Kabar itu datang lewat telepon umum pondok, di hari ketiga setelah pengumuman hasil, saat Fauzan sedang mengantre di belakang dua santri lain yang menelepon rumah masing-masing. Ketika gilirannya tiba dan ia memutar nomor warung Mbok Inah di kampung — satu-satunya telepon yang bisa dititipi pesan untuk keluarganya — yang mengangkat justru Maryam, kakaknya, seolah ia sudah menunggu di sana.
"Zan?" Suara Maryam terdengar berbeda. Ada sesuatu yang ringan, yang sudah lama tidak ada. "Zan, Ibu udah pulang."
Fauzan menekan gagang telepon lebih rapat ke telinganya. "Pulang? Pulang ke rumah?"
"Kemarin sore. Dokter udah ngebolehin. Katanya pemulihannya jalan terus, asal jaga makan, jaga capek, kontrol rutin. Tapi udah boleh di rumah, Zan. Udah nggak di rumah sakit lagi." Suara Maryam pecah di ujung kalimat. "Ibu udah di rumah."
Fauzan menutup matanya. Di balik kelopaknya ia membayangkan rumah reyot itu — yang pernah ia datangi waktu pulang tiga hari, yang makin miring, yang gentingnya bocor di musim hujan — dan di dalamnya, Ibu, di atas dipan, kembali. Bukan di ranjang besi rumah sakit dengan selang dan bau obat. Di dipan kayu yang berderit, di bawah genting yang ia kenal, dengan dinding bilik yang ia tahu setiap retaknya.
"Ibu bisa ngomong?" tanya Fauzan, suaranya tersangkut.
"Sebentar, ya. Tak panggilin."
Terdengar suara langkah, suara pintu, suara Maryam memanggil pelan. Lalu, setelah jeda yang terasa panjang, sebuah suara yang membuat seluruh tubuh Fauzan terasa hangat dan retak sekaligus.
"Le?" Suara Ibu. Masih lemah, masih serak, tapi hidup. "Fauzan?"
"Iya, Bu," kata Fauzan, dan ia harus berhenti karena tenggorokannya menutup. "Iya, ini Fauzan, Bu."
"Ibu udah di rumah, Le." Ia bisa mendengar Ibu tersenyum lewat suaranya. "Udah bisa masak lagi sedikit-sedikit. Tadi Ibu bikin botok, walau cuma sebentar terus disuruh duduk sama Maryam." Tawa kecil, lalu batuk pelan, lalu tawa lagi. "Kamu gimana di sana, Le? Sehat? Makan teratur?"
"Sehat, Bu. Makan teratur." Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. "Bu, Fauzan... Fauzan lulus, Bu. Evaluasinya lulus. Beasiswanya diperpanjang."
Hening sebentar di ujung sana. Lalu suara Ibu, basah, "Alhamdulillah. Alhamdulillah, Le. Ibu tahu kamu bisa." Jeda. "Kamu khatam, Le?"
Pertanyaan itu. Pertanyaan yang dulu akan membuat dadanya mengencang oleh rasa gagal. Tapi Fauzan sudah berdamai dengan jawabannya, dan ia mengucapkannya tanpa malu.
"Belum, Bu. Belum tiga puluh juz. Fauzan tuntas juz tiga puluh, sama udah masuk separuh juz satu." Ia menarik napas. "Fauzan nggak akan khatam tiga puluh juz secepat yang Bapak janjikan dulu, Bu. Itu... itu nggak mungkin buat Fauzan. Tapi Fauzan nggak berhenti. Fauzan terus."
Ada jeda panjang, dan untuk sesaat Fauzan takut Ibu kecewa. Tapi lalu suara Ibu datang, pelan dan jelas, mengulang kata-kata yang pernah ia ucapkan di tepi ranjang rumah sakit, kata-kata yang menjadi kompas batin Fauzan sepanjang tahun ini.
"Ibu nggak pernah minta kamu jadi hebat, Le. Ibu cuma minta kamu nggak kehilangan dirimu sendiri." Suaranya bergetar. "Dan dari caramu ngomong barusan, Ibu tahu kamu masih jadi anak Ibu. Masih Fauzan. Itu yang penting. Itu aja."
Fauzan menunduk, menutup mata, dan membiarkan air matanya jatuh diam-diam ke lantai semen di samping telepon umum.
Mereka bicara sebentar lagi — soal botok, soal Bapak yang sekarang dapat sedikit order karena ada pabrik kecil buka di kecamatan dan butuh sol sepatu kerja diperbaiki, soal kambing tetangga yang masuk pekarangan. Hal-hal kecil. Hal-hal hidup. Pulsa telepon umum tak banyak, jadi Maryam mengambil alih lagi untuk pamit.
"Zan," kata Maryam sebelum menutup, pelan agar Ibu tak dengar. "Makasih, ya. Uang yang kamu kirim itu... itu yang bikin Ibu bisa sampai operasi. Aku tahu kamu nyol sepatu sampai nggak tidur buat itu. Aku tahu."
"Udah, Mbak. Jangan diomongin lagi."
"Iya. Tapi aku tahu." Suara Maryam tersenyum. "Tangan Bapak nurun ke kamu. Tangan itu yang nyelametin Ibu."
Telepon ditutup. Fauzan berdiri sebentar di sana, gagang telepon masih di tangannya, mendengar nada putus berbunyi panjang. Lalu ia meletakkannya pelan, mengusap wajahnya, dan keluar ke halaman. Sore turun ke kaki gunung, dan untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang ini, dua garis yang selama setahun ini menariknya ke arah berlawanan — hafalan dan keluarga — terasa mulai mengalir ke muara yang sama, tenang, seperti sungai yang akhirnya menemukan lautnya. Di kampung sana, di bawah genting yang ia kenal, ibunya kembali ke rumah. Dan ia, di sini, kembali ke tempat yang perlahan juga menjadi rumah.