Malam sebelum evaluasi, Fauzan tidak menghafal.
Ia sudah memutuskan itu sejak siang. Kang Soleh yang menyarankannya, berkata bahwa ada batasnya menjejalkan kepala, dan bahwa malam terakhir sebaiknya dipakai untuk menenangkan hati, bukan menambah panik. Yang sudah masuk, sudah masuk. Yang belum, tak akan masuk dalam semalam, dan memaksanya hanya akan mengaburkan yang sudah ada. "Tidurlah cukup, Le," kata Kang Soleh. "Kepala yang istirahat ingat lebih baik daripada kepala yang lelah."
Maka malam itu, alih-alih membungkuk di atas mushaf, Fauzan keluar ke teras surau, ke tempat yang sama persis ia duduk hampir setahun yang lalu, di malam pertamanya di pondok ini. Ke teras tempat ia dulu menangis pelan menahan rindu rumah, merasa dibuang, merasa dijual masa depannya, merasa sendirian di tempat asing di kaki gunung yang dingin.
Ia duduk di lantai semen yang sama. Udara malam tetap dingin seperti dulu. Langit tetap bertabur bintang seperti dulu. Dari surau tetap terdengar suara tadarus malam yang mengalun naik turun, seperti dulu. Segalanya sama. Tapi anak yang duduk di teras ini bukan lagi anak yang sama.
Ia menengadah ke langit, dan untuk pertama kali sejak lama, ia mengizinkan dirinya menghitung jaraknya. Bukan jarak hafalan. Jarak dirinya. Dari anak yang tergagap membaca An-Naas dan ditertawakan diam-diam, ke pemuda yang malam ini siap menyetor satu juz penuh dan sebagian juz satu di hadapan tim asatidz. Dari anak yang membenci ayahnya dan memendam dendam halus di dasar perutnya, ke pemuda yang telah memeluk ayahnya di bawah langit yang sama ini. Dari anak yang menyelinap ke pasar dengan rasa bersalah, ke pemuda yang menyol sepatu terang-terangan di koperasi dan mengajari santri lain agar mereka pun bisa menghidupi keluarga. Dari anak yang sendirian, ke pemuda yang ditahan oleh banyak tangan agar tidak jatuh.
Langkah kaki di belakangnya. Fauzan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Burhan duduk di sampingnya, membawa dua gelas teh hangat, dan menyerahkan satu pada Fauzan tanpa berkata apa-apa. Mereka duduk berdampingan, menyeruput teh, memandang bintang.
"Nggak bisa tidur?" tanya Fauzan akhirnya.
"Bisa," jawab Burhan. "Tapi aku lihat kamu keluar, jadi aku ikut." Ia menyeruput tehnya. "Besok hari besar."
"Hm."
"Kamu nggak gugup?"
Fauzan memikirkannya sejenak. Beberapa minggu lalu, pertanyaan itu akan membuat perutnya mengencang. Tapi sekarang ia mencari rasa gugup itu di dalam dirinya dan menemukan, dengan heran, bahwa rasa itu hampir tidak ada.
"Aneh," katanya pelan. "Nggak. Aku nggak gugup."
Burhan menoleh. "Kenapa nggak?"
Fauzan menatap bintang-bintang, mencari kata yang tepat. "Dulu aku gugup karena aku mikir kalau gagal, semuanya hancur. Bapak malu, budi Kiai nggak kebayar, ibu kehilangan nafkah, aku dipulangin. Hasil ujian itu kayak nyangga seluruh hidupku. Wajar gugup." Ia berhenti. "Tapi sekarang nggak begitu lagi. Bapak udah bilang dia bangga, mau aku khatam atau nggak. Kiai udah bebasin aku dari angka nazar. Ibu udah pulih dan pulang. Koperasi jalan, jadi nafkah ada walau aku gagal sekalipun." Ia menoleh ke Burhan. "Jadi besok itu cuma ujian. Bukan hidup atau mati. Aku tinggal nyetor apa yang udah aku punya, dan apa pun hasilnya, aku nggak akan kehilangan apa-apa yang penting."
Burhan terdiam lama, mencerna itu. "Kamu tahu," katanya akhirnya, "dulu aku iri sama kamu. Beneran. Kamu boleh kerja, kamu deket sama Kiai, kamu punya alasan. Aku kira kamu beruntung." Ia tertawa kecil, getir. "Padahal kamu nanggung beban yang aku nggak akan kuat. Ibu sakit, keluarga miskin, nazar yang bukan janjimu. Aku iri sama orang yang sebenarnya lagi tenggelam."
"Dan aku iri sama kamu," balas Fauzan, tersenyum. "Anak juragan, nggak perlu mikir uang, bisa fokus hafalan. Aku kira kamu yang beruntung."
Mereka berdua tertawa pelan, tawa dua anak yang akhirnya saling melihat di balik tembok yang dulu memisahkan mereka.
"Ternyata kita berdua sama-sama nanggung sesuatu," kata Burhan. "Cuma bentuknya beda."
"Ayah," kata Fauzan. "Kita berdua nanggung ayah."
Burhan mengangguk pelan. "Ayah," ulangnya.
Mereka diam lagi, menikmati teh yang mulai dingin dan bintang yang bertabur di atas gunung gelap. Dari surau, tadarus malam terus mengalun. Dan Fauzan, duduk di teras yang sama tempat ia dulu menangis, menyadari bahwa ia telah menemukan sesuatu yang tak ia duga akan ia temukan ketika ayahnya meninggalkannya di gerbang itu: bukan kemenangan, bukan kehebatan, bukan tiga puluh juz, melainkan ketenangan. Ketenangan yang tidak bergantung pada hasil ujian esok, tidak bergantung pada angka, tidak bergantung pada penilaian siapa pun. Ketenangan yang lahir dari mengetahui siapa dirinya dan apa yang ia miliki, dan bahwa apa yang ia miliki, betapapun kecilnya, adalah miliknya yang utuh.
"Burhan," katanya pelan, masih memandang langit.
"Hm?"
"Apa pun yang terjadi besok... aku senang aku di sini."
Burhan menoleh, dan untuk sesaat tidak berkata apa-apa. Lalu ia tersenyum, senyum yang tulus, senyum sahabat. "Aku juga, Zan," katanya. "Aku juga."
Mereka tetap duduk di teras itu sampai larut, dua sahabat di bawah bintang, sementara di balik gunung subuh perlahan menyiapkan diri untuk datang, membawa hari yang akan menguji bukan kehebatan mereka, melainkan ketenangan yang telah mereka temukan dengan susah payah. Dan Fauzan, untuk pertama kali sejak ia berdiri kecil dan ketakutan di gerbang itu, tidak takut pada hari esok.