Sepulang dari rumah sakit, Fauzan tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kamar nomor tujuh, memandang langit-langit yang gelap, mendengar napas Komar dan Burhan yang teratur di ranjang sebelah. Tapi kepalanya penuh oleh kata-kata Kiai, dan oleh sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang selama ini ia hindari untuk dipikirkan secara jujur.
Tiga puluh juz. Dua tahun.
Untuk pertama kali, ia memaksa dirinya menghitung dengan kepala dingin, sejujur ia menghitung ukuran sepatu atau takaran lem. Bukan dengan harapan, bukan dengan ketakutan, bukan dengan gengsi nazar. Hanya angka, dilihat apa adanya, seperti ayahnya dulu mengajarinya membaca jangka ukur: yang penting jujur pada apa yang tertera, bukan pada apa yang kamu mau.
Ia sudah hampir satu tahun di pondok. Dalam waktu itu, dengan susah payah, dengan jatuh bangun, dengan tubuh yang sempat tumbang, ia baru menuntaskan satu juz penuh, juz tiga puluh, dan sekarang sedang merangkak masuk ke juz satu. Satu juz dalam setahun, untuk anak yang memulai dari nol, yang tergagap membaca surat pendek, yang lebih fasih huruf di jangka ukur daripada huruf hijaiah. Itu sudah luar biasa untuknya. Ia tahu itu sekarang.
Tapi tiga puluh juz dalam dua tahun? Berarti lima belas juz per tahun. Berarti lebih dari satu juz per bulan, terus-menerus, tanpa henti, tanpa jatuh sakit, tanpa krisis keluarga, tanpa menyol sepatu untuk menafkahi ibu. Itu mustahil. Bukan sulit. Mustahil. Bahkan santri terbaik dengan dasar baca yang kuat butuh tiga sampai lima tahun untuk khatam tiga puluh juz. Dan ia memulai dari bawah nol, dengan beban yang tak dipikul santri lain mana pun.
Dulu, kesadaran ini akan menghancurkannya. Dulu, mengetahui bahwa nazar itu mustahil berarti mengetahui bahwa ia pasti gagal, bahwa budi ayahnya tak akan terbayar, bahwa ia akan dipulangkan dengan malu. Tapi malam itu, dalam gelap kamar nomor tujuh, kesadaran itu datang dengan rasa yang berbeda. Bukan kehancuran. Melainkan semacam kelegaan yang aneh, seperti orang yang akhirnya berhenti berlari mengejar sesuatu yang tak pernah bisa ia tangkap, dan berhenti bukan karena menyerah, melainkan karena akhirnya melihat bahwa yang ia kejar itu bayangan.
Kiai sudah tahu sejak awal itu mustahil. Dan Kiai tidak peduli. Ayahnya bernazar bukan karena yakin ia bisa, tapi karena tak punya apa-apa lain untuk dipersembahkan. Nazar itu lahir dari cinta dan rasa malu seorang lelaki miskin, bukan dari perhitungan yang masuk akal. Maka mengapa ia, Fauzan, harus menghancurkan dirinya mengejar angka yang bahkan orang yang memasangnya tidak benar-benar perhitungkan?
Ia bangkit pelan, mengambil mushaf dari rak, dan keluar ke teras. Udara dini hari menggigit, dan langit penuh bintang seperti malam ketika ia memeluk ayahnya. Ia duduk di lantai semen yang dingin, membuka mushaf di pangkuan, dan untuk pertama kali memandang ayat-ayat itu bukan sebagai tugas yang harus ia tuntaskan dalam jumlah tertentu, melainkan sebagai sesuatu yang bisa ia kerjakan sejauh ia mampu, dengan utuh, tanpa berlomba dengan angka yang mustahil.
Keputusan itu datang pelan, tapi pasti, seperti subuh yang merangkak naik di balik gunung.
Ia tidak akan mengejar tiga puluh juz. Ia tidak akan menghancurkan tubuhnya, tidak akan menumbangkan dirinya lagi, tidak akan menjual hari-harinya demi sebuah angka yang dipasang dari ketidakberdayaan, bukan dari iman pada kemampuannya. Tapi ia juga tidak akan berhenti. Itu beda. Berhenti adalah kalah. Yang akan ia lakukan adalah memilih: menyelesaikan apa yang nyata bisa ia capai dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang utuh, dengan tubuh yang tetap sehat. Juz tiga puluh sudah tuntas. Ia akan masuk sejauh mungkin ke juz satu untuk evaluasi. Dan setelah itu, ia akan terus, tahun demi tahun, juz demi juz, dengan ritme yang manusiawi, dengan napas yang panjang, bukan dengan lari sprint yang akan membunuhnya.
Ia teringat kata-kata ibunya di tepi ranjang. Yang ibu inginkan bukan ia jadi hebat. Yang ibu inginkan ia tidak kehilangan dirinya. Dan ia menyadari, dengan kejernihan yang menenangkan, bahwa mengejar tiga puluh juz mustahil itu justru jalan tercepat menuju kehilangan diri. Tubuh hancur, hati panik, hidup tersedot habis oleh angka. Sementara memilih yang nyata, yang membumi, yang utuh, itulah cara menjaga diri tetap dirinya.
Di balik gunung, langit mulai memucat. Burung-burung pertama mulai berkicau di pohon belimbing. Fauzan menutup mushafnya, menggenggamnya di dada, dan menarik napas dalam-dalam. Beban yang ia pikul sejak gerbang itu belum sepenuhnya terangkat, masih ada evaluasi, masih ada restu yang harus ia dengar dari mulut ayah dan dari mulut Kiai. Tapi di dalam dirinya sendiri, sesuatu telah selesai. Ia telah berdamai dengan kemustahilan. Ia telah memilih yang nyata. Dan untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang ini, ia merasa langkahnya menjadi miliknya sendiri.
Ketika Komar dan Burhan bangun untuk Subuh, mereka mendapati Fauzan sudah duduk di teras, mushaf di pangkuan, wajahnya tenang dengan ketenangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Burhan duduk di sampingnya, memandang langit yang memerah.
"Kamu kelihatan beda, Zan," katanya.
Fauzan tersenyum. "Aku baru saja berhenti ngejar sesuatu yang nggak akan pernah aku tangkap," jawabnya. "Dan anehnya, aku malah merasa lebih dekat ke garis finish."