Kiai wafat di sepertiga malam, di hari ke sebelas bulan itu, di kamarnya sendiri di ndalem, ditemani putranya, Gus Hakim, dan dua santri senior yang malam itu giliran menjaga. Tak ada jeritan, tak ada keributan. Kang Soleh, yang termasuk yang menjaga, kemudian bercerita pada Fauzan bahwa beliau pergi seperti orang yang sangat lelah akhirnya diizinkan tidur — napasnya yang sudah berhari-hari berat dan tersengal perlahan melambat, melambat, lalu berhenti, dengan wajah yang tenang, hampir seperti tersenyum.
Fauzan mengetahuinya dari suara. Ia terbangun di kamar tujuh oleh sesuatu yang ganjil — bukan suara, justru ketiadaan suara. Tadarus malam yang biasa mengalun dari surau berhenti. Lalu, memecah keheningan itu, dari arah ndalem terdengar suara orang membaca, banyak orang, serentak, dan bunyi tangis yang ditahan. Fauzan tahu sebelum ada yang memberitahunya. Tubuhnya tahu. Ia bangun, duduk di balai-balai, dan di sebelahnya Burhan juga bangun, dan Komar, dan ketiganya saling memandang dalam gelap tanpa berkata apa-apa, karena tak ada yang perlu dikatakan.
Menjelang subuh, kabar itu menyebar ke seluruh kompleks seperti air yang merembes. Kiai telah berpulang. Lonceng surau dipukul. Santri-santri keluar dari asrama dalam diam, mengalir ke arah ndalem, ribuan langkah kaki di atas tanah dingin tanpa satu pun yang berlari, tanpa satu pun yang berteriak, hanya isak yang pecah di sana-sini seperti gerimis.
Fauzan ikut mengalir. Ia tidak menangis, belum, karena ada sesuatu di dadanya yang terlalu besar untuk keluar lewat air mata — semacam kekosongan yang mendadak, seperti ketika kau bersandar pada tembok yang selama ini kau kira kokoh, lalu tembok itu tiba-tiba tak ada, dan kau menyadari betapa banyak berat tubuhmu yang selama ini ditahannya.
Jenazah Kiai dimandikan, dikafani, disalatkan di masjid pondok yang tak sanggup menampung. Orang berdiri sampai ke halaman, sampai ke jalan desa, sampai ke pematang sawah. Mereka datang dari mana-mana — alumni yang kini jadi kiai di pondok lain, pejabat, pedagang, petani, tukang, orang-orang biasa yang pernah ditolong tanpa pernah menyebut-nyebutnya. Fauzan berdiri di barisan santri, memandang keranda sederhana yang ditutup kain hijau, dan untuk pertama kali ia menyadari betapa luas jangkauan satu orang yang hidupnya dihabiskan untuk menahan orang lain agar tidak jatuh.
Ia teringat malam di ndalem setahun lalu, malam ia yakin akan dipulangkan, malam struk yang terbongkar. Ia teringat Kiai mengangkat struk itu dan bertanya, pelan, "Uang ini buat siapa, Nak?" — bukan dengan suara penagih, tapi suara orang tua yang ingin mengerti. Ia teringat tawaran jalan tengah, koperasi, jadwal kerja yang resmi, dan kalimat Kiai: "Saya tahu rasanya menanggung beban yang bukan nazar sendiri." Ia teringat Kiai turun tangan mengizinkannya pulang menjenguk Ibu, bahkan menyelipkan uang dari kantong beliau sendiri. Ia teringat ranjang sakit, batuk yang makin sering, tubuh yang makin ringkih, dan suara Kiai yang berkata bahwa menghafal bukan menaklukkan angka, tapi menemani hati. Ia teringat restu yang membebaskannya dari nazar — "budi ayahmu sudah lunas oleh kesungguhanmu, bukan oleh angka; kamu santri, bukan pembayar utang."
Semua itu, dari seorang yang dulu ia takuti sebagai hakim, sebagai penagih, sebagai sosok yang memegang nasibnya. Yang ternyata sepanjang waktu hanyalah manusia tua yang lelah dan rapuh, yang menanggung beban yayasan yang seret, kesehatan yang merosot, dan ribuan anak yang dititipkan padanya — dan yang tetap, di tengah semua itu, sempat menengok satu anak tukang sol dari pesisir dan memilih untuk mengangkat bebannya, bukan menambahinya.
Ketika keranda diangkat ke pemakaman pondok, ke deretan makam para masyayikh di bawah pohon-pohon tua, Fauzan ikut mengantar, dan di situlah air matanya akhirnya jatuh. Bukan tangis meraung. Tangis pelan, tangis seorang anak yang kehilangan ayah keduanya. Ia teringat ayahnya sendiri, Pak Sahal, yang dendam halusnya baru ia lepaskan tahun ini; dan kini, baru saja ia belajar mencintai satu sosok ayah, ia harus melepasnya ke dalam tanah.
Di sampingnya, Kang Soleh berdiri, matanya merah. Ia berbisik, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Fauzan, "Beliau pernah bilang sama saya, Le. Katanya, pondok ini bukan batu bata. Bukan gedung. Kalau besok gedung ini roboh, pondok masih ada, selama masih ada satu santri yang nahan santri lain biar nggak jatuh." Kang Soleh menelan ludah. "Saya baru ngerti maksudnya sekarang."
Tanah ditimbun. Doa dibacakan. Ribuan orang berdiri dalam diam yang panjang di bawah langit kaki gunung yang kelabu. Dan Fauzan, anak yang dulu diantar ke gerbang ini dengan dendam dan ketakutan, berdiri di antara mereka sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya — bukan bangunan, bukan angka, bukan nazar, melainkan rantai panjang tangan-tangan manusia yang saling menahan, yang kini, dengan perginya satu tangan, menjadi tanggung jawab tangan-tangan yang tersisa untuk dilanjutkan.