Sepekan kemudian, Kiai dipulangkan dari rumah sakit, tidak karena sembuh, melainkan karena beliau sendiri yang memintanya. Dokter sudah berkata terus terang bahwa yang bisa dilakukan tinggal merawat dan menjaga kenyamanan. Kiai ingin menghabiskan sisa waktunya di pondok, di antara santri-santrinya, di rumah yang ia bangun dari nol bersama almarhumah istrinya bertahun-tahun lalu.
Ndalem yang dulu membuat Fauzan gemetar ketakutan kini menjadi tempat yang dijaga bergiliran oleh santri-santri senior. Bau obat bercampur bau kembang dan kopi memenuhi ruangan. Kiai berbaring di kamarnya, lemah tapi sadar, dan tiap hari ada santri yang menjaga, membacakan Qur'an dengan suara pelan agar beliau bisa mendengarnya sambil beristirahat.
Suatu sore, Ustaz Romli memanggil Fauzan dan berkata Kiai ingin menemuinya. Fauzan masuk ke kamar itu dengan hati yang berdebar, dan menemukan Kiai duduk bersandar di tumpukan bantal, lebih lemah dari saat di rumah sakit, tapi matanya masih jernih.
"Duduk, Le," kata Kiai, menepuk tempat di tepi ranjang.
Fauzan duduk, dan menunggu.
"Aku dengar dari ayahmu," kata Kiai pelan, dan Fauzan terkejut. "Pak Sahal menelepon ndalem kemarin. Dia bercerita soal pembicaraan kalian di telepon." Kiai tersenyum tipis. "Dia menangis di telepon, Le. Dia berterima kasih padaku karena, katanya, anaknya sekarang sudah punya satu juz yang tak bisa dicuri siapa pun."
Fauzan menunduk, tak tahu harus berkata apa.
"Le," lanjut Kiai, dan suaranya, meski lemah, mengandung wibawa yang sama seperti dulu, hanya kini wibawa itu dibalut kelembutan, "aku ingin mengatakan sesuatu padamu, dan aku ingin kamu mendengarnya baik-baik, karena aku tidak tahu berapa lama lagi aku punya kesempatan mengatakannya."
Fauzan mengangkat wajah, dan melihat mata Kiai menatapnya lurus, penuh.
"Sejak hari ini," kata Kiai, "aku bebaskan kamu dari angka nazar itu. Tiga puluh juz dalam dua tahun. Aku, sebagai orang yang kepadanya nazar itu ditujukan, menyatakan bahwa angka itu tidak lagi mengikatmu. Dengar baik-baik: budi ayahmu sudah terbayar. Sudah lunas. Bukan oleh tiga puluh juz, melainkan oleh kesungguhanmu. Oleh hari-hari kamu jatuh dan bangun. Oleh tubuhmu yang sampai tumbang karena menanggung beban yang terlalu besar untuk anak seusiamu. Oleh kejujuranmu pada ayahmu. Oleh tangan kecilmu yang menyelamatkan ibumu."
Fauzan merasakan sesuatu di dadanya, sesuatu yang telah ia pikul begitu lama sampai ia lupa rasanya tanpa beban itu, mulai terangkat. Pelan, seperti kabut yang naik dari lembah ketika matahari mulai hangat.
"Aku menolong ayahmu dulu tanpa pernah meminta balasan," lanjut Kiai. "Itu kewajibanku sebagai manusia. Yang menolong tidak boleh menghitung-hitung. Nazar itu inisiatif ayahmu, lahir dari harga dirinya yang tak sanggup menerima pertolongan dengan ikhlas. Aku menerimanya dulu bukan karena aku menuntutnya, tapi karena menolak nazar seseorang juga bisa melukai harga dirinya. Tapi aku tak pernah, sekali pun, menganggap masa depanmu sebagai jaminan utang." Ia menggenggam tangan Fauzan, genggaman yang lemah tapi hangat. "Kamu bukan pembayar utang, Le. Kamu santriku. Itu beda. Pembayar utang berhenti begitu utangnya lunas. Santri tidak pernah berhenti, karena dia belajar bukan untuk membayar siapa-siapa, melainkan untuk dirinya sendiri."
Air mata jatuh dari mata Fauzan, tapi kali ini bukan air mata beban, melainkan air mata kelegaan yang begitu dalam sampai terasa menyakitkan.
"Mulai sekarang," kata Kiai, suaranya melembut menjadi nyaris berbisik, "kalau kamu menghafal, hafallah untuk dirimu sendiri. Bukan untuk membayar ayahmu. Bukan untuk membayar aku. Bukan untuk menebus apa pun. Hafallah karena kamu ingin punya teman di dadamu untuk hari-hari gelap yang pasti akan datang dalam hidupmu. Itu satu-satunya alasan menghafal yang tidak akan pernah mengkhianatimu."
Fauzan menunduk, menggenggam balik tangan Kiai, dan menangis tanpa malu. Di kamar ndalem yang dulu ia takuti, di samping lelaki tua yang sedang menuju ujung hidupnya, ia merasakan dua sosok ayah dalam hidupnya, ayah kandungnya lewat telepon dan ayah keduanya di ranjang ini, secara bersama-sama melepaskan rantai yang telah membelenggunya sejak ia berdiri kecil dan ketakutan di gerbang itu, hampir setahun yang lalu.
"Terima kasih, Kiai," bisiknya. "Saya akan lanjut. Bukan karena harus. Karena saya mau."
Kiai tersenyum, dan menutup matanya, lelah tapi tenang. "Itu," gumamnya pelan, "itulah yang sejak awal aku tunggu darimu, Le. Bukan tiga puluh juz. Itu."
Ketika Fauzan keluar dari ndalem sore itu, langit telah mulai meredup, dan lampu-lampu pondok menyala satu demi satu seperti malam ketika ia memeluk ayahnya. Tapi sesuatu di dalam dirinya telah berubah selamanya. Ia berjalan ke surau untuk salat Magrib, dan untuk pertama kali, langkahnya terasa benar-benar miliknya, tanpa beban siapa pun di pundaknya, hanya seorang pemuda yang telah belajar memilih jalannya sendiri.