Kabar itu datang di tengah pengajian Subuh, dibawa angin yang dingin dan suara langkah yang tergesa.
Ustaz Farid masuk ke surau dengan wajah yang membuat seluruh santri terdiam seketika. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Ustaz Romli yang sedang memimpin, dan Ustaz Romli menghentikan bacaannya, menutup kitab pelan, dan berdiri. Suaranya, biasanya tenang, kali ini bergetar tipis.
"Anak-anak," katanya, "Kiai sakit. Tadi malam beliau jatuh di ndalem dan tidak bisa bangun. Dini hari tadi dibawa ke rumah sakit kota."
Surau yang biasa hangat oleh suara tadarus mendadak senyap. Fauzan merasakan sesuatu mengencang di dadanya, sesuatu yang dingin dan asing. Ia tahu Kiai sudah lama renta. Ia sudah lama melihat batuk yang makin berat, tubuh yang makin kurus, langkah yang makin lambat. Ia tahu Kiai menolak berobat demi mengutamakan pondok yang sedang seret dananya. Tapi mengetahui dan melihatnya menjadi nyata adalah dua hal yang berbeda. Dan sekarang, kenyataan itu menampar.
Selama dua hari, pondok berjalan dalam keheningan yang janggal. Pengajian tetap berlangsung, setoran tetap berjalan, dapur tetap menanak nasi, tapi semua dilakukan dengan separuh hati, dengan telinga yang terus menunggu kabar dari kota. Fauzan menyol sepatu di koperasi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ia kerjakan. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya ada di ranjang rumah sakit yang tak bisa ia lihat.
Di hari ketiga, Ustaz Farid mengumumkan bahwa beberapa santri senior diizinkan menjenguk Kiai secara bergiliran. Fauzan tidak menyangka namanya disebut. Ia bukan santri senior. Ia santri baru yang lemah hafalan, yang lebih sering di koperasi daripada di kelas. Tapi Ustaz Romli, yang menyusun daftarnya, memasukkan namanya tanpa penjelasan, dan ketika Fauzan menatapnya bertanya-tanya, Ustaz Romli hanya berkata pelan, "Beliau yang minta."
Rumah sakit kota itu putih dan berbau obat, mengingatkan Fauzan pada rumah sakit tempat ibunya dulu dirawat. Ia masuk ke kamar Kiai dengan langkah hati-hati, hampir tak berani bernapas. Dan apa yang ia lihat membuat dadanya nyeri.
Kiai yang dulu berwibawa, yang dulu membuatnya gemetar di ndalem, kini terbaring kecil di ranjang putih, tubuhnya tenggelam di antara bantal dan selimut, kulitnya pucat, dan ada selang oksigen di hidungnya. Ia tampak begitu rapuh, begitu kecil, begitu manusia, sehingga Fauzan harus menahan air mata yang mendadak naik. Inikah sosok yang dulu ia kira raksasa? Inikah hakim yang dulu ia takuti?
"Fauzan," suara Kiai pelan, nyaris berbisik, tapi matanya terbuka dan ada cahaya yang sama di sana, cahaya orang yang melihat ke dalam. "Kemari, Nak. Duduk."
Fauzan mendekat, duduk di kursi di samping ranjang, dan tidak tahu harus berkata apa. Ia menunduk, menggenggam lututnya sendiri.
"Bagaimana hafalanmu?" tanya Kiai, dan di tengah sakitnya ia masih sempat tersenyum tipis. "Sudah masuk juz satu?"
"Sudah, Kiai," jawab Fauzan, suaranya tercekat. "Tapi berat. Saya tertinggal. Evaluasi tinggal sebulan, dan saya... saya nggak yakin bisa kejar."
Kiai diam beberapa saat, napasnya naik turun pelan di balik selang oksigen. Lalu ia berkata, dengan suara yang harus Fauzan condongkan badan untuk mendengarnya, "Le, kamu tahu kenapa orang menghafal Qur'an?"
Fauzan menggeleng pelan.
"Banyak yang kira supaya pintar. Supaya dihormati. Supaya dapat gelar hafiz, supaya orang tuanya bangga." Kiai menghela napas panjang. "Itu semua bukan inti. Itu kulit. Intinya..." Ia berhenti, batuk pelan, lalu melanjutkan. "Intinya, menghafal itu cara menemani hati. Ada hari-hari di mana hidup begitu gelap sampai kamu nggak tahu mau pegangan ke mana. Harta hilang. Orang yang kamu cinta pergi. Tubuh sakit, seperti aku sekarang." Ia tersenyum lemah. "Di hari-hari seperti itu, yang kamu hafal di dada itulah yang menemani. Bukan untuk dipamerkan. Untuk ditemani."
Fauzan mendengarkan, dan kata-kata itu masuk ke tempat yang dalam, tempat yang selama ini ia tutup rapat dengan ketakutan akan tenggat dan angka dan gengsi nazar.
"Aku tahu nazar ayahmu," lanjut Kiai, dan matanya menatap Fauzan dengan kelembutan yang nyaris membuat Fauzan menangis. "Tiga puluh juz dalam dua tahun. Aku tahu itu mustahil untukmu sejak awal, Le. Aku tahu sejak hari pertama kamu setor dan tergagap baca An-Naas." Ia mengangkat tangannya yang ringkih, dan menepuk punggung tangan Fauzan pelan. "Tapi aku nggak pernah peduli pada angka itu. Yang aku peduli, kamu nggak berhenti. Dan kamu nggak berhenti, Le. Kamu jatuh, kamu bangun, kamu jatuh lagi, kamu bangun lagi. Itu yang aku tunggu. Bukan tiga puluh juz. Itu."
Fauzan tidak bisa menahannya lagi. Air matanya jatuh, pelan, jatuh ke punggung tangan Kiai yang menggenggamnya. Dan di kamar rumah sakit yang berbau obat itu, di samping lelaki tua yang dulu ia takuti dan kini ia cintai seperti ayah kedua, Fauzan merasakan sesuatu yang telah lama menghimpitnya mulai mengendur, seperti tali yang akhirnya dilonggarkan oleh tangan yang dulu mengikatnya.