Sepekan kemudian, giliran langit Burhan yang runtuh.
Fauzan baru pulang dari koperasi sore itu, tangannya masih bau lem, ketika ia mendapati kamar nomor tujuh sunyi tidak seperti biasa. Burhan duduk di tepi ranjangnya, punggung membungkuk, menatap selembar surat yang terkulai di tangannya. Wajahnya pucat, dan rahangnya yang biasa terangkat angkuh kini mengeras menahan sesuatu.
"Burhan?" Fauzan meletakkan kotak alatnya pelan.
Burhan tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan surat itu, tangannya sedikit gemetar. Fauzan menerimanya, dan membaca. Surat dari ayah Burhan, ditulis dengan tinta yang tegas dan kalimat yang dingin seperti orang yang terbiasa memberi perintah dan tidak terbiasa dibantah. Isinya jelas: liburan akhir tahun ajaran nanti, Burhan harus pulang untuk seterusnya. Bisnis keluarga sedang berkembang, ada cabang baru yang akan dibuka, dan ayahnya butuh anak laki-laki satu-satunya untuk mulai belajar mengurus usaha. Soal hafalan, surat itu menulis dengan ringan seolah membicarakan cuaca: itu bisa diteruskan sambil bekerja, atau dilupakan saja, toh yang penting masa depan yang nyata, bukan ayat-ayat yang tidak menghasilkan uang.
Fauzan menurunkan surat itu pelan. Ia tahu rasa sakit yang ada di balik kalimat-kalimat dingin itu, karena ia pernah merasakannya sendiri, meski dari arah yang berlawanan. Burhan dipaksa pulang untuk bekerja. Ia dulu dipaksa pergi untuk menghafal. Keduanya sama-sama anak yang masa depannya diputuskan oleh ayah tanpa pernah ditanya apa yang mereka inginkan.
"Aku hampir separuh juz satu, Zan," kata Burhan akhirnya, suaranya serak, masih menatap lantai. "Aku sudah hafal juz tiga puluh penuh. Aku... aku baru saja mulai bisa. Baru saja mulai merasa ini milikku, bukan tempat penampungan supaya aku nggak ngerepotin dia." Ia tertawa pahit. "Dan sekarang dia mau menariku, persis pas aku mulai cinta sama tempat ini. Buat jaga toko. Buat hitung untung. Buat jadi penerusnya."
Fauzan duduk di sampingnya. Ia teringat bagaimana dulu Burhan memergokinya pulang dari pasar dengan tangan kotor lem dan mengancam akan melapor. Dulu mereka musuh. Dulu Burhan adalah anak juragan sombong yang menyindirnya hanya selamat ujian karena dikasihani. Tapi itu sudah lama. Sejak Burhan membuka diri soal ayahnya yang menjadikan pondok sebagai tempat penitipan, sejak Burhan diam-diam meletakkan biskuit di raknya, sejak Burhan menghubungi ayahnya sendiri untuk membantu pengobatan Ibu, segalanya berubah. Burhan kini sahabatnya. Dan sahabatnya sedang jatuh.
"Kamu sudah bilang ke bapakmu kalau kamu mau lanjut?" tanya Fauzan pelan.
Burhan menggeleng. "Buat apa? Dia nggak pernah dengar. Sejak kecil, apa yang dia putuskan, ya itu yang jadi. Aku ke pondok ini juga bukan karena dia mau aku jadi hafiz. Dia cuma nggak tahu mau ditaruh di mana aku, jadi dititipkan di sini biar nggak ganggu kerjanya." Suaranya bergetar. "Dan sekarang aku ganggu lagi karena aku malah betah."
Fauzan diam sejenak, mencari kata yang tepat. Ia bukan orang yang pandai bicara. Tapi ia tahu satu hal, dan hal itu baru saja ia pelajari dengan susah payah dari ayahnya sendiri.
"Burhan," katanya, "bapakku juga begitu. Aku dulu yakin dia keras kepala, kejam, nggak peduli sama maumu. Aku benci dia karena ngirim aku ke sini buat bayar nazar yang bukan janjiku. Berbulan-bulan aku pendam itu." Ia menarik napas. "Tapi waktu dia datang, dan kami akhirnya bicara betul-betul, ternyata dia bukan kejam. Dia cuma nggak tahu cara lain. Dia takut, dia malu, dan dia ngambil keputusan yang salah karena dia nggak punya cara yang benar buat nunjukkin maunya."
Burhan mengangkat wajah. "Maksudmu bapakku juga begitu?"
"Aku nggak tahu bapakmu," jawab Fauzan jujur. "Tapi aku tahu, selama kamu nggak pernah bilang apa maumu, dia cuma akan nebak. Dan tebakan orang tua tentang anaknya hampir selalu salah. Bapakku nebak aku akan bangga dengan nazar itu. Salah besar. Bapakmu mungkin nebak kamu nggak peduli sama pondok ini, makanya gampang aja dia tarik. Juga salah. Tapi dia nggak akan pernah tahu salahnya kalau kamu diam terus."
Burhan menatapnya lama. "Kamu pikir kalau aku bilang, dia akan berubah?"
"Aku nggak janji," kata Fauzan. "Bapakku berubah, tapi butuh dia menangis dulu, butuh dia lihat aku jatuh sakit dulu. Nggak ada yang gampang. Tapi yang pasti, kalau kamu diam, jawabannya sudah pasti: kamu pulang, hafalanmu berhenti, dan kamu nyesel seumur hidup karena nggak pernah coba." Ia menatap Burhan lurus. "Kamu dulu nolongin aku waktu aku terjepit, padahal kita belum benar-benar baikan. Sekarang giliranku. Aku nggak punya uang, nggak punya bapak kaya. Tapi aku punya satu hal yang baru aku pelajari: cara ngomong sama ayah yang keras kepala."
Untuk pertama kali sejak menerima surat itu, ada sesuatu yang berubah di wajah Burhan. Bukan harapan penuh, masih ada keraguan di sana, tapi setidaknya rahangnya yang tegang mulai mengendur, dan matanya tidak lagi sepenuhnya kosong.
"Bagaimana caranya?" tanya Burhan pelan.
Fauzan tersenyum, dan menarik selembar kertas kosong dari laci mejanya, kertas yang biasa ia pakai menulis ayat. "Kita tulis surat. Tapi bukan surat yang dingin kayak punya bapakmu. Surat yang jujur. Yang nunjukkin kamu betul-betul mau ini, bukan cuma kabur dari tanggung jawab." Ia meletakkan kertas itu di antara mereka. "Aku bantu. Aku nggak pintar bahasa, tapi soal ngomong sama ayah, aku baru aja lulus ujiannya."
Burhan menatap kertas kosong itu, lalu menatap sahabatnya, dan untuk pertama kali sejak sore yang kelabu itu, ia mengangguk.