Sore datang lambat hari itu, seolah matahari sengaja menggantung lebih lama di puncak gunung untuk menyiksa anak-anak yang menunggu hasil. Fauzan menghabiskan siangnya di sudut koperasi, bukan untuk menenangkan diri — ia sudah tenang — tapi karena tangannya butuh kerja. Ada sepasang sepatu pantofel milik Ustaz Burhanuddin yang solnya menganga, dan Fauzan menambalnya dengan telaten, mengoleskan lem, menjepit dengan klem kayu, menunggu kering. Komar duduk di sampingnya, tak bisa diam.
"Kok kamu santai banget, sih," gerutu Komar. "Aku aja yang nggak ujian deg-degan."
"Kamu emang dari lahir deg-degan, Mar," sahut Fauzan, dan Komar melempar potongan kulit sepatu ke kepalanya.
Menjelang asar, seorang santri kecil berlari dari arah aula, terengah, mencari-cari. "Kang Fauzan! Kang Fauzan! Dipanggil ke aula! Hasilnya udah ditempel!"
Fauzan meletakkan klem kayunya pelan-pelan, mengelap tangan ke celemek, dan berdiri. Ia merasakan, untuk pertama kali sejak pagi, sesuatu mengetat di perutnya — bukan takut, tapi tubuh yang ingat bagaimana rasanya takut, refleks lama yang belum sepenuhnya hilang. Komar menariknya berdiri. "Ayo, ayo, jangan pelan-pelan amat!"
Di depan aula, kerumunan santri berdesakan mengelilingi papan pengumuman. Fauzan tidak mendorong. Ia berdiri di belakang, lebih tinggi dari kebanyakan, dan membaca dari jauh sambil Komar menyikut-nyikut maju mewakilinya.
Daftar nama ditulis tangan, rapi, dengan keterangan di sebelahnya. Mata Fauzan menyusuri kolom nama, melewati Burhan — yang namanya tertera dengan keterangan "Lulus, mumtaz" — terus turun, sampai matanya berhenti.
Fauzan Sahal. Lulus. Beasiswa diperpanjang. Di sebelahnya, dengan tinta yang sama, tertulis: tuntas juz 30, juz 1 sampai pertengahan, kelancaran baik, dianjurkan lanjut.
Komar menjerit lebih dulu. "LULUS! Zan! Kamu lulus! Diperpanjang!" Ia melompat-lompat, memeluk Fauzan dari samping, hampir membuat keduanya jatuh. Beberapa santri menoleh, ada yang tersenyum, ada yang bertepuk tangan kecil. Fauzan berdiri diam, membaca namanya berulang kali seolah takut tulisan itu akan berubah kalau ia berkedip.
Lulus. Diperpanjang. Bukan karena kasihan — keterangannya jelas: kelancaran baik, dianjurkan lanjut. Bukan selamat di ambang seperti tahun lalu. Kali ini ia berdiri di atas tanahnya sendiri.
Ia merasakan matanya panas dan cepat-cepat mengusapnya dengan punggung tangan yang masih bau lem.
Dari arah samping, sebuah suara. "Selamat, Fauzan."
Fauzan menoleh. Ustaz Farid berdiri di sana, tangannya di belakang punggung, wajahnya yang biasa tegas kini melunak. Ustaz Farid — yang dulu memanggilnya untuk evaluasi pertama, yang menegurnya keras saat setorannya mandek, yang mengancam mencabut jadwal kerjanya. Ustaz yang paling tidak yakin padanya.
"Terima kasih, Ustaz," kata Fauzan, menunduk.
Ustaz Farid diam sebentar, lalu berkata, lebih pelan, hampir seperti pengakuan, "Saya dulu salah menilai kamu. Saya kira kamu anak yang cuma cari celah, yang nggak serius, yang dapat keringanan terus malah males. Saya kira... " Ia berhenti, menarik napas. "Saya kira anak yang mulai dari nol seperti kamu nggak akan jauh. Saya keliru. Yang kamu tunjukkan tadi pagi itu — itu bukan keajaiban, itu kerja. Kerja keras yang nggak kelihatan. Saya hormat sama itu."
Fauzan tidak tahu harus berkata apa. Pujian dari Ustaz Farid terasa seperti barang langka yang tak ia tahu cara memegangnya. Ia hanya mengangguk, dan berkata lirih, "Saya cuma nyetor apa yang ada, Ustaz."
"Itu," kata Ustaz Farid, "yang paling susah. Nyetor apa yang ada, dengan jujur, tanpa pura-pura punya lebih." Ia menepuk bahu Fauzan sekali, lalu berlalu.
Malam itu, di kamar tujuh, Burhan menunggunya dengan sekaleng biskuit — kaleng yang sama jenisnya dengan yang dulu ia letakkan diam-diam di rak Fauzan setelah pertengkaran mereka, kaleng yang menjadi awal damai yang canggung di antara mereka. Kali ini ia menyodorkannya terang-terangan.
"Mumtaz, ya," kata Fauzan, menahan senyum. "Sombong lagi nih ceritanya."
"Diam kamu," sahut Burhan, tapi ia tersenyum. "Yang penting kita berdua lanjut. Itu yang penting." Ia membuka kaleng. "Makan. Jangan dikira gratis, besok kamu yang nyimak hafalanku."
Fauzan mengambil sepotong biskuit. Di luar, tadarus malam mulai mengalun dari surau, naik turun seperti dulu, seperti malam pertamanya yang dingin dan sepi. Tapi malam ini kamar tujuh hangat oleh tiga anak yang dulu asing dan kini saling menahan, dan Fauzan, mengunyah biskuit pemberian sahabat yang dulu mengancamnya, menyadari bahwa angka tiga puluh juz yang mustahil itu tak pernah, sekali pun, sepenting ini: namanya, di papan itu, dengan keterangan yang jujur, ditulis dengan tinta yang tak bisa dibantah siapa pun.