Telepon umum pondok berdiri di pojok dekat kantor, sebuah kotak kayu tua dengan pesawat hitam yang catnya sudah mengelupas. Santri harus mengantre untuk memakainya, dan tiap panggilan dibatasi waktu. Fauzan jarang menelepon karena setiap menit berarti uang yang lebih baik dikirim ke kampung. Tapi pagi itu, sehari setelah keputusannya di teras, ia merasa ada sesuatu yang harus ia katakan langsung ke ayahnya, sesuatu yang tak bisa ditunggu.
Ia menelepon ke warung Pak Kasdi, eh, ke warung tetangga ayahnya di kampung pesisir, satu-satunya tempat yang punya telepon, dan menitip pesan agar ayahnya datang ke sana sore nanti pada jam yang dijanjikan. Lalu sepanjang hari ia menunggu, mengerjakan hafalan dan reparasi dengan setengah pikiran, sampai akhirnya sore tiba dan ia kembali ke kotak kayu itu, memutar nomor dengan jari yang sedikit gemetar.
"Halo?" Suara ayahnya, serak dan ragu, suara orang yang tak terbiasa memegang gagang telepon.
"Pak, ini Fauzan."
"Le!" Ada kelegaan dalam suara itu, juga kecemasan langsung. "Ada apa, Le? Kamu sehat? Ada masalah?"
"Sehat, Pak. Nggak ada masalah." Fauzan menelan ludah. "Cuma... saya ada yang mau ngomong. Penting."
Di seberang sana terdengar suara ayahnya menarik bangku, duduk, bersiap. "Iya, Le. Ngomong."
Fauzan menatap dinding kayu di depannya, mengumpulkan keberanian. Ia telah menyiapkan kata-kata ini sejak semalam, tapi sekarang, dengan suara ayahnya nyata di telinganya, semuanya terasa lebih berat.
"Pak," katanya pelan, "sebentar lagi ada evaluasi besar di pondok. Yang nentuin saya bisa lanjut atau nggak. Dan saya mau jujur sama Bapak." Ia berhenti sejenak. "Saya nggak akan bisa khatam tiga puluh juz, Pak. Nggak dalam dua tahun. Nggak mungkin. Saya baru tuntas satu juz dalam hampir setahun, dan itu pun saya jatuh bangun, sampai tumbang sakit."
Kesunyian di seberang. Fauzan mengeratkan genggamannya pada gagang telepon, hatinya berdebar menunggu reaksi. Ia setengah menyiapkan diri untuk kekecewaan ayahnya, untuk suara yang patah, untuk rasa malu yang akan ia dengar.
"Pak?" panggilnya, takut sambungannya terputus.
"Iya, Le. Bapak dengar." Suara ayahnya pelan, tapi anehnya tidak terdengar kecewa.
"Saya mau tanya, Pak," lanjut Fauzan, dan suaranya bergetar sekarang. "Kalau saya nggak bisa khatam tiga puluh juz... apa itu berarti nazar Bapak gagal? Apa itu berarti budi Kiai nggak terbayar? Apa itu berarti saya... saya mengecewakan Bapak?"
Untuk waktu yang lama tidak ada jawaban, hanya suara samar warung di latar, suara orang berbicara, gemerincing uang receh. Lalu Pak Sahal berbicara, dan suaranya berbeda dari ayah yang dulu mengantarnya ke gerbang. Suara ini lebih tua, lebih lembut, suara orang yang telah belajar sesuatu yang menyakitkan.
"Le," katanya, "dengar Bapak baik-baik. Waktu Bapak bikin nazar itu, Bapak bodoh. Bapak sudah bilang ke kamu malam itu di pondok. Bapak masang angka yang Bapak sendiri nggak ngerti seberapa beratnya. Bapak cuma tahu, tiga puluh juz itu terdengar besar, terdengar pantas buat balas budi sebesar yang Kiai kasih. Bapak nggak pernah hitung berapa lama, berapa susah, berapa harga yang harus kamu bayar. Bapak cuma masang angka yang gede biar Bapak sendiri merasa cukup membalas."
Fauzan mendengarkan, air mata mulai menggenang di pelupuknya.
"Jadi kalau sekarang kamu bilang angka itu mustahil," lanjut Pak Sahal, suaranya pecah sedikit, "itu bukan salahmu, Le. Itu salah Bapak yang masang angkanya. Dan Bapak udah minta maaf untuk itu. Bapak nggak akan nuntut kamu bayar utang yang Bapak sendiri yang ngarang besarannya."
"Tapi Kiai, Pak..."
"Kiai udah lama maafin Bapak, Le. Bahkan Kiai nggak pernah merasa kamu ngutang apa-apa. Itu Bapak yang merasa ngutang. Itu harga diri Bapak yang ngarang nazar itu." Ia menarik napas yang terdengar berat. "Yang Bapak mau dari kamu sekarang, Le, cuma satu. Dan ini bukan tiga puluh juz."
"Apa, Pak?"
"Jangan berhenti. Dan jangan kehilangan dirimu."
Fauzan tertegun. Itu kata-kata ibunya. Persis kata-kata yang ibunya bisikkan di tepi ranjang. Ia tidak tahu apakah ayahnya pernah mendengar ibunya mengucapkannya, atau apakah dua orang tua yang mencintainya itu sampai pada kebijaksanaan yang sama dari jalan yang berbeda. Tapi mendengarnya dari mulut ayahnya, lelaki yang dulu memasang beban itu di pundaknya, terasa seperti rantai terakhir yang dilepaskan.
"Kamu udah tuntas satu juz, Le," lanjut Pak Sahal, dan kali ini ada kebanggaan yang nyata dalam suaranya, kebanggaan yang tak pernah Fauzan dengar sebelumnya. "Anak Bapak, anak tukang sol yang tergagap baca huruf Arab, sekarang udah hafal satu juz penuh di luar kepala. Buat Bapak, Le, itu bukan kegagalan. Itu keajaiban yang Bapak nggak pernah berani harap. Tiga puluh juz itu mimpi Bapak yang ngawur. Satu juz ini... ini nyata. Ini kamu. Dan Bapak bangga, Le. Bapak bangga setengah mati."
Fauzan tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat, dan air mata jatuh membasahi gagang telepon hitam itu. Di seberang, ia bisa mendengar ayahnya juga menahan tangis, dua lelaki keras kepala yang sama-sama tak terbiasa menangis, sama-sama menangis di dua ujung kabel telepon.
"Terima kasih, Pak," bisik Fauzan akhirnya. "Terima kasih."
Ketika ia meletakkan gagang telepon dan keluar dari kotak kayu itu, langit sore berwarna keemasan, dan beban yang ia pikul sejak gerbang itu terasa lebih ringan dari yang pernah ia rasakan. Orang yang dulu memasang angka mustahil itu, dengan tangannya sendiri, telah melepaskannya.