilangan nafkah, karena takut dipulangkan. Setiap kali ia memilih tinggal, itu bukan benar-benar memilih — itu terjepit, tak punya pilihan lain, didorong oleh keadaan dari belakang. Bahkan ketika ia nyaris kabur menjenguk Ibu, itu pun bukan pilihan bebas, melainkan tarikan dua kewajiban yang bertabrakan.
Tapi sekarang, untuk pertama kali, tak ada yang mendorongnya dari belakang. Keluarga stabil. Nazar dibebaskan, oleh Bapak dan oleh Kiai. Budi sudah lunas oleh kesungguhan, bukan angka. Ibu sehat. Tak ada darurat, tak ada tenggat yang menggantung di lehernya, tak ada hakim yang menunggu menilai. Ia bisa pulang sekarang dengan kepala tegak dan tak seorang pun — tidak Bapak, tidak Maryam, tidak ustaz mana pun, tidak suara di kepalanya sendiri — yang bisa menyebutnya gagal.
Ia bisa pulang. Atau ia bisa tinggal. Dan kali ini, tak ada yang memilih untuknya.
Fauzan menutup surat itu dan duduk lama dalam keheningan koperasi, sepatu setengah jadi di pangkuannya, lem yang mulai mengering di ujung kuasnya. Ia mencoba mendengarkan dirinya sendiri — bukan rasa takut, bukan rasa wajib, bukan suara orang lain. Hanya dirinya. Apa yang ia mau.
Dan jawabannya datang pelan, tapi jelas, dan membuatnya terkejut sendiri: ia ingin tinggal.
Bukan karena terjepit. Bukan karena tak punya pilihan lain. Bukan karena takut. Tapi karena — dan ini yang membuat matanya panas ketika ia menyadarinya — ia telah belajar mencintai sesuatu yang dulu dipaksakan padanya. Ayat-ayat yang dulu terasa seperti rantai kini terasa seperti pegangan. Pondok yang dulu terasa seperti penjara kini terasa seperti rumah. Tadarus subuh yang dulu membuatnya rindu rumah kini adalah bunyi yang menenangkannya. Ia ingin menuntaskan apa yang dimulai — bukan demi nazar, bukan demi siapa pun, tapi karena di suatu titik sepanjang tahun yang berat ini, tanpa ia sadari, menghafal telah berhenti menjadi beban yang ditanggung dan mulai menjadi diri yang ia pilih.
Ia berdiri, meletakkan sepatu setengah jadi itu di rak, dan berjalan ke telepon umum. Ia memutar nomor warung Mbok Inah, menunggu, dan ketika Maryam mengangkat, ia berkata, dengan suara yang tenang dan tak ragu:
"Mbak, aku udah baca suratnya. Makasih ya, udah ngasih aku pilihan." Ia menarik napas. "Tapi aku mau lanjut dulu di sini. Bukan karena aku harus. Bukan karena aku takut. Aku mau lanjut karena... karena ini udah jadi punyaku, Mbak. Buat pertama kali, aku milih sendiri."
Di ujung sana, Maryam diam sebentar. Lalu suaranya datang, hangat, hampir bangga. "Mbak ngerti, Zan. Mbak ngerti." Jeda. "Ibu pasti seneng dengernya. Kamu milih sendiri. Itu yang Ibu mau dari dulu — kamu jadi orang yang milih sendiri, yang nggak kehilangan dirinya."
Fauzan menutup telepon, dan berjalan keluar ke halaman pondok yang disinari matahari sore. Untuk pertama kali sejak gerbang itu, ia tinggal bukan karena ditahan, melainkan karena ia memilih untuk tidak pergi. Dan pilihan itu, ringan dan utuh, terasa lebih bebas daripada kepulangan mana pun.