Pagi itu langit di kaki gunung bersih, seperti dicuci semalam. Embun masih menggantung di ujung daun pisang ketika santri-santri baru berbaris di depan aula, menunggu giliran dipanggil masuk satu per satu. Fauzan berdiri di antara mereka, kopiah hitamnya rapi, sarungnya disetrika tadarus malam dengan punggung sendok yang dipanaskan di atas lilin — trik lama Komar untuk yang tak punya setrika.
Ia memandang anak-anak di sekelilingnya. Banyak yang gemetar, bibirnya komat-kamit mengulang setoran sampai detik terakhir, dahinya berkeringat meski udara dingin. Setahun lalu, ia salah satu dari mereka. Setahun lalu, di hari ujian setoran besar yang pertama, tangannya gemetar dan kepalanya berkabut karena kurang tidur, dan ia tersendat di ayat-ayat yang sebenarnya sudah ia hafal. Pagi ini ia mencari rasa takut itu di dadanya dan, sekali lagi, hampir tidak menemukannya.
"Fauzan Sahal," panggil seorang ustaz dari ambang pintu.
Ia melangkah masuk. Aula terasa luas dan sunyi. Di depan, di balik meja panjang berlapis taplak hijau, duduk tim asatidz: Ustaz Romli di tengah, Ustaz Farid di sebelahnya dengan buku catatan terbuka, dan dua ustaz penyimak lain yang lebih senior. Kursi Kiai di ujung meja kosong; tikar tipis dan bantal kecil masih disiapkan di sana seolah menunggu, tapi semua tahu beliau terlalu lemah untuk turun dari ndalem hari ini. Kekosongan kursi itu terasa seperti sesuatu yang menekan dada Fauzan, tapi ia menelannya.
Ia duduk bersila di hadapan meja, meletakkan kedua tangannya di atas paha, dan menunduk hormat.
"Mulai dari juz tiga puluh," kata Ustaz Romli pelan. "Surat An-Naas dulu."
Ada yang lucu dalam permintaan itu, dan Fauzan tahu Ustaz Romli sengaja. An-Naas — surat yang dulu membuatnya tergagap dan ditertawakan diam-diam di hari setoran pertama. Surat yang membuatnya pulang ke kamar tujuh dengan telinga panas dan dada penuh amarah pada ayahnya. Ustaz Romli mengingatnya. Tentu beliau mengingatnya.
Fauzan menarik napas. Ia menutup matanya sebentar, bukan untuk mengingat bunyinya, tapi untuk mengingat artinya dulu — perlindungan, dari bisikan yang datang dan pergi di dada manusia. Lalu ia membaca.
Suaranya tidak gemetar. Tidak cepat, tidak dipaksakan. Ia membaca seperti orang yang tahu jalan pulang, mengalir dari satu ayat ke ayat berikutnya, dari An-Naas naik ke Al-Falaq, ke Al-Ikhlas, terus ke atas, melawan arus juz seperti orang berjalan menanjak yang sudah hafal setiap belokan. Sesekali Ustaz Farid mengangkat tangan untuk memintanya berhenti, melompat acak ke surat lain — "Coba 'Abasa, dari ayat sebelas" — dan Fauzan menyambungnya tanpa jeda, seperti sambungan jahitan sol yang rapat.
Ia tahu ia tidak sempurna. Sekali ia salah harakat di Al-Muthaffifin dan langsung dibetulkan, sekali ia ragu sepersekian detik di awal An-Naba'. Tapi ia tidak panik pada keraguannya. Ia berhenti, menarik napas, mengulang dari awal ayat, dan melanjutkan. Kang Soleh dulu mengajarinya itu: tersandung bukan jatuh, asal kau bangun di tempat yang sama.
Juz tiga puluh selesai. Ustaz Romli mengangguk sekali, kecil, tapi Fauzan menangkapnya.
"Lanjut juz satu," kata Ustaz Farid, dan ada sesuatu dalam suaranya yang lebih hati-hati sekarang. "Sampai mana kamu?"
"Sampai ayat seratus empat puluh satu, Ustaz," jawab Fauzan. "Pertengahan."
Ustaz Farid menulis sesuatu. "Baca dari awal Al-Baqarah."
Ini bagian yang berat. Juz satu bukan surat-surat pendek yang berirama. Ayat-ayatnya panjang, sebagian berkelok seperti jalan setapak di sawah, kata-katanya berdekatan dan mirip-mirip sampai gampang tertukar. Inilah tembok yang dulu hampir membuatnya menyerah, yang membuat metode menulis Kang Soleh teruji sampai batasnya. Tapi ia telah menemukan cara baru — memahami dulu apa yang ia baca lewat terjemahan, baru menyandarkan bunyinya pada makna, seperti menggantungkan kunci pada paku yang sudah ia kenal. Ustaz Romli sendiri yang merestui metode itu.
Ia membaca. Alif Lam Mim. Kitab yang tak ada keraguan di dalamnya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Kata demi kata keluar, dan Fauzan tidak sekadar membunyikannya — ia tahu, samar tapi nyata, apa yang sedang ia ucapkan, dan pengetahuan itu menjadi pegangan yang menahannya tetap di jalur. Ayat demi ayat ia lalui, melewati kisah Adam, melewati Bani Israil, melewati ayat-ayat panjang tentang puasa dan kiblat, tersendat dua tiga kali tapi selalu bangun di tempat yang sama, sampai akhirnya napasnya mulai pendek di ayat seratus tiga puluhan dan Ustaz Romli mengangkat tangannya.
"Cukup," kata beliau. "Cukup, Fauzan."
Fauzan berhenti. Aula sunyi. Ia menunduk, menunggu, jantungnya memukul pelan tapi bukan karena takut.
Ustaz Farid menutup bukunya. Ia menatap Fauzan lama, lalu menatap Ustaz Romli, lalu kembali ke Fauzan, dan untuk sesaat tak satu pun dari mereka berkata apa-apa. Fauzan tahu apa yang mereka pikirkan, karena ia juga memikirkannya. Ia tidak mencapai tiga puluh juz. Ia tidak akan pernah mencapainya dalam waktu yang dijanjikan ayahnya. Tapi anak yang dulu tergagap membaca An-Naas baru saja menyetor juz tiga puluh penuh dan separuh juz satu di hadapan empat orang yang biasa menimbang hafalan ratusan santri.
"Sudah," kata Ustaz Romli akhirnya, suaranya datar tapi matanya tidak. "Kamu boleh keluar. Hasil diumumkan nanti sore."
Fauzan membungkuk, mencium tangan keempat ustaz satu per satu, dan berdiri. Di ambang pintu ia berhenti sejenak, menoleh ke kursi kosong di ujung meja, ke tikar dan bantal kecil yang menunggu seseorang yang tak datang. Dalam hati ia berkata, pelan, untuk telinga yang tak ada di sana: sudah saya setor, Kiai. Bukan tiga puluh, tapi semua yang ada pada saya, dengan utuh.
Lalu ia melangkah keluar, ke pagi yang cerah, ke barisan anak-anak yang masih gemetar menunggu giliran, dan udara dingin gunung menyambutnya seperti tangan yang membuka pintu.