Surat itu datang pada Burhan di hari Jumat, diserahkan oleh pengurus setelah salat berjamaah, amplop cokelat dengan tulisan tangan tegas dan rapi di mukanya. Fauzan melihat Burhan menerimanya, melihat wajahnya berubah, melihat tangannya yang biasa mantap jadi ragu memegang amplop itu seolah isinya bisa meledak.
"Dari Bapakku," kata Burhan pelan. "Balasannya."
Fauzan tahu surat apa yang dibalas. Berminggu-minggu lalu, ketika ayah Burhan mengabarkan akan menariknya pulang untuk mengurus bisnis keluarga — mengabaikan keinginan Burhan menyelesaikan hafalan — Fauzan-lah yang mendorongnya menulis surat. Bukan surat melawan, bukan surat merengek. Surat jujur. Fauzan ikut menyusun kata-katanya, memakai apa yang ia pahami sendiri tentang ayah dan beban: bahwa kadang seorang ayah membebani anak bukan karena tak sayang, tapi karena tak tahu cara lain menyatakan apa yang ia mau; dan bahwa seorang anak yang berani jujur kadang membuka pintu yang ia kira terkunci. Mereka menulis surat itu bersama, dua anak yang sama-sama berjuang melawan ekspektasi ayah, di sudut perpustakaan, sampai larut.
Surat itu sudah dikirim. Sejak itu, tak ada kabar. Burhan menunggu dalam diam, dan Fauzan tahu — meski Burhan tak mengakuinya — bahwa diamnya ayahnya menggerogotinya tiap hari.
Kini balasannya ada di tangannya.
"Mau aku temani buka?" tanya Fauzan.
Burhan mengangguk. Mereka menyingkir ke belakang asrama, ke tempat sepi di bawah pohon mangga tua tempat santri biasa menjemur sarung. Burhan duduk di akar yang menyembul, membuka amplop dengan hati-hati, mengeluarkan satu lembar kertas terlipat, dan membacanya. Fauzan duduk di sampingnya, tidak ikut membaca, hanya menunggu, memperhatikan wajah Burhan seperti orang memperhatikan langit untuk tahu apakah hujan akan turun.
Burhan membaca lama. Terlalu lama untuk satu lembar surat. Fauzan tahu ia membacanya berulang-ulang. Lalu, perlahan, bahu Burhan yang tegang turun. Tangannya yang memegang kertas itu bergetar, dan ketika ia mengangkat wajahnya, matanya basah — Burhan, yang sombong, yang selalu menjaga gengsi anak juragan, menangis di bawah pohon mangga.
"Dia... " Burhan berhenti, menelan, mencoba lagi. "Bapak bilang aku boleh nerusin. Sampai khatam. Baru habis itu pulang urus bisnis." Ia tertawa, tawa yang campur tangis. "Dia bilang... dia bilang dia nggak tahu hafalan itu penting buat aku. Dia kira aku cuma dititipin biar nggak ngrepotin, terus diam aja nurut. Dia nggak nyangka aku... aku peduli sama ini."
Fauzan diam, membiarkan sahabatnya mengeluarkan semuanya.
"Di sini," Burhan menunjuk satu baris, suaranya pecah, "di sini Bapak nulis: 'Bapak baru tahu kamu bisa nulis sejujur ini. Bapak pikir kamu sudah nggak mau ngomong sama Bapak.'" Burhan menutup matanya, kertas itu dilipatnya ke dada. "Selama ini aku kira dia yang nggak mau ngomong sama aku, Zan. Ternyata dia mikir hal yang sama tentang aku. Kita berdua... kita berdua diam karena sama-sama ngira yang satunya nggak mau."
Fauzan teringat ayahnya sendiri di bawah langit yang sama, teringat tembok yang baru runtuh di antara mereka setelah bertahun-tahun, teringat betapa banyak waktu yang habis karena dua orang yang saling menyayangi tapi sama-sama keras dan sama-sama takut bicara duluan.
"Diam itu yang paling mahal," kata Fauzan pelan. "Aku sama Bapakku diam bertahun-tahun. Aku kira dia jual masa depanku. Dia kira dia kasih aku satu-satunya yang dia punya. Kita sama-sama bener, dan sama-sama salah, gara-gara nggak ada yang mau ngomong duluan." Ia menoleh ke Burhan. "Suratmu itu yang ngomong duluan, Han. Itu yang mahal. Itu yang Bapakmu tunggu tanpa dia tahu dia nunggu."
Burhan mengusap matanya kasar, malu pada air matanya sendiri, lalu tertawa lagi, lebih lega. "Kamu tahu, dulu aku ngancam mau ngelaporin kamu. Inget? Pas kamu pulang dari pasar tangannya kotor lem."
"Inget banget."
"Aku kira kamu musuhku." Burhan menggeleng. "Eh, malah kamu yang ngajarin aku cara dapetin Bapakku balik. Anak tukang sol ngajarin anak juragan soal ayah." Ia menyodorkan tangannya. "Makasih, Zan. Beneran. Aku nggak akan lupa ini."
Fauzan menjabat tangan itu. Di atas mereka, daun mangga bergoyang ditiup angin gunung, menjatuhkan setitik dua titik embun yang tersisa. Dua anak dari dunia yang berbeda — satu dari rumah reyot di pesisir, satu dari rumah besar di kota — duduk berdampingan di bawah pohon, dan keduanya, untuk waktu yang lama, tidak berkata apa-apa lagi. Tak perlu. Persahabatan yang lahir dari permusuhan ini telah tumbuh menjadi salah satu hal paling kokoh yang Fauzan dapatkan di tempat yang dulu terasa seperti penjara — bukti, sekali lagi, bahwa pondok mengubah hidup bukan lewat keajaiban, tapi lewat manusia yang dipertemukan dan diajari saling menahan.