Hari ketiga, Fauzan menyadari bahwa Kang Soleh tidak melebih-lebihkan. Juz satu memang berat. Berat dengan cara yang berbeda dari semua yang pernah ia hadapi.
Surat-surat pendek di juz tiga puluh seperti potongan kayu kecil yang bisa ia genggam satu-satu, ia raut, ia susun. Tiap surat punya bentuk yang khas, panjangnya pas, dan kalau ia selesai satu, ia bisa merasakan kemajuan yang nyata. Tapi Al-Baqarah tidak punya ujung yang bisa ia bayangkan. Ayat-ayatnya panjang, bersambung, kadang satu ayat sepanjang setengah halaman, dan banyak yang bunyinya mirip-mirip sehingga ia keliru, menyambung ayat yang satu ke ekor ayat yang lain, tersesat di tengah jalan tanpa tahu di mana ia berada.
Malam itu ia duduk di perpustakaan sampai lampu dimatikan, kertas-kertas berserakan di mejanya, penuh coretan dan tanda. Ia menulis ayat demi ayat dengan tangannya sendiri, seperti yang diajarkan Kang Soleh, karena tangannya lebih cepat ingat daripada matanya. Tapi kali ini bahkan tangannya kewalahan. Ia menulis satu ayat panjang, mengulangnya sepuluh kali, dua puluh kali, dan begitu ia pindah ke ayat berikutnya, ayat yang tadi sudah hilang dari kepalanya seperti air yang lolos dari genggaman.
"Susah, ya?" Komar duduk di seberang meja, menyangga dagu dengan tangan. Ia ikut menemani meski hafalannya sendiri sudah ia setor sore tadi.
Fauzan mengusap wajahnya yang lelah. "Kayak nimba air pakai keranjang, Mar. Diisi penuh, sampai atas bocor lagi."
Komar terkekeh. "Tapi keranjang yang sering dipakai nimba, lama-lama seratnya rapat sendiri. Bapakku dulu bilang gitu soal jaring ikannya. Makin sering basah, makin nggak gampang lolos."
Fauzan tersenyum tipis mendengar perumpamaan itu. Anak-anak pesisir seperti mereka memang punya cara sendiri memahami dunia, lewat benda-benda yang mereka pegang sehari-hari. Tapi malam itu perumpamaan pun terasa kurang. Ia menatap halaman yang masih panjang membentang, ayat demi ayat yang belum tersentuh, dan untuk sesaat keputusasaan lama menjalar naik dari perutnya. Mungkin ayahnya benar dulu. Mungkin ia memang lebih cocok membaca jangka ukur daripada huruf Arab. Mungkin kepalanya memang tidak dibuat untuk ini.
Ia menggeleng keras, mengusir pikiran itu.
Keesokan harinya ia menemui Kang Soleh dan mengakui kebuntuannya. Kang Soleh mendengarkan, mengangguk-angguk, lalu mengajaknya ke gudang belakang perpustakaan tempat kitab-kitab tua disimpan. Di sana, di antara debu dan bau kertas lapuk, Kang Soleh menarik sebuah mushaf besar dengan terjemahan di bawah tiap ayat.
"Kamu hafal juz tiga puluh dengan cara mengaitkan ke benda," kata Kang Soleh. "Itu bagus untuk ayat pendek. Tapi ayat panjang nggak bisa cuma dikaitkan ke benda. Harus dikaitkan ke makna. Kamu harus tahu ayat ini ngomong apa, supaya kepalamu punya gantungan untuk menyangkutkan bunyinya."
Fauzan mengernyit. "Tapi saya nggak ngerti bahasa Arab, Kang."
"Makanya pakai ini." Kang Soleh menunjuk terjemahan di bawah ayat. "Bukan buat jadi ulama. Cuma buat tahu, oh ayat ini cerita tentang orang yang berpura-pura beriman. Oh ayat ini tentang sapi betina. Kalau kepalamu tahu ceritanya, dia punya tempat menaruh bunyinya. Kayak kamu nyimpan sepatu di rak. Tiap pasang punya tempatnya, jadi nggak ketuker."
Malam itu Fauzan mencoba cara baru. Ia tidak langsung menghafal bunyinya. Ia baca dulu terjemahannya, pelan-pelan, sampai ia paham ayat ini sedang menceritakan apa. Ia bayangkan adegannya, seperti membayangkan orang-orang di pasar. Ada yang munafik, yang di depan bilang iman tapi di hati ingkar, seperti pedagang yang di depan ramah tapi mengurangi timbangan. Begitu ia punya gambaran, bunyi ayatnya tiba-tiba punya tempat untuk bersandar. Ia mengulang, dan kali ini ayat itu tidak lolos secepat kemarin. Ia mengulang lagi, dan ayat berikutnya menyambung lebih mudah karena ia tahu ceritanya berlanjut.
Ia tidak menjadi cepat dalam semalam. Jauh dari itu. Tapi untuk pertama kali sejak masuk juz satu, ia merasakan keranjang yang bocor itu mulai menahan air sedikit lebih lama.
Hari-hari berikutnya menjadi rutinitas yang keras. Bangun sepertiga malam, menulis, membaca makna, mengulang. Pagi setor sedikit ke Ustaz Romli. Siang menyol sepatu di koperasi dengan jadwal yang sekarang lebih tertib. Sore mengajari Komar dan dua santri lain menambal sol. Malam kembali ke kertas dan mushaf. Tubuhnya lelah, tapi tidak selelah dulu, karena kali ini ia tidak mencuri-curi waktu dengan rasa bersalah. Semua tertib, semua jelas, dan justru karena tertib, ia bisa menahannya.
Ustaz Romli memperhatikan perubahan itu. Suatu pagi, setelah Fauzan menyetor satu halaman juz satu dengan tersendat tapi tuntas, Ustaz Romli menutup mushafnya dan menatap Fauzan agak lama.
"Kamu pakai terjemahan, ya?" tanyanya.
Fauzan tertegun, mengira ia akan ditegur karena cara yang tidak lazim. "Iya, Ustaz. Maaf kalau..."
"Tidak apa-apa," potong Ustaz Romli, dan ada secercah kehangatan di matanya. "Setiap orang punya jalan masuk yang berbeda ke rumah yang sama. Yang penting kamu masuk, bukan dari pintu mana." Ia berhenti sejenak. "Hafalanmu masih tersendat, tapi sekarang kamu paham apa yang kamu baca. Itu lebih berharga daripada cepat tapi kosong."
Fauzan keluar dari ruang setoran dengan dada yang sedikit lebih lapang. Juz satu masih berat. Tembok itu masih tinggi. Tapi sekarang ia tahu ada celah yang bisa ia panjat, sejengkal demi sejengkal, dan empat puluh hari yang tadinya terasa seperti vonis kini terasa seperti pekerjaan yang bisa, dengan susah payah, ia kerjakan.