Mereka mengerjakannya selama tiga malam.
Bukan karena suratnya panjang. Justru karena Fauzan bersikeras suratnya harus pendek, jujur, dan tidak meminta-minta. Ia teringat bagaimana ayahnya luruh bukan karena kata-kata muluk, melainkan karena kebenaran sederhana yang diucapkan tanpa hiasan. Surat yang terlalu memohon, kata Fauzan, akan terdengar seperti anak manja. Surat yang terlalu menentang akan terdengar seperti anak durhaka. Yang dibutuhkan ada di tengah: seorang anak laki-laki yang berbicara kepada ayahnya sebagai orang yang mulai dewasa.
Malam pertama, Burhan menulis dengan kemarahan. Kertasnya penuh kalimat-kalimat yang menuduh ayahnya tidak pernah peduli, tidak pernah hadir, hanya menganggapnya beban yang dititipkan. Fauzan membaca itu, mengangguk, lalu meremas kertasnya pelan.
"Semua yang kamu tulis ini benar," kata Fauzan. "Tapi kalau kamu kirim ini, yang bapakmu baca cuma kemarahanmu, bukan keinginanmu. Dan orang yang dibaca marahnya, dia akan marah balik. Bukan dengar."
Burhan menatap kertas yang teremas itu. "Jadi aku harus pura-pura nggak marah?"
"Bukan pura-pura," jawab Fauzan. Ia berpikir keras, mencari cara mengatakannya. "Marahmu itu bener. Tapi marah itu cuma kulitnya. Di bawahnya ada yang lebih penting. Kamu marah karena apa, Burhan? Coba pikir betul-betul. Bukan marah karena dia mau nariki kamu. Tapi kenapa itu nyakitin?"
Burhan terdiam lama. Lampu di kamar nomor tujuh sudah dimatikan, dan mereka bekerja dengan senter kecil di balik selimut agar tidak ketahuan pengurus. Komar tidur di ranjang sebelah, sesekali mendengkur halus. Akhirnya Burhan bicara, suaranya nyaris berbisik.
"Karena ini pertama kalinya aku punya sesuatu yang aku usahain sendiri. Yang aku raih bukan karena uang bapak. Hafalan ini... ini punyaku. Kapurku sendiri, keringatku sendiri. Dan dia mau ambil itu juga, kayak dia ngambil semua keputusan lain dalam hidupku." Ia menelan ludah. "Aku cuma mau dia lihat aku bisa. Aku mau dia bangga sama satu hal yang bukan duitnya."
Fauzan tersenyum di kegelapan. "Nah," katanya pelan. "Itu yang kamu tulis. Bukan marahmu. Itu."
Malam kedua, surat itu mulai terbentuk. Burhan menulis ulang, dan kali ini kalimatnya berbeda. Ia tidak menuduh. Ia bercerita. Ia menceritakan bagaimana awalnya ia membenci pondok, merasa dibuang, merasa tidak diinginkan. Ia menceritakan bagaimana perlahan ia menemukan sesuatu yang membuatnya bangun pagi dengan tujuan. Ia menulis bahwa ia mengerti bisnis keluarga penting, dan ia berjanji akan belajar mengurusnya, tapi ia memohon waktu untuk menyelesaikan satu hal dulu, satu hal yang akan ia bawa seumur hidup, satu hal yang membuatnya merasa ia bukan sekadar penerus toko melainkan dirinya sendiri.
Fauzan menambahkan satu kalimat di bagian akhir, kalimat yang ia pelajari dari mulut ayahnya sendiri. Ia menyarankan Burhan menulis bahwa hafalan adalah satu-satunya warisan yang tak bisa dicuri maling, tak bisa habis terbakar, tak bisa bangkrut seperti toko. Burhan mengerutkan kening mendengar kalimat itu.
"Itu dari mana?"
"Dari bapakku," jawab Fauzan. "Dia bilang itu ke aku waktu nganter aku ke gerbang dulu. Aku dulu benci kalimat itu. Aku kira itu cuma alasan dia buat ngebuang aku." Ia berhenti, menatap jauh ke gelap. "Tapi sekarang aku ngerti. Buat orang kaya kayak bapakmu, kalimat itu mungkin justru paling ngena. Karena dia tahu betul harta bisa hilang. Dia hidup dari harta yang bisa naik turun. Mungkin dia diam-diam ngerti, ada hal yang lebih awet dari toko."
Burhan menatap kalimat itu lama, lalu menyalinnya.
Malam ketiga, surat itu selesai. Burhan membacanya ulang dari awal, dengan suara pelan di balik selimut, dan ketika ia sampai di akhir, matanya basah. Bukan air mata kesedihan kali ini, melainkan sesuatu yang lebih dalam, semacam kelegaan orang yang akhirnya berhasil mengatakan apa yang selama bertahun-tahun tertahan di dada.
"Kalau dia tetap nolak," kata Burhan, melipat surat itu hati-hati, "setidaknya aku sudah coba."
"Itu yang penting," kata Fauzan. "Bukan hasilnya. Tapi kamu nggak diam. Bapakku bilang ke aku, yang penting kamu nggak berhenti dan nggak kehilangan dirimu. Kamu barusan ngelakuin dua-duanya."
Keesokan paginya, mereka berjalan bersama ke kantor pondok untuk meminta izin mengirim surat lewat pos kecamatan. Di sepanjang jalan setapak yang basah, Burhan memegang amplop itu dengan kedua tangan seolah memegang sesuatu yang rapuh. Fauzan berjalan di sampingnya, diam, tapi kehadirannya cukup.
Di depan kantor, Burhan berhenti sejenak, menatap amplop di tangannya. "Zan," katanya tanpa menoleh. "Dulu aku ngancem mau ngelaporin kamu. Aku jahat sama kamu."
"Aku tahu," jawab Fauzan, dan ia tersenyum kecil. "Tapi kamu juga yang ngirim biskuit ke rakku waktu kita berantem. Kamu juga yang nelpon bapakmu buat bantu operasi ibuku. Manusia itu nggak cuma satu hal, Burhan. Bapakku ngajarin aku itu."
Burhan menatapnya, lalu mengangguk pelan, dan masuk ke kantor untuk menyerahkan suratnya. Fauzan menunggu di luar, di bawah langit pagi yang cerah untuk pertama kali sejak berhari-hari, dan ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya hangat. Ia telah membayar kembali kebaikan Burhan, bukan dengan uang yang tak ia punya, tapi dengan satu-satunya hal yang baru ia kuasai: cara memahami ayah yang keras kepala. Dan entah bagaimana, hal itu terasa lebih bernilai daripada apa pun yang bisa dibeli.