Empat puluh hari berlalu seperti air yang mengalir di atas batu — tak berhenti, tapi mengubah bentuk segala yang dilewatinya. Pondok yang ditinggal Kiai harus belajar berdiri sendiri, dan di hari-hari awal itu, kesunyiannya terasa di mana-mana. Tikar di tempat Kiai biasa duduk memimpin tetap digelar, tapi kosong. Suara beliau yang dulu menutup pengajian dengan doa panjang yang khas digantikan suara lain yang masih asing di telinga. Santri-santri menjalani jadwal seperti biasa, tapi ada yang berbeda dalam cara mereka menjalaninya, seperti orang yang berjalan di rumah yang baru saja ditinggal penghuninya — hati-hati, pelan, takut menyinggung kekosongan.
Gus Hakim, putra Kiai, mengambil alih kepemimpinan, dibantu para ustaz senior dan Kang Soleh serta santri-santri yang dipercaya. Ia masih muda, masih kaku di kursi yang terlalu besar untuknya, dan Fauzan kadang melihat di matanya beban yang sama yang dulu ia lihat di mata ayahnya — beban warisan yang tak diminta, tanggung jawab yang dijatuhkan oleh keadaan, bukan dipilih. Fauzan mengenal beban itu. Ia tahu rasanya berdiri di tempat yang disiapkan orang lain.
Di malam keempat puluh, setelah tahlilan besar yang dihadiri para alumni, Fauzan tidak bisa tidur. Ia keluar ke teras surau — teras yang sama, selalu teras yang sama, tempat ia menangis di malam pertama, tempat ia menemukan ketenangan di malam terakhir sebelum ujian. Ia duduk di lantai semen yang dingin dan memandang langit yang bertabur bintang seperti dulu.
Kang Soleh menemukannya di sana, datang membawa dua gelas teh, dan duduk di sampingnya tanpa banyak kata — kebiasaan yang ia ajarkan pada Fauzan tanpa sengaja, kebiasaan menemani dalam diam.
"Nggak bisa tidur, Le?"
"Nggak, Kang."
Mereka menyeruput teh. Dari dalam surau, tadarus malam mengalun lagi, telah pulih sejak hari-hari pertama yang sunyi, naik turun seperti yang dulu didengar Kiai bertahun-tahun.
"Aku kepikiran terus," kata Fauzan akhirnya. "Sama apa yang Kiai bilang dulu. Pas aku jenguk beliau di rumah sakit. Beliau bilang menghafal itu bukan nyelesain, bukan naklukin angka. Tapi nemenin hati." Ia memutar gelas tehnya pelan. "Dulu aku nggak ngerti, Kang. Aku pikir itu cuma cara halus beliau bilang aku nggak akan khatam tiga puluh juz, jadi jangan kecewa."
"Sekarang?"
Fauzan diam lama. "Sekarang aku ngerti. Aku ngerti pas beliau wafat." Ia menengadah. "Selama ini aku ngafal kayak orang ngejar — ngejar angka, ngejar tenggat, ngejar biar nggak gagal, ngejar biar budi Bapak lunas. Aku ngafal kayak orang lari dari sesuatu. Padahal yang beliau ajarin, ngafal itu bukan lari. Ngafal itu... duduk. Nemenin diri sendiri pas semuanya berat. Ayat itu yang nemenin aku pas Ibu sakit, pas aku capek nyol sepatu sampai nggak tidur, pas aku takut dipulangin. Bukan aku yang naklukin ayat. Ayat yang nemenin aku." Suaranya mengecil. "Aku baru ngerti pas nggak ada beliau buat ngejelasin lagi."
Kang Soleh mengangguk pelan, matanya pada bintang. "Itu warisan beliau, Le. Bukan gedung itu, bukan pondok ini, bukan nama besar. Warisannya yang barusan kamu omongin tadi — yang masuk ke kepala kamu dan nggak bisa diambil lagi. Itu yang nggak kelihatan. Beliau nggak ninggalin emas. Beliau ninggalin cara mikir, cara nanggung, cara nemenin. Di kamu, di aku, di ribuan anak yang pernah beliau sentuh."
Fauzan menelan ludah. "Aku pengen nerusin, Kang. Bukan buat nazar lagi. Nazar udah dibebasin, sama Bapak, sama Kiai. Tapi aku pengen nerusin justru karena udah dibebasin. Karena sekarang ini milikku. Buat beliau, buat... " ia berhenti, mencari kata, "...buat orang yang udah nolong Bapakku, yang udah nolong aku, yang nggak pernah minta dibales apa-apa."
"Itu," kata Kang Soleh pelan, "yang beliau harapin dari kamu sejak awal. Bukan tiga puluh juz. Itu. Anak yang nerusin karena mau, bukan karena harus."
Mereka duduk lama di teras itu, dua santri di bawah bintang, sementara tadarus malam terus mengalun dari surau, suara yang sama yang telah mengalun di tempat ini jauh sebelum Fauzan datang dan akan terus mengalun jauh setelah ia pergi. Dan Fauzan, memandang langit yang ditatap gurunya bertahun-tahun, berikrar dalam hati — bukan ikrar yang diucapkan keras, bukan nazar yang dipasang dengan angka, melainkan ikrar pelan yang hanya didengar oleh dirinya dan langit: ia akan melanjutkan apa yang dimulai. Bukan demi membayar siapa pun. Demi tidak menyia-nyiakan tangan yang telah menahannya agar tidak jatuh.