Dua pekan tersisa sebelum evaluasi, dan kamar nomor tujuh berubah menjadi ruang belajar bersama.
Ini bukan rencana yang dibuat dengan sengaja. Awalnya hanya Fauzan yang menghafal di sudut, menulis ayat-ayat juz satu di kertas, mengulangnya pelan-pelan dengan metode yang sudah ia kuasai: memahami makna dulu, baru menyandarkan bunyi. Tapi suatu malam Komar bergabung, duduk di lantai sambil menyimak, sesekali mengoreksi kalau Fauzan keliru. Lalu malam berikutnya Burhan ikut, membawa mushafnya sendiri, dan tanpa banyak bicara mulai menyimak Fauzan dengan kesungguhan yang dulu tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun selain dirinya sendiri.
Ketiga anak itu, yang dulu terpisah oleh jurang, anak juragan yang sombong, anak tukang becak yang ceria, anak tukang sol yang pendiam, kini duduk melingkar di lantai kamar yang sempit, ditemani lampu dan tumpukan kertas, saling menyimak hafalan satu sama lain. Burhan yang dulu menyindir Fauzan hanya selamat ujian karena dikasihani kini menjadi penyimak yang paling teliti, menangkap tiap kesalahan kecil, tiap huruf yang keliru, dengan kesabaran yang mengejutkan.
"Salah, Zan," potong Burhan suatu malam, ketika Fauzan menyambung sebuah ayat ke ekor ayat yang salah. "Bukan yang itu. Coba ulang dari awal ayat."
Fauzan mengulang, dan kali ini benar. Ia menatap Burhan dengan senyum kecil. "Dulu kamu nyimak aku buat nyari kesalahan biar bisa ngejek. Sekarang buat benerin."
Burhan mengangkat bahu, tapi ujung bibirnya tertarik. "Orang bisa berubah," katanya, mengutip kalimat Fauzan sendiri dari hari ia mengirim surat.
Kabar dari ayah Burhan belum datang. Surat itu masih dalam perjalanan, atau mungkin sudah sampai dan sedang dipikirkan, atau mungkin diabaikan. Burhan memilih tidak terus memikirkannya. Ia telah melakukan bagiannya, telah berkata jujur, dan sisanya bukan lagi di tangannya. Sementara menunggu, ia menggenjot hafalannya sendiri, seolah ingin membuktikan, entah pada ayahnya atau pada dirinya sendiri, bahwa tempat ini layak diperjuangkan.
Kang Soleh sering mampir di malam hari, membawakan singkong rebus atau teh hangat dari dapur, dan duduk menyimak mereka bertiga sambil sesekali memberi nasihat tentang cara menjaga napas saat menghafal ayat panjang, atau cara mengingat ayat yang bunyinya mirip dengan menandai perbedaan kecil di awalnya. Ia tidak pernah menggurui. Ia hanya berbagi apa yang ia pelajari dari bertahun-tahun di pondok, dari hidup yang ia jalani tanpa tempat pulang.
"Kalian tahu," kata Kang Soleh suatu malam, menyeruput tehnya, "dulu aku menghafal sendirian. Nggak ada yang nyimak. Nggak ada yang nemenin. Aku kira itu lebih cepat, lebih nggak ganggu." Ia menatap ketiga anak itu, yang melingkar di lantai. "Tapi sekarang aku lihat kalian bertiga, dan aku sadar aku salah selama ini. Menghafal sendirian itu cepat capeknya. Yang kayak kalian ini, yang saling nyimak, saling benerin, saling nemenin, ini yang bikin tahan lama. Karena waktu satu capek, yang lain masih nyala."
Fauzan mendengarkan, dan ia teringat kata-kata Kiai tentang menghafal sebagai menemani hati. Kang Soleh benar. Ditemani saat menanggung beban membuat beban itu tetap berat, tapi tidak lagi menghancurkan. Itu yang ia pelajari sejak ia tumbang dan dijaga bergiliran oleh Komar dan Burhan dan Kiai. Itu yang dulu ia tolak karena harga diri, dan kini ia terima dengan syukur.
Hari demi hari, hafalan juz satunya bertambah. Tidak secepat Burhan, tapi mantap, dengan ritme yang sehat, tanpa mencuri waktu tidur, tanpa menumbangkan tubuhnya. Ia menyetor sedikit ke Ustaz Romli tiap pagi, dan tiap kali setorannya lebih lancar dari sebelumnya. Ustaz Romli, yang dulu hanya melihat anak yang tergagap, kini menatapnya dengan sesuatu yang menyerupai harapan.
Koperasi tetap berjalan. Fauzan tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru menyol bagi santri-santri miskin, meski jadwalnya ia padatkan demi menyisakan waktu untuk evaluasi. Unit reparasi sepatu yang ia rintis kini berjalan sendiri, dengan beberapa santri yang sudah cukup mahir untuk menangani pesanan tanpa diawasi terus-menerus. Pondok yang dulu terancam memulangkan santri beasiswa kini punya napas tambahan dari usaha kecil itu, dan untuk pertama kali Fauzan merasa keberadaannya di sini bukan sekadar menumpang, melainkan menyumbang.
Suatu malam, menjelang tidur, Komar berbaring di ranjangnya dan berkata pelan ke arah langit-langit, "Zan, dulu malam pertama kamu di sini, kamu nangis. Aku denger. Aku pura-pura tidur, tapi aku denger."
Fauzan terdiam. Ia ingat malam itu, malam pertama di kamar nomor tujuh, ketika rindu rumah mencekiknya dan ia menangis pelan ditemani suara tadarus dari surau.
"Sekarang kamu nggak nangis lagi," lanjut Komar. "Sekarang kamu yang nemenin orang lain. Aku, Burhan, santri-santri yang kamu ajarin nyol. Lucu, ya. Anak yang dulu paling pengen pulang, sekarang malah jadi alasan banyak orang betah."
Fauzan tersenyum di kegelapan, dan tidak menjawab, karena tenggorokannya tiba-tiba penuh. Di luar, dari surau, terdengar santri-santri lain mulai tadarus malam, suara mereka mengalun naik turun, mengisi udara dingin yang turun dari gunung, persis seperti malam pertama itu. Hanya saja sekarang, suara itu tidak lagi terdengar asing dan mencekik. Sekarang suara itu terdengar seperti rumah.